Rabu, 16 September 2009

Tumbuhan Pulai

Pendahuluan

Pulai banyak pula tumbuh di daerah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Kalimantan, dan daerah lainnya. Nama tumbuhan ini : Pulai. Nama lain : Pelawi (Lubai), Pule (Jawa), Nama ilmiah : Alstonia Scholaris (L.) R.Br). 

Karakteristik Tumbuhan

Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger

Ciri dari Pulai jenis ini adalah berupa pohon besar dengan diameter mencapai 100 cm bahkan bisa lebih, dan tingginya bisa mencapai 40-50 m. Tumbuhan ini mempunyai banir serta berakar lutut, dengan batang bergalur , berwarna abu-abu sampai ke putih. Permukaan batang halus sampai bersisik, kulit bagian dalam sangat tebal dan halus, mempunyai warna orange sampai kecoklatan, granular, mempunyai getah yang sangat melimpah. Daun yang dimiliki tumbuhan ini adalah tunggal dan tersusun secara vertikal di ujung ranting. Bentuk daun oval atau ellips (ellipticus), dengan pangkal agak lancip (cuneate), ujung bundar atau membusur (rounded), permukaan daun licin atau tidak berbulu (glabrous). Pertulangan daun sejajar, warna daun bagian bawah keputihan dengan ukuran 8 – 12 cm x 3 – 5 cm. Bunga berwarna putih, berukuran kecil di terminal; buah capsule berpasangan, panjang sekitar 25 – 30 cm, permukaan buah licin sampai kasar (glabrous sampai pubescens).

Alstonia spatulata Blume

Ciri fisik tumbuhan dari jenis ini mempunyai ukuran kecil sampai dengan sedang dengan diameter bisa mencapai 75 cm dan tingginya sampai 20 – 30 m. Batang dari jenis ini berbentuk silindris, beralur, berwarna abu-abu dan halus; kulit bagian dalam berwarna kuning pucat dengan getah putih yang melimpah. Komposisi daun tunggal, tata daun vertikal, bentuk pada bagian ujung daun bundar atau membusur besar (rounded), sedangkan pangkal daun agak lancip (cuneate) yang berhenti pada ranting. Daun muda berwarna merah, dengan ukuran daun berukuran antara 4 – 6 cm x 7 – 10 cm. Permukaan daun glabrous (licin dan tak berbulu) dengan pertulangan daun menyirip sejajar. Bunga berukuran kecil, berwarna putih, memiliki ukuran panjang sekitar antara 4 – 7 cm. Buah seperti kapsul, kondisi berpasangan, dengan ukuran panjang antara 18 – 20 cm.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Ciri – ciri dari pohon ini memiliki tinggi bisa mencapai lebih dari 40 m. Batang pohon tua beralur sangat jelas, sayatan berwarna krem dan banyak mengeluarkan getah berwarna putih. Daun tersusun melingkar berbentuk lonjong atau elip. Panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna krem atau hijau, pada percabangan, panjang runjung bunga lebih dar 120 cm. Buah berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm, berisi banyak benih.

Kegunaan dan Khasiat

Pohon pulai mengandung banyak getah. Getah berwarna putih, rasa getahnya sangat pahit. Rasa pahit itu didapatkan pula dari akar, kulit batang dan daunnya. Pada bagian pohon ini terdapat bahan yang sudah diketahui antara lain alkaloida berupa ditamine, ditaine, dan echi-kaoetchine. Pada kulit batang terdapat kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Sedangkan untuk zat pahitnya terdapat kandungan echeretine dan echicherine.

Dari kandungan kimia yang terdapat didalamnya, pulai sering pula digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini memiliki sifat antipiretik, anti malaria, antihipertensi serta anti andenergik dan melancarkan saluran darah. Penggunaan kandungan ini bisa berasal dari akar, kulit batang , daun dan getah pulai dapat dijadikan obat nyeri (di sisi dada atau karena tusukan) jika dikunyah bersama pinang dan ampasnya dibuang. Akarnya juga obat tukak didalam hidung, mengobati koreng dan borok.

Kulit batang pulai bermanfaat untuk mengatasi demam, hipertensi, tonikum, ekspektorant, perut kembung, ginjal membesar, demam nifas, hemoroid dan sakit kulit. Cara penggunaanya adalah dengan merebus kulit batang pulai yang dicampur dengan bahan lainnya. Air rebusannya itu disaring dan diminum sekaligus. Penggunaan getahnya dapat pula berkhasiat untuk mengatasi koreng, borok pada hewan, bisul dan kecacingan (kremi). Untuk mengatasi penyakit tersebut, getahnya dicampurkan dengan bahan lain.

Daunnya pun punya manfaat yang banyak. Dengan merebus daun pulai dan bahan lainnya bisa mengobati sifilis, beri-beri, sakit usus, cacing, disentri, diare menahun, diabetes dan malaria, jenis pulai yang sering digunakan adalah pulai waluh.

Penutup

Kayu Pulai mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bekhasiat untuk pengobatan tradisional. Tanaman ini tidak sulit pemeliharaannya. Untuk di Kecamatan Lubai sangat cocok untuk ditanam sepanjang jalan lintas sumatera sebagai peneduh jalan, sepanjang daerah aliran sungai Lubai sebagai penahan erosi, tanah rawa-rawa yang bergambut sebagai pemanfaatan lahan tidur, lahan perkebunan karet yang kurang produktif sebagai tanaman selingan dan pada hutan muda sebagai pertanian pola polikultur.

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Inspirasi Perantau

Pendahuluan 

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi serupa susu (dikenal sebagai lateks) dari getah beberapa jenis tumbuhan, tetapi dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari lateks yang digunakan untuk membuat karet adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung.

Tumbuhan lainnya yang menghasilkan lateks di antaranya adalah anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis lain, suku ara-araan atau Moraceae) sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. 

Pertanian Karet di Lubai

Nenek Moyang  masyarakat Lubai membudidayakan Karet dalam bahasa Lubai disebut Balam sejak berabad-abda silam. Mereka membudidayakan tanaman ini masih sangat sederhana belum ada sentuhan teknologi modern. Pada saat itu bibit langsung diambil dari buah biji karet tanpa melihat apakah itu bibit unggul yang banyak getahnya atau tidak. Mereka belum menggenal istilah persemaian bibit, karena biji-biji karet tersebut langsung ditanam ke lahan pertanian. Cara penanaman Karet tidak menggunakan alat seperti Cangkul dan Tembilang, melainkan biji buah karet langsung ditanam dengan cara melubangi tanah menggunakan kayu yang telah dibuat runcing dalam bahasa Lubai disebut Tugal.

Beberapa generasi Lubai bertani karet dengan cara tradisional yaitu tanpa pembenihan bibit, pola tanam yang tidak teratur, pola pemeliharaan tidak ada. Pada masa itu petani karet hidup dibawah garis kemiskinan, kecuali petani yang mempunyai lahan pertanian luas. Pada era tahun 2002 seiring dengan program pemerintah di desa Jiwa Baru melaksanakan program peremajaan karet rakyat. Masyarakat diarahkan untuk mengikuti program ini, sehingga kebun karet tua dan hutan muda dibabat untuk dijadikan kebun karet dengan program peremajaan karet rakyat.

Masyarakat Lubai menikmati hasil pertanian karet mencapai puncak pada tahun 2006 sampai dengan 2008, ketika itu harga karet di desa Jiwa Baru mencapai harga Rp. 13.500 per kilo gram. Tingkat perekonomian masyarakat meningkat, pola hidup berubah. Kendaraan roda dua rata-rata setiap rumah memiliki 2 (dua) unit. Alat komunikasi seperti Handphone rata-rata setiap rumah memiliki 2 – 4 buah. Pembangunan rumah tempat tinggal sudah mengikuti gaya perkotaan yaitu dibangun dengan permanent. Namun kejayaan pertanian karet Lubai, berakhir karena kena imbas krisis global.

Inspirasi perantau Lubai

Inspirasi yang saya tulis ini hanya sebuah renungan belaka, bukan suatu kajian ilmiah. Ada jenis 3 (tiga) pohon yang menghasilkan getah yaitu Karet ”Hevea brasiliensis”, Beringin ” Ficus benjamina” dan Pulai ”Alstonia scholaris”. Ketiga jenis kayu mempunyai sifat yang sama, sehingga dapat lakukan okulasi pada tiga jenis pohon ini.

Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan/perkawinan secara vegetatif dengan menempelkan kulit batang yang satu ke batang lainnya. Okulasi hanya bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki kambium/kulit ari. Teknik perbanyakan/perkawinan vegetatif maksudnya adalah teknik perbanyakan/ perkawinan tanaman yang tidak berlangsung secara alami tapi melalui bantuan/intervesi manusia.

Pada tanaman karet, okulasi dilakukan dengan menempelkan kulit batang yang memiliki mata tunas (entres) dengan batang karet lainnya (batang bawah). Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari karet yang rentan terhadap penyakit dan memiliki pertumbuhan akar yang baik. Bahan dan peralatan pendukung yang dibutuhkan pada saat okulasi adalah, batang atas (entres), batang bawah, pisau okulasi, plastik okulasi, asahan dan kain lap.

Ilustrasi pertama :

Okulasi pohon karet dengan pohon beringin. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon beringin. Pilihlah pohon beringin yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pohon beringin berkembang biak secara genetatif melalui biji yg ada pada buahnya. Kalau kita lihat buah beringin hanya sebesar biji kacang tanah. Jika ini dibelah, didalamnya terdapat ribuan butir biji-biji kecil yg besarnya sama dengan sebutir pasir halus di pantai. Sangat sangat kecil. Dari biji kecil inilah tumbuh sebuah pohon beringin yang hidupnya bisa mencapai umur ratusan tahun. Batangnya kokoh, daunnya lebat dan rindang yg mampu memberikan rasa teduh bagi yg berada dibawahnya. Tinggi pohon dapat mencapai 30 – 35 meter dan berdiameter 40 – 70 cm.

Dari hasil okulasi pohon karet dan beringin diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon beringin, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 5 -7 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Ilustrasi kedua :

Okulasi pohon karet dengan pohon pulai. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon pulai. Pilihlah pohon pulai yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pulai dalam bahasa Lubai disebut ”pelawi” termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai.

Dari hasil okulasi pohon karet dan pulai diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon pulai mencapai ketinggi 25 meter dan diameter 60 cm, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 3- 5 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Penutup

Inovasi dibidang pertanian karet mestinya dicoba. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Okulasi pohon karet dan ketela pohon menghasil varitas baru yaitu ketela pohon karet, yang dikenal juga ubi kayu karet. Ubi karet menghasil umbi-umbi besar namun tidak dapat dijadi bahan makanan karena umbi-umbi tersebut sifat keras seperti akar karet. Pucuk muda ubi karet dapat dijadikan sebagai lalap-lalapan makan. Jika ubi kayu karet di okulasi dengan ubi kayu maka akan menghasilkan ubi kayu yang menghasilkan umbi yang besar-besar.

Okulasi pohon karet dan pohon beringin akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak, begitupun hasil daripada Okulasi pohon karet dan pohon pulai akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak.

Tulisan ini merupakan apa melintasi dipikiran penulis, tanpa melalui penelitian terlebih dahulu. Maka sebab itu, informasi yang pada tulisan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

Pertanian Tradisional

Pendahuluan

Dunia pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas. Keberhasilan diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan. Semakin banyak, semakin dianggap maju. Pertanian modern adalah suatu kegiatan usaha bidang pertanian yang mengoptimal segala aspek pendukung seperti kapital, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kapital atau modal usaha yang besar seorang petani modern akan mudah untuk memujudkan impiannya menjadi petani yang sukses. Petani yang memiliki modal yang besar akan mencari lokasi lahan pertanian yang luas dan mudah dijangkau dengan kendaaraan roda empat, mengurus perizinan pembukaan lahan dengan lengkap, memilih teknologi yang tepat dengan tepat guna dan berdaya guna, merekrut tenaga manusia yang mempunyai kompetensi sesuai dengan kebutuhan.

Pertanian tradisional adalah suatu kegiatan usaha bidang pertanian yang menggunakan modal usaha terbatas, menggunakan teknologi sederhana, sumber daya manusia yang direkrut tidak mempertimbangkan kompetensi yang dimilikinya. Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit.  Ekstensifikasi pertanian adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut.

Pola Pertanian Masyarakat Lubai

Kecamatan Lubai (Desa Baru Lubai dan Kurungan Jiwa), tempat kelahiran penulis suatu wilayah di kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. Jarak tempuh dari kota Muara Enim lebih kurang 90 KM dan dari kota Palembang lebih kurang 120 KM. Kondisi geografisnya merupakan gugusan dataran rendah, yang dengan sumber daya alam seperti Batu Bara dan Minyak Bumi. Pola pertanian Masyarakat Lubai yang secara geografis berada di pulau Sumatera kebanyakan masyarakat di perkampungan bertani tanaman keras dengan cara yang amat tradisional yaitu bertani dengan pola sub sistem atau dengan kemurahan alam. Di Indonesia baik pulau Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan maupun Papua, pertanian tanaman keras yang diwariskan oleh generasi sebelumnya memiliki pola yang hampir sama, yaitu sub sistem.

Pola bertani ini biasanya menggunakan cara dengan menanam tanaman seperti durian, duku, kemiri, pinang, pisang, asam gelugur, manggis, kemang, cempedak, kecapi, rambai, tampui, aren (secara alami tumbuh sendiri, dibiakkan oleh hewan liar seperti musang), dan lain-lain. Diantara tanaman tersebut, banyak juga tanaman yang sudah ada di lahan karena diwariskan oleh nenek moyang. Pola bertani secara tradisional tersebut sesungguhnya sangat bersahabat dengan alam, arif dan mendukung ekosistem, sebab dengan dengan tanaman yang berbagai jenis di kebun petani akan memelihara berbagai macam hewan tetap hidup karena ketersediaan rantai makanan untuk flora dan fauna yang hidup didalamnya terjaga.

Pola Pertanian Polikultur

Polikultur berasal dari kata poly yang artinya banyak dan culture artinya tanaman. Secara harfiah polikultur berarti model pertanian dengan banyak jenis tanaman pada lahan yang sama. Polikultur bukan berarti model pertanian gado-gado atau juga bukan merupakan tumpang sari, karena model tumpang sari hanya dikenal pada pertanian tanaman semusim. Model pertanian polikultur berbasis pada tahapan dari tahun ke tahun kondisi ekosistem akan lebih baik. Tanaman yang dikembangkan dan kondisi alamnya akan lebih sempurna dan stabil. Selain itu apabila tanaman kerasnya sudah mencapai usia maksimal dan tidak produktif lagi, diameter batangnya sudah sangat besar maka akan menguntungkan petani untuk menebang dan menjual kayunya yang tentunya bernilai ekonomis sangat tinggi.Polikultur akan memadukan berbagai teknologi budidaya yang diselaraskan dengan penology tanaman yang ada dan aspek lokal dan kelestarian sumberdaya alam yang ada. Nenek moyang masyarakat Lubai telah mewariskan pola pertanian polikultur, seperti ada kebun buah-buahan dalam bahasa Lubai disebut “gugok buah-buahan” durian, cempedak, kemang, duku dan sebagainya.

Pola Pertanian Monokultur

Generasi muda Lubai, dengan berbagai aspek pertimbangan telah beralih dari Pola pertanian Polikultur ke Pola pertanian monokultur. Tanam tumbuh nenek moyang seperti kebun buah-buahan ditebangi, hutan rimba dibuka menjadi lahan pertanian kebun Karet dalam bahasa Lubai “bekebun balam”. Berdasarkan pengamatan penulis pada bulan Agustus 2008 di desa Jiwa Baru Kec. Lubai Kab. Muara Enim Prov. Sumatera Selatan, Pohon besar yang tumbuh secara alami dan tanam tumbuhan ditanam nenek moyang telah habis ditebangi. Yang sangat memperihatinkan adalah masyarakat Lubai tinggal dipedasaan yang lahan pertanian berlimpah, akan tetapi untuk kebutuhan hidup sehari-hari harus membeli dari pedagang. Saat ini mereka telah sungkan untuk bertani padi “beume padi dahat”, menanam sayur-sayuran. Waktu mereka banyak tersita kepada bertani Karet.

Bagaimana Kembali Pola Polikultur?

Masyarakat yang bertani dengan pola monokultur dapat kembali ke pola polikultur. Setelah ada musyawarah awal antar anggota keluarga, petani pola monoklutur seperti kebun karet, harus memulai pemetaan lahan yang dimilikinya. Berapa luas kebuh karet yang masih lama  masa produktif, kebon yang sebentar lagi masa produktif dan berapa luas lahan pertanian padi darat.Setelah didapatkan gambar luas kebun karet dan lahan pertanian padi, maka harus diputuskan lahan mana yang akan dijadikan pola pertanian polikultur. Jadi jika tanaman karet yang masa produktif sebentar lagi hendak dikembangkan menjadi tanaman karet dan padi bibit unggul dilahan kering, dalam rangka memaksimalkan lahan dan hasil, maka polikultur adalah konsep yang sangat tepat karena tanaman tua yang tinggi bisa menjadi pelindung dan penyaring sinar matahari agar tidak menerpa tanaman yang tidak membutuhkan sinar matahari secara penuh (50-70 %).

Penataan jarak tanaman ini juga penting agar tidak terjadi persaingan makanan yang dibutuhkan tumbuhan, setiap tumbuhan tentunya membutuhkan unsur makanan utama yang sama dibutuhkan, seperti unsur hara, akan tetapi juga ada yang berbeda, kebutuhan makanannya jika tanaman yang ada sangat berjenis ini akan lebih menstabilkan kondisi tanah dan alam. Jenis tanaman lokal yang sesuai dengan model kebun polikultur adalah petai, durian, pinang, sirsak, langsat, duku dan lain-lain. Alasan-alasan yang dipertimbangkan yakni;
  • Tanaman petai daunnya tidak rimbun, mudah busuk, menyuburkan tanah dan ada musim gugur serta menghasilkan.
  • Durian pohonnya tinggi, buahnya bernilai ekonimis dan daun mudah busuk.
  • Pinang dan kelapa pohon tinggi tidak rimbun (menaungi tumbuhan di bawahnya dari sinar matahari), bernilai ekonomis dan mengundang semut.
  • Sirsak menghasilkan dan mengundang semut yang berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit.
  • Langsat & duku menghasilkan dan tidak terlalu rimbun.

Selasa, 15 September 2009

Sikap Hidup Bahagia

Sikap Hidup adalah keadaan hati dalam menghadapi hidup ini. Apakah kita mempunyai sikap hidup yang positif atau negatif? Apakah kita mempunyai sikap hidup yang optimis ataupun pesimis? Apakah kita mempunyai sikap hidup yang apatis?. Sikap hidup itu ada didalam hati kita masing-masing dan hanya kita saja yang tahu. Sikap hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara pandang mendasar yang dimilikinya tentang kehidupan.
  • Lincah : seseorang yang pandai menyesuaikan diri, dimana?, kapan? dan kepada siapapun?
  • Tenang : seseorang yang hati-hati dalam menghadapi orang dan masalah hidup;
  • Halus :  seseorang yang lemah lembut dalam berucap dan roman muka menyejukan hati;
  • Berani : seseorang yang tegas dan kuat dalam menghadapi masalah;
  • Aktif : seseorang yang giat bekerja dan kreatif;
  • Rendah Hati : seseorang yang tidak suka menonjol-menonjolkan diri;
  • Bangga : seseorang yang gembira dan senang.
Tips agar hidup berbahagia sebagai berikut :
  • Perasaan takut dan khawatir merupakan pikiran kita yang paling tidak produktif. Sebagian besar hal-hal yang kita khawatirkan atau takutkan tidak pernah terjadi. Oleh karenanya hilangkan rasa khawatir dan takut?
  • Dendam adalah hal terbesar dan akan menjadi beban terberat jika kita menyimpannya di dalam hati. Maukah anda membawanya sepanjang hidup? Jangan sia-siakan energi kita dengan menyimpan dendam, sudah pasti tidak ada gunanya. Gunakanlah energi kita tersebut untuk hal-hal yang positif.
  • Jika kita memiliki beberapa masalah, selesaikanlah masalah kita satu per satu. Jangan terpikirkan untuk menyelesaikan masalah secara sekaligus karena justru akan membuat kita semakin stress.
  • Masalah adalah hal yang sangat buruk untuk kesehatan tidur kita. Pikiran bawah sadar kita adalah hal yang luar biasa yang dapat membuat kita gelisah dan tidur kita menjadi tidak nyenyak.
  • Membantu orang lain yang sedang dalam masalah adalah hal yang mulia, tetapi jika kita mengambil porsi terbesar untuk menyelesaikan masalah orang lain tersebut justru itulah kesalahan terbesar. Biarkanlah orang tersebut yang menyelesaikan masalahnya sendiri dengan porsi terbesar.
  • Mungkin terasa nyaman bagi kita mengingat hal-hal yang menyenangkan di masa lalu tetapi jangan anda terlena didalamnya. Konsentrasilah dengan apa yang terjadi saat ini, karena kita pun akan bisa merasakan banyak kebahagiaan di saat ini. Saya yakin kita akan mempunyai perasaan yang jauh lebih berbahagia jika kita merayakan apa yang terjadi saat ini dibanding dengan mengingat-ngingat kebahagiaan di masa lalu.
  • Mungkin sebagian besar orang termasuk saya susah untuk menjadi pendengar yang baik. Justru sebaliknya kita mengharapkan orang lain yang mendengarkan omongan kita, tetapi sebetulnya dengan belajar mendengarkan orang lain, kita akan mendapatkan banyak hal baru yang dapat sangat berguna bagi kebahagiaan hidup kita.
  • Kasihanilah diri kita lebih dari apa pun, maksud saya adalah janganlah kita menyerah pada frustasi. Maju terus. Ambillah tindakan-tindakan positif dan lakukanlah dengan konsisten.
  • Bersyukur dan berterimakasihlah atas semua yang kita dapatkan, bukan hanya hal yang positif saja tetapi juga hal yang negatif, karena saya percaya dibalik setiap hal yang negatif tersebut ada hal baik yang bisa kita pelajari.
Sumber : dihimpun dari berbagai situs internet.

Senin, 14 September 2009

Prosesi Akad Nikah

Pendahuluan

Undang-undang Republik Indonesia Nomor : 1 tahun : 1974 tentang : Perkawinan. Pasal 1 : Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pasal 2, ayat (1) Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu. Masyarakat di tanah air, sebagian besar menganggap bahwa perkawinan itu sah apabila sudah memenuhi syarat-syarat : hukum Negara, hukum agama dan hukum adat. Dalam pelaksanaannya perananan ketiga hukum tersebut tidak mutlak, tergantung dari sosio-kultural yang terbentuk dari masyarakat itu sendiri. Pada masyarakat Lubai (masuk rumpun suku Melayu), adat perkawinan yang berlaku mempunyai beberapa tahap yang harus dilaksanakan. 

Tulisan ini sekelumit tentang Prosesi pernikahan adat desa Jiwa Baru. Desa Jiwa Baru gabungan (dua) desa yaitu Baru Lubai dan Kurungan Jiwa, bagian dari wilayah kecamatan Lubai, kabupaten Muara Enim provinsi Sumatera Selatan. Terletak pada dataran rendah, dilintasi oleh Sungai Lubai. Jarak dari kota Palembang 120 km, jarak dari kota Batu Raja 70 km, jarak dari kota Muara Enim 90 km. Mayoritas penduduknya adalah etnis Lubai masuk rumpun suku Melayu Palembang. Bahasa yang digunakan adalah mirip bahasa Melayu Deli. Agama yang dianut masyarakat desa Jiwa Baru mayoritas Islam. Mata pencaharian adalah petani kebun Karet dan kebun Nanas serta kebun buah-buahan.

Adat pernikahan di daerah aliran sungai Lubai adalah adat perkawinan/pernikahan Lubai karena sebagian besar penduduk yang berdiam di daerah ini adalah suku asli Lubai. Prosesi pernikahan adat suku Lubai atau jeme Lubai ada beberapa tahap yang harus dilaksanakan antara lain : Tahap Akad Nikah. Sedekah pengantin tradisi suku Lubai terdiri dari : Akad Nikah, Malam Hiburan Keluarga dan Hari Resepsi Pernikahan. Akad Nikah adat Suku Lubai sebagai berikut :

Waktu dan tempat pelaksanaan

Waktu pelaksanaan pada hari sabtu sekitar pukul 15.00 WIB (jam 3 sore) sampai selesai. Tempat pelaksanaan : rumah dikedianman si gadis atau calon mempelai wanita.

Susunan acara :
  • Pembukaan
  • Pembacaan Kalam Illahi dilanjutkan dengan sari tilawah
  • Sambutan pihak mempelai Pria
  • Sambutan pihak mempelai Wanita
  • Pembacaan khutbatun nikah
  • Pembacaan Istigfar, Sholawat
  • Pembacaan Syahadat Nikah/ Walimah
  • Ijab dan Qobul
  • Doa
  • Penyerahan mas kawin dari pengantin pria ke pengantin wanita dilanjutkan dengan mencium tangan pengantin pria oleh pengantin wanita
  • Doa untuk pengantin dan para hadirin
  • Penanda tanganan Surat Akta Nikah diatas materai oleh kedua pengantin, para saksi dan wali
  • Ucapan selamat dari yang hadir kepada mempelai
  • Ramah tamah tamah dan penutup

Tinjauan Aspek Hukum Islam

Rukun Nikah

Adanya calon suami dan istri yang tidak terhalang dan terlarang secara syar’i untuk menikah. Di antara perkara syar’i yang menghalangi keabsahan suatu pernikahan misalnya si wanita yang akan dinikahi termasuk orang yang haram dinikahi oleh si lelaki karena adanya hubungan nasab atau hubungan penyusuan. Atau, si perempuan sedang dalam masa iddahnya dan selainnya. Penghalang lainnya misalnya si lelaki adalah orang kafir, sementara wanita yang akan dinikahinya seorang muslimah.
Adanya ijab, yaitu lafadz yang diucapkan oleh wali atau yang menggantikan posisi wali. Misalnya dengan si wali mengatakan, “Zawwajtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan si Fulanah”) atau “Ankahtuka Fulanah” (“Aku nikahkan engkau dengan Fulanah”). Adanya qabul, yaitu lafadz yang diucapkan oleh suami atau yang mewakilinya, dengan menyatakan, “Qabiltu Hadzan Nikah” atau “Qabiltu Hadzat Tazwij” (“Aku terima pernikahan ini”) atau “Qabiltuha.”

Syarat nikah

Kepastian siapa mempelai laki-laki dan siapa mempelai wanita dengan isyarat (menunjuk) atau menyebutkan nama atau sifatnya yang khusus/khas. Sehingga tidak cukup bila seorang wali hanya mengatakan, “Aku nikahkan engkau dengan putriku”, sementara ia memiliki beberapa orang putri.
Keridhaan dari masing-masing pihak, dengan dalil hadits Abu Hurairah rodhiyaallah anhu secara marfu’: “Tidak boleh seorang janda dinikahkan hingga ia diajak musyawarah/dimintai pendapat, dan tidak boleh seorang gadis dinikahkan sampai dimintai izinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5136 dan Muslim no. 3458). Terkecuali bila si wanita masih kecil, belum baligh, maka boleh bagi walinya menikahkannya tanpa seizinnya.

Adanya wali bagi calon mempelai wanita, karena Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Tidak ada nikah kecuali dengan adanya wali.” (HR. Al-Khamsah kecuali An-Nasa`i, dishahihkan Al-Imam Al-Albani t dalam Al-Irwa` no. 1839). Beliau Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda: Apabila seorang wanita menikahkan dirinya sendiri tanpa adanya wali maka nikahnya batil, tidak sah.

Siapakah Wali dalam Pernikahan?

Ulama berbeda pendapat dalam masalah wali bagi wanita dalam pernikahannya. Adapun jumhur ulama, di antara mereka adalah Al-Imam Malik, Asy-Syafi’i, Ahmad, dan selainnya berpandangan bahwa wali nasab seorang wanita dalam pernikahannya adalah dari kalangan ‘ashabah, yaitu kerabat dari kalangan laki-laki yang hubungan kekerabatannya dengan si wanita terjalin dengan perantara laki-laki (bukan dari pihak keluarga perempuan atau keluarga ibu tapi dari pihak keluarga ayah/laki-laki), seperti ayah, kakek dari pihak ayah3, saudara laki-laki, paman dari pihak ayah, anak laki-laki paman dari pihak ayah, dan seterusnya. Dengan demikian ayahnya ibu (kakek), saudara perempuan ibu (paman/khal), saudara laki-laki seibu, dan semisalnya, bukanlah wali dalam pernikahan, karena mereka bukan ‘ashabah tapi dari kalangan dzawil arham. (Fathul Bari, 9/235, Al-Mughni, kitab An-Nikah, fashl La Wilayata lighairil ‘Ashabat minal Aqarib).

Di antara sekian wali, maka yang paling berhak untuk menjadi wali si wanita adalah ayahnya, kemudian kakeknya (bapak dari ayahnya) dan seterusnya ke atas (bapaknya kakek, kakeknya kakek, dst.) Setelah itu, anak laki-laki si wanita, cucu laki-laki dari anak laki-lakinya, dan terus ke bawah. Kemudian saudara laki-lakinya yang sekandung atau saudara laki-laki seayah saja. Setelahnya, anak-anak laki-laki mereka (keponakan dari saudara laki-laki) terus ke bawah. Setelah itu barulah paman-paman dari pihak ayah, kemudian anak laki-laki paman dan terus ke bawah. Kemudian paman-paman ayah dari pihak kakek (bapaknya ayah). Setelahnya adalah maula (orang yang memerdekakannya dari perbudakan), kemudian yang paling dekat ‘ashabah-nya dengan si maula. Setelah itu barulah sulthan/penguasa. (Al-Mughni kitab An-Nikah, masalah Wa Ahaqqun Nas bin Binikahil Hurrah Abuha…, dan seterusnya). Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.

Lafaz / ucapan akad nikah

Akad nikah adalah perjanjian yang berlangsung antara dua pihak yang melangsungkan pernikahan dalam bentuk ijab dan qabul. Ijab adalah penyerahan dari pihak pertama, sedangkan qabul adalah penerimaan dari pihak kedua. Ijab dari pihak wali si perempuan dengan ucapannya, misalnya: “Saya nikahkan anak saya yang bernama si Fulana kepadamu dengan mahar sebuah cincin emas berlapis permata.” Qabul adalah penerimaan dari pihak suami dengan ucapannya, misalnya: “Saya terima nikahnya anak Bapak yang bernama si Fulana dengan mahar sebuah cincin emas berlapis permata.”

Penutup

Berdasarkan pengamatan penulis bahwa acara akad nikah adat suku Lubai tidak ada yang bertentangan dengan ketentuan hukum Islam, oleh sebab itu akad nikah adat suku Lubai boleh saja dilestarikan. Namun demikian yang perlu disesuaikan adalah penempatan kaum hawa dan kaum adam sebaiknya jangan ditempatkan pada satu tempat. Sebaiknya dibuatkan tempat terpisah antara kaum adam dan kaum hawa, agar nilai nilai Islam dapat kita aplikasikan pada adat pernikahan suku Lubai.

Semoga kajian akad nikah adat suku Lubai bermanfaat bagi para pembaca dan dapat menjadi bahan pertimbangan pelaksanaan akad nikah anak keturunan suku Lubai. Apabila diperbolehkan menurut hukum Islam marilah kita laksanakan dan apabila dilarang marilah kita hindarkan. Terima kasih atas kunjungan keblog kami.

Berladang oryza sativa

Pendahuluan

Masyarakat Lubai jika ingin mendapatkan padi, harus membabat hutan muda untuk dijadikan lahan peladangan atau menanami ume punggasan. Usia hutan muda yang dibuka biasanya lebih kurang 10 tahun sampai dengan 15 tahun. Pembabat hutan ini dimulai pada akhir musim kemarau, dengan tujuan agar setelah selesai proses pembabatan lahan ini langsung dapat dibakar.

Hutan-hutan muda yang telah dianggap baik untuk dijadikan ladang dalam bahasa Lubai ”ume” terlebih dahulu dibersihkan/ditebas semak-semak dan perdunya. Alat yang digunakan untuk melakukan penebasan biasanya Golok dalam bahasa Lubai disebut Pisau penebasan. Setelah proses penebasan selesai, pohon-pohon kayu besar ditebang. Alat yang digunakan penebangan pohon-pohon kayu besar menggunakan Golok besar dalam bahasa Lubai “Pisau kimpalan” atau menggunakan “beliung”. Saat ini alat yang digunakan untuk menebangkan pohon-pohon besar ini adalah Chainshow “sinsou”. Semak-semak yang telah ditebas terlebih dahulu sebelum proses penebangan akan tertimpa pohon-pohon kayu besar, kelak akan jadi bahan bakar untuk membakar keseluruhan lahan. Kayu-kayu besar yang habis ditebangi kemudian dipangkas, kegiatan ini dalam bahasa Lubai disebut “nutoh hebe”. Kayu-kayu yang dianggap baik mutunya dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan rumah dan dangau ditepikan agar tak ikut terbakar.

Penyiapan Lahan

Seusai masa tebas tebang, maka ditunggu masa pembakaran lamanya yaitu sekitar 1 – 2 minggu dengan maksud menunggu kayu semak dan dedaunan kering. Pada masa tunggu itu biasanya para petani di Lubai, membuat kekas atau semacam koridor yang mengelilingi lahan yang akan dibakar. Umumnya selebar 5- 10 meter. Koridor atau jalur kekas sebetulnya berfungsi sebagai pembatas agar api tidak menyambar/melambas kelahan diluar area ladang. Caranya dengan membersihkan kayu, ranting, dan daun-daun yang dapat menjadi bahan bakar api dari lahan yang baru dibuka kelahan yang tidak dibuka, baik milik sendiri maupun milik orang lain. Ayahanda penulis jika membuka lahan peladangan biasanya menyisakan lahan selebar 1-2 meter yang tidak dibabat sebagai pembatas kobaran api.

Pembakaran Lahan

Proses pembakaran dilakukan biasanya pada sore hari, sebab angin mulai tidak kencang. Pemilik lahan biasanya melibatkan para kaum kerabat dan para pemilik lahan disebelahnya untuk ikut mengontrol api. Api disulut ke lahan bakar dengan melawan arah angin. Sederhanya adalah jika arah angin berhembus ke utara maka api pertama disulutkan dari arah selatan lahan. Hal tersebut dilakukan supaya api tidak menyambar dengan sangat cepat.

Pada saat menunggui api padam, umumnya yang membuka lahan menghidangkan bubur kacang hijau dengan kuah manis bersantan. Jika kebetulan bertepatan dengan musim Durian kuah santan akan digantikan kuah Durian dalam bahasa Lubai ”kince”.

Proses selanjutnya usai pembakaran lahan, beberapa hari kemudian dilakukakan pembersihan lahan. Dalam hal pembersihan lahan ini, sisa ranting dan kayu-kayu besar yang tidak habis terbakar dikumpulkan. Sebagian dipilah untuk dijadikan kayu bakar, sebagian lagi pengumpulan ranting-ranting dan kayu-kayu ditempatkan ke titik-titik tertentu yang dianggap tanahnya belum kena bakar. Tanah yang belum kena bakar akan memunculkan kesulitan perawatan tanaman nantinya, sebab akan cepat ditumbuhi gulma. Oleh sebab itu lahan yang tidak terkena bakar harus dibakar ulang, peristiwa ini dalam bahasa Lubai disebut ”Mandok”.

Penanaman padi

Pada awal musim hujan biasanya Uhang Lubai memulai musim tanam. Tanaman pangan utama yang ditanam adalah padi ”oryza sativa” yang tidak seragam. Terdapat dua spesies padi yang dibudidayakan manusia: Oryza sativa yang berasal dari daerah hulu sungai di kaki Pegunungan Himalaya (India dan Tibet/Tiongkok) dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat (hulu Sungai Niger). Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, paleanya memiliki "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung panjang. Padi japonica biasanya agak lengket nasinya. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, paleanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan biji cenderung oval.

Penanaman padi dilakukan dengan cara beramai-ramai, pemilik lahan mengundang kaum kerabatnya untuk menanam padi bersama-sama. Alat yang digunakan adalah kayu dibuat runcing dibawahnya dalam bahasa Lubai disebut Tugal. Selain tanaman padi biasanya Uhang Lubai be-ume akan menanam tanaman yang lainnya seperti : 1). Ketela pohon dalam bahasa Lubai ”menggale”, 2). Ketela rambat dalam bahasa Lubai ”silong”, 3). Kentang jembut ”kemili”, 4). Talas, 5). Jagung, 6). Labu. Penanaman padi umumnya dilakukan selama dua tahun, yaitu pada saat ume himbe ’”ladang padi pertama dibuka”, ume punggas ”ladang padi tahun kedua”.

Pagar Ladang

Setiap ladang di daerah Lubai, harus dibuatkan pagar dari kayu dalam bahasa Lubai disebut kandang. Proses pemagaran ini dinamakan ”ngandang ume”. Kayu yang dipergunakan biasanya sisa-sisa dari pembakaran lahan peladangan dan sebagian mencari hutan muda lainnya. Kayu yang ditancapkan ketanah untuk menahan beban pagar disebut ”tajar”. Tajar dibuat dari kayu yang keras seperti kayu pelawan, kayu gelam atau kayu tidak keras akan dapat tumbuh kembali seperti kayu simpuh. Tinggi pagar lebih kurang 175 cm, dibuat dengan menyusun kayu-kayu yang panjang 3 meter. Untuk mengikat pagar dahulu digunakan akar-akar pilihan yang awet kena panas dan hujan. Saat ini untuk mengikat pagar telah menggunakan kawat.

Danggau

Danggau adalah sebuah tempat berteduh ditengah peladangan. Kayu yang dipergunakan biasanya diambil dari sisa-sisa pembakaran lahan peladangan. Danggau dibuat dalam bentuk panggung, dengan ketinggian lebih kurang 2 meter. Agar praktis biasanya kayu yang digunakan untuk tiang adalah kayu yang mempunyai cabang, sehingga mudah untuk menempakan kayu diatas cabang tadi. Ukuran danggau ini biasanya panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Lantai panggung digunakan papan, atau menggunakan bambu. Dinding danggau menggunakan kulit kayu kahas atau gaharu. Atapnya danggau menggunakan daun sehedang sejenis pohon nipah.

Panen Padi

Setelah menunggu beberapa bulan lamanya, tanaman padipun menguning bagaikan kilauan emas yang indah dipandang mata. Semilir angin meniup daun padi, dedaunan padi mengeluarkan suara yang indah, membuat petani gairah untuk menjaga ladangnya. Seakan-akan padi-padi itu berkata, tuanku karena engkau telah memeliharaku dengan baik, maka ambillah aku. Sipemilik lahanpun menyiapkan peralatan untuk memanen padinya. Alat-alat yang dipersiapkan adalah behunang, bake dan tuai. Masyarakat Lubai biasanya jika memanen padi, menggunakan alat-alat tersebut diatas.

Tulisan ini hanya sekedar untuk informasi awal saja, untuk lebih silahkan langsung bertanya kepada para peladang di wilayah Lubai.

Minggu, 13 September 2009

Ikan Arwana

Pendahuluan

Ikan Arwana Asia  disebut juga Siluk Merah adalah salah satu spesies ikan air tawar dari Asia Tenggara. Ikan ini memiliki badan yang panjang; sirip dubur terletak jauh di belakang badan. Arwana Asia umumnya memiliki warna keperak-perakan. Nama ikan ini : Arwana, Nama lain :  ikan Siluk, ikan Kangan, ikan Kalikasi, dan ikan Kelasa, Nama ilmiah : Scleropages formosus.

Karakteristik Ikan

Secara morfologis (ciri-ciri fisik), badan dan kepala arwana agak padat. Tubuhnya pipih dan punggungnya datar, hampir lurus dari mulut hingga sirip punggung. Garis lateral atau gurat sisi yang terletak di samping kiri dan kanan tubuh arwana panjangnya antara 20–24 cm. 

Bentuk mulutnya mengarah keatas dan mempunyai sepasang sungut pada bibir bawah. Ukuran mulutnya lebar dan rahangnya cukup kukuh. Giginya berjumlah 15-17. Bagian insangnya dilengkapi dengan penutup insang. Letak sirip punggungnya berdekatan dengan pangkal sirip ekor (caudal). Sirip anusnya lebih panjang daripada sirip punggung (dorsal), hampir mencapai sirip perut (ventral). Panjang arwana dewasa sangat variatif, antara 30–80 cm. 

Bentuk badannya gepeng dan bersisik besar meliuk-liuk indah saat berenang di akuarium. Ditambah tumbuhnya dua sungut di ujung bibir bawah membuat ikan ini mirip liong atau naga. Karena itu, tidak mengherankan jika sebagian masyarakat menyebutnya dengan kimliong atau ikan naga emas. Layaknya naga, arwana juga dianggap sebagai simbol keberhasilan, keperkasaan, dan kejayaan.

Ikan arwana termasuk jenis ikan yang sangat agresif dan gesit. Apabila ikan arwana sedang stres, maka ia akan menabrakan dirinya ke tembok akuarium atau meloncat-loncat. Oleh karena itu, supaya ikan arwana tidak stres kita harus berhati-hati ketika sudah memutuskan untuk merawatnya. Bahkan, jika ingin merawat ikan arwana di akuarium sangat disarankan untuk memberikan penutup akuarium supaya ikan tidak loncat keluar.

Kegunaan Ikan

Ikan merupakan salah satu ikan hias yang mempunyai nilai jual tinggi. Ikan ini pernah booming di masa lampau. Sekarang, meskipun penjualan tidak seperti masa lampau lagi, tetapi masih banyak yang mencari ikan jenis ini. Konsumen utama bisnis budidaya ikan arwana ini, selain para pengecer, juga para penggemar ikan hias langsung serta hotel dan perusahaan yang sering menjadikan ikan ini dekorasi ruangan.