Ads 468x60px

Labels

Featured Posts

Sabtu, 02 Februari 2013

Sholawat Nabi Muhammad SAW - Abi Mas'ud

Dari jalan Abi Mas’ud Al Anshariy

اللهم صل على محمد وعلى آل محمد كما صليت على آل إبراهيم وبارك على محمد وعلى آل محمد كما باركت على آل إبراهيم في العالمين إنك حميد مجيد

Allaahumma sholli ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa shol laita ‘alaa aali ibroohiim ,wa baarik ‘alaa Muhammad wa ‘alaa aali Muhammad kamaa baarokta ‘alaa aali ibroohiim fil ‘aalamiina innaka hamiidum majiid.
 
“Ya Allah berilah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah bershalawat kepada Ibrahim, dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim atas sekalian alam, Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji (lagi) Maha Mulia”
 
[SHAHIH, HR Muslim 2/16, Abu Dawud no. 980, At Tirmidzi 5/37-38, An Nasa-i dalam "Sunan" nya 3/45, Ahmad 4/118, 5/273-274, Ibnu Hibban dalam "Shahih" nya no. 1949, 1956, Baihaqi dalam "SUnanul Kubra" 2/146,dan Imam Malik dalam "AL Muwaththo' (1/179-180 Tanwirul Hawalik Syarah Muwaththo'"]

Selasa, 02 Oktober 2012

Gandong


Sebuah Gandong tempat warga Lubai mencuci pakaian dan buat hajat. Foto ini diabadikan di desa Jiwa Baru, kecamatan Lubai, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan.

Jumat, 08 Januari 2010

Arsyil - Rendy



Foto ini diabadikan pada tahun 2007 dipantai Lempasing Kabupaten Pesawaran Provinsi Lampung, dokumentasi keluarga Lubara.

Senin, 30 November 2009

Pernikahan Agung

Pendahuluan :
Pernikahan yang Agung antara Nabi Adam Alaihi Salam dengan Siti Hawa. Allah SWT. Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu, segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni syurga untuk menghiasi dan menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran berupa perhiasan-perhiasan syurga. Sementara itu diperintahkan pula kepada malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon “Syajarah Thuba”, menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.

Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu Allah SWT. berfirman: “Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segala kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan syurga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!”.

Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, dihantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.


Definisi Cinta :
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.


Makna Cinta :
Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuna, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.

Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

1. Pengenalan
2. Tanggung jawab
3. Perhatian
4. Saling menghormati

Jenis-jenis Cinta :
Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.

Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada 'jiwa' atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.

Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya


Cinta antar pribadi

Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia.

Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:

  1. Afeksi: menghargai orang lain.
  2. Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain (yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini).
  3. Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan (bukan saling memanfaatkan).
  4. Commitment: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
  5. Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
  6. Kinship: ikatan keluarga.
  7. Passion: Hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
  8. Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
  9. Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
  10. Service: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
  11. Homoseks: Cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian (lesbi).

Energi Cinta :

Energi seksual dapat menjadi unsur paling penting dalam menentukan bentuk hubungan. Namun atraksi seksual sering menimbulkan sebuah ikatan baru, keinginan seksual dianggap tidak baik atau tidak sepantasnya dalam beberapa ikatan cinta. Dalam banyak agama dan sistem etik hal ini dianggap salah bila memiliki keinginan seksual kepada keluarga dekat, anak, atau diluar hubungan berkomitmen. Tetapi banyak cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang tanpa seks. Afeksi, keintiman emosi dan hobi yang sama sangat biasa dalam berteman dan saudara di seluruh manusia.

Sumber : berbagai website


Rabu, 16 September 2009

Budidaya kayu Pulai

Pendahuluan
Nama : Pulai. Nama lain : Pelawi (Lubai), Pule (Jawa), Nama ilmiah : Alstonia Scholaris (L.) R.Br), Divisio : Magnoliophyta, Class : Magnoliopsida, Ordo : Gentianales, Family : Apocynaceae, Genus : Alstonia. Pohon ini banyak tumbuh liar di hutan dan ditanam di perkebunan untuk bahan baku pensil, seperti di Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Pulai banyak pula tumbuh di daerah Jambi, Bengkulu, Kalimantan, dan daerah lainnya. Pulai (Alstonia sp) memiliki sekitar 40 – 60 species yang tersebar di daratan tropika dan sub tropika Afrika, Amerika Tengah, Asia Bagian Selatan, Polynesia dan New South Wales, Quensland dan Australia Bagian Utara, serta beberapa species di daratan Malaisyia.
Klasifikasi Pulai
Dari banyaknya jenis Pulai (Alstonia sp) yang berjumlah sekitar 40 – 60 tersebut diantaranya A. macrophylla, A. angustiloba, A. angustifolia, A. spatulata, A. elliptica, A. oblongifolia, A. pneumatophora, A. scholaris, A. costaca dan lain-lain.
Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger
Nama daerah dari Alstonia pneumatophora secara umum adalah Pulai Putih. Untuk daerah di wilayah Sumatera biasanya disebut dengan Basung. Pulai dari jenis ini penyebarannya banyak dijumpai di Sumatera, Sulawesi, dan Kalimantan.
Alstonia spatulata Blume
Jenis dari tumbuhan ini memiliki nama padanan Alstonia cuneata Wallich ex G. Don., Alstonia cochinchinensis Piere ex Pitard. Secara umum nama daerah dari jenis ini adalah Lame Bodas. Sedangkan kalau di Sumatera namanya biasa disebut dengan Pulai Gabus. Penyebarannya di Sumatera, Bangka, Jawa Barat, dan Kalimantan.
Alstonia scholaris (L.) R. Br.
Memiliki nama sinonim dengan Echites scholaris L., Echites pala Ham., Tabernaemontana alternitifolia Burn. Nama daerahnya secara umum adalah Pulai Gading. Tersebar luas di Asia Pasifik mulai India dan Sri Lanka sampai daratan Asia Tenggara dan China Selatan, seluruh Malaysia hingga Australia Utara dan Kepulauan Solomon. Di Indonesia sendiri tersebar luas terutama Sumatera, Kalimantan dan Jawa Barat.
Ciri – Ciri Tumbuhan
Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger
Ciri dari Pulai jenis ini adalah berupa pohon besar dengan diameter mencapai 100 cm bahkan bisa lebih, dan tingginya bisa mencapai 40-50 m.
Tumbuhan ini mempunyai banir serta berakar lutut, dengan batang bergalur , berwarna abu-abu sampai ke putih. Permukaan batang halus sampai bersisik, kulit bagian dalam sangat tebal dan halus, mempunyai warna orange sampai kecoklatan, granular, mempunyai getah yang sangat melimpah.
Daun yang dimiliki tumbuhan ini adalah tunggal dan tersusun secara vertikal di ujung ranting. Bentuk daun oval atau ellips (ellipticus), dengan pangkal agak lancip (cuneate), ujung bundar atau membusur (rounded), permukaan daun licin atau tidak berbulu (glabrous). Pertulangan daun sejajar, warna daun bagian bawah keputihan dengan ukuran 8 – 12 cm x 3 – 5 cm.
Bunga berwarna putih, berukuran kecil di terminal; buah capsule berpasangan, panjang sekitar 25 – 30 cm, permukaan buah licin sampai kasar (glabrous sampai pubescens).
Alstonia spatulata Blume
Ciri fisik tumbuhan dari jenis ini mempunyai ukuran kecil sampai dengan sedang dengan diameter bisa mencapai 75 cm dan tingginya sampai 20 – 30 m.
Batang dari jenis ini berbentuk silindris, beralur, berwarna abu-abu dan halus; kulit bagian dalam berwarna kuning pucat dengan getah putih yang melimpah.
Komposisi daun tunggal, tata daun vertikal, bentuk pada bagian ujung daun bundar atau membusur besar (rounded), sedangkan pangkal daun agak lancip (cuneate) yang berhenti pada ranting. Daun muda berwarna merah, dengan ukuran daun berukuran antara 4 – 6 cm x 7 – 10 cm. Permukaan daun glabrous (licin dan tak berbulu) dengan pertulangan daun menyirip sejajar.
Bunga berukuran kecil, berwarna putih, memiliki ukuran panjang sekitar antara 4 – 7 cm.
Buah seperti kapsul, kondisi berpasangan, dengan ukuran panjang antara 18 – 20 cm.
Alstonia scholaris (L.) R. Br.
Ciri – ciri dari pohon ini memiliki tinggi bisa mencapai lebih dari 40 m. Batang pohon tua beralur sangat jelas, sayatan berwarna krem dan banyak mengeluarkan getah berwarna putih.
Daun tersusun melingkar berbentuk lonjong atau elip. Panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna krem atau hijau, pada percabangan, panjang runjung bunga lebih dar 120 cm.
Buah berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm, berisi banyak benih.
Tempat Tumbuh Tanaman
Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger
Tumbuhan ini tersebar biasanya di hutan rawa gambut, dengan kondisi tanah berpasir dekat dengan pantai, hutan rawa, serta dekat dengan sungai besar.
Alstonia spatulata Blume
Pulai jenis ini tumbuh di daerah rawa atau tergenang air, di tepi aliran sungai, pada gley humus atau aluvial yang kaya pasir. Umumnya tumbuh dibawah 300 m dpl. Sering ditemukan pada hutan sekunder atau vegetasi semak belukar.
Alstonia scholaris (L.) R. Br.
Toleran terhadap berbagai macam tanah dan habitat, dijumpai sebagai tanaman kecil yang tumbuh di atas karang atau bagian tajuk dari hutan primer dan sekunder. Banyak dijumpai di dataran rendah/pesisir dengan curah hujan tahunan 1000-3800 mm. Juga dijumpai pada ketinggian diatas 1000 m dpl. Salah satu sifat adalah dapat tumbuh di atas tanah dangkal. Tidak tumbuhya tanaman ini pada sebaran alami yang suhunya kurang dari 8ºC, yang menunjukkan jenis ini tidak tahan udara dingin.
Sifat Kayu
Pulai termasuk kelompok kayu ringan dengan berat jenis bervariasi antara 0,27 – 0,49. Dari segi kekuatannya tergolong kayu kelas kuat IV-V. Dari sifat pengerjaannya, kayu pulai mudah digergaji, diserut dan dibor, baik dalam keadaan segar maupun kering. Mudah diawetkan dan dikeringkan, dengan tingkat keawetannya termasuk kelas awet V.
Pembibitan
Pembuatan bibit dapat dilakukan dengan cara generatif (biji) dan vegetatif (stek). Bibit dapat diperoleh dengan penyemaian biji didalam bedeng persemaian (bak perkecambahan) dengan media perkecambahan pasir. Setelah ± 2 bulan didalam bak perkecambahan bibit siap disapih dan dipindahkan kedalam polybag yang telah diisi media sapih. Media sapih menggunaakan tanah (top soil)+kompos. Setelah bibit mencapai 30 cm siap ditanam dilapangan. Bibit yang dibuat secara vegetatif dapat diperoleh melalui stek batang dan stek pucuk dari kebun pangkas.
Pola budidaya Pulai
1.      Tanaman Konservasi.
Untuk kondisi Indonesia kini, prioritas konservasi diberikan untuk lahan kritis dan marginal. Ada banyak faktor yang menjadi nilai tambah pulai sebagai tanaman konservasi, antara lain: Termasuk tanaman perintis yang bisa tumbuh di mana saja dengan kondisi tanah marginal. Termasuk tanaman indigenous dan cepat tumbuh serta memiliki sebaran di hampir seluruh wilayah Indonesia. Kemampuannya menyimpan air, tanaman lain yang lebih populair mengemban fungsi ini adalah beringin. Mendukung konservasi hewan karena disukai oleh beberapa hewan endemik seperti badak.
2.      Tanaman industri.
Pulai termasuk tanaman dengan nilai keekonomian tinggi, sangat bagus prospeknya karena memiliki banyak kegunaan dan permintaannya cukup tinggi. Kegunaan kayu pulai dalam industri antara lain untuk pembuatan peti, korek api, hak sepatu/kelom, kerajinan (topeng, patung, golek, cenderamata dll), cetakan beton, pensil slate, dan pulp. Beberapa industri yang menggunakan kayu pulai sebagai bahan baku di antaranya industri pensil slate di Sumatera Selatan, industri kerajinan di Yogyakarta, dan kegiatan ritual di Bali. Karakteristik dari tanaman pulai yang mendukung untuk industri antara lain: Pulai darat memiliki batang yang lurus memiliki pertumbuhan cepat, dengan pertumbuhan diameter bisa mencapai 3,5 cm/tahun dan pertumbuhan tinggi 1,5 m/tahun sehingga bisa dipanen dalam 10-12 tahun dengan diameter 30-40 cm dan volume sekitar 260 m kubik (dengan jarak tanam 3×2 m) memungkinkan untuk dikombinasikan dengan tanaman lain (tumpang sari) kayunya mudah diolah (digergaji, diserut, diukir, dibor), wajar jika menjadi kayu incaran para perajin dan pengusaha furnitur. Selain itu kayunya memiliki karakteristik ringan tapi cukup kuat dan awet.
3.      Tanaman Hias.
Pulai gading (alstonia scholaris) memiliki bentuk daun mirip kamboja dan bunga warna kuning yang indah. Banyak jalan protokol ibukota dihiasi dengan pohon ini, juga beberapa halaman pusat perbelanjaan dan hotel mewah.
4.      Tanaman obat.
Sebagian besar dari tanaman ini memiliki khasiat untuk obat yang tidak hanya dipercaya oleh nenek moyang bangsa Indonesia tetapi berlaku secara internasional (terutama negara-negara di Asia). Riset secara medis juga sudah dilakukan oleh banyak lembaga.
Kegunaan dan Khasiat
Khasiat dan kandungan kimia.
Pohon pulai mengandung banyak getah. Getah berwarna putih, rasa getahnya sangat pahit. Rasa pahit itu didapatkan pula dari akar, kulit batang dan daunnya. Pada bagian pohon ini terdapat bahan yang sudah diketahui antara lain alkaloida berupa ditamine, ditaine, dan echi-kaoetchine. Pada kulit batang terdapat kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Sedangkan untuk zat pahitnya terdapat kandungan echeretine dan echicherine.
Alstonia pneumatophora Back
Kayu komersial yang disebut dengan kayu pulai ini cocok untuk : Ukiran, pembuatan peti, kayu lapis. Sedangkan getahnya bisa digunakan sebagai obat penyakit kulit dan kulitnya sendiri mengandung alkaloid untuk obat.
Alstonia spatulata Blume
Manfaat dari kayu jenis Alstonia spatulata ini sama dengan jenis Alstonia pneumatophora yaitu untuk peti, papan tulis, kayu lapis, ukiran, pensil, dan perkakas rumah tangga.
Alstonia scholaris (L.) R. Br.
Kayunya tidak awet, hanya memungkinkan untuk konstuksi ringan di dalam ruangan, atau untuk industri pulp dan kertas, serta digunakan terutama untuk papan tulis sekolah, sehingga dinamakan scholaris.
Selain itu, sebenarnya pohon Pulai ini banyak manfaatnya untuk pengobatan. Terutama dari kulit dan daunnya. Hal ini disebabkan karena banyak kandungan kimia dari kulit dan daun Pulai yang antara lain :
Kulit kayu : mengandung alkaloida ditanin, ekitamin (ditamin), ekitanin, ekitamidin, alstonin, ekiserin, ekitin, ekitein, porfirin dan triperpen.
Daun : mengandung pikrinin. Sedang-kan bunga Pulai mengandung asam ursolat dan lupeol.
Kulit kayu dapat untuk mengatasi:
Demam, malaria, limpa membesar, batuk berdahak, diare, disentri, kurang nafsu makan, perut kembung, sakit perut, kolik, kencing manis, tenakan darah tinggi, wasir, anemia, gangguan haid, rematik akut.
Daun dapat untuk mengatasi:
Borok, bisul, perempuan setelah melahirkan (nifas), beri-beri dan payudara bengkak karena bendungan ASI.
Dari kandungan kimia yang terdapat didalamnya, pulai sering pula digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini memiliki sifat antipiretik, anti malaria, antihipertensi serta anti andenergik dan melancarkan saluran darah. Penggunaan kandungan ini bisa berasal dari akar, kulit batang , daun dan getah pulai dapat dijadikan obat nyeri (di sisi dada atau karena tusukan) jika dikunyah bersama pinang dan ampasnya dibuang. Akarnya juga obat tukak didalam hidung, mengobati koreng dan borok.
Kulit batang pulai bermanfaat untuk mengatasi demam, hipertensi, tonikum, ekspektorant, perut kembung, ginjal membesar, demam nifas, hemoroid dan sakit kulit. Cara penggunaanya adalah dengan merebus kulit batang pulai yang dicampur dengan bahan lainnya. Air rebusannya itu disaring dan diminum sekaligus. Penggunaan getahnya dapat pula berkhasiat untuk mengatasi koreng, borok pada hewan, bisul dan kecacingan (kremi). Untuk mengatasi penyakit tersebut, getahnya dicampurkan dengan bahan lain.
Daunnya pun punya manfaat yang banyak. Dengan merebus daun pulai dan bahan lainnya bisa mengobati sifilis, beri-beri, sakit usus, cacing, disentri, diare menahun, diabetes dan malaria, jenis pulai yang sering digunakan adalah pulai waluh.
Industri Sektor hilir (downstream).
Kegiatan di luar lahan (off farm) yang menyerap hasil dari budidaya tanaman pulai. Yang potensial dikembangkan, antara lain:
Industri pensil slate
Industri pulp
Industri korek api
Industri kerajinan
Industri sepatu/kelom
Industri furnitur
Industri peti dan cetakan beton
Industri audio (sub woofer, salon dll)
Industri farmasi (fitofarmaka)
Industri tanaman hias
Kesimpulan
Budidaya kayu Pulai sangat menguntungkan. Kayu Pulai mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bekhasiat untuk pengobatan tradisional. Tanaman ini tidak sulit pemeliharaannya. Untuk di Kecamatan Lubai sangat cocok untuk ditanam sepanjang jalan lintas sumatera sebagai peneduh jalan, sepanjang daerah aliran sungai Lubai sebagai penahan erosi, tanah rawa-rawa yang bergambut sebagai pemanfaatan lahan tidur, lahan perkebunan karet yang kurang produktif sebagai tanaman selingan dan pada hutan muda sebagai pertanian pola polikultur.  

Inspirasi Perantau Lubai

Pendahuluan

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi serupa susu (dikenal sebagai lateks) dari getah beberapa jenis tumbuhan, tetapi dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari lateks yang digunakan untuk membuat karet adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung.
Tumbuhan lainnya yang menghasilkan lateks di antaranya adalah anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Tumbuhan tersebut bukanlah sumber utama karet, namun pada Perang Dunia II persediaan karet orang Jerman dihambat, mereka mencoba sumber-sumber di atas, sebelum penciptaan karet sintetis. Diyakini dinamai oleh Joseph Priestley, yang pada 1770 menemukan lateks yang dikeringkan dapat menghapus tulisan pensil.
Ke dalam suku ini termasuk beringin, ara, tin, pohon bodhi, dan murbei. Ciri khas suku ini dapat dilihat dari daunnya yang relatif tebal, agak berdaging (sukulen), serta dari buahnya yang bukan merupakan buah sejati karena terbentuk dari dasar bunga yang membesar lalu menutup sehingga membentuk bulatan seperti buah. Bunganya tersembunyi di dalam "buah" dan diserbuki oleh serangga tertentu (biasanya dari anggota Hymenoptera).
Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis lain, suku ara-araan atau Moraceae) sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. Tumbuhan berbentuk pohon besar ini sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Sesaji sering diberikan di bawah pohon beringin yang telah tua dan berukuran besar karena dianggap sebagai tempat kekuatan magis berkumpul. Beberapa orang menganggap tempat di sekitar pohon beringin adalah tempat yang “angker” dan perlu dijauhi.
Beringin, yang disebut juga waringin atau (agak keliru) ara (ki ara, ki berarti “pohon”), dikenal sebagai tumbuhan pekarangan dan tumbuhan hias pot. Pemulia telah mengembangkan beringin berdaun loreng (variegata) yang populer sebagai tanaman hias ruangan. Beringin juga sering digunakan sebagai objek bonsai.
Tin (Ficus carica L.) adalah sejenis tumbuhan penghasil buah-buahan yang dapat dimakan yang berasal dari Asia Barat. Buahnya bernama sama. Nama ini diambil dari bahasa Arab, juga dikenal dengan nama "Ara" (buah ara / pohon ara) sedangkan dalam bahasa Inggris disebut fig, sebenarnya masih termasuk kerabat pohon beringin.

Pertanian Karet di Lubai


Nenek Moyangku di Lubai membudidayakan Karet dalam bahasa Lubai Balam sejak berabad-abda silam. Mereka membudidayakan tanaman ini masih sangat sederhana belum ada sentuhan teknologi modern. Pada saat itu bibit langsung diambil dari buah biji karet tanpa melihat apakah itu bibit unggul yang banyak getahnya atau tidak. Mereka belum menggenal istilah persemaian bibit, karena biji-biji karet tersebut langsung ditanam ke lahan pertanian. Cara penanaman Karet tidak menggunakan alat seperti Cangkul dan Tembilang, melainkan biji buah karet langsung ditanam dengan cara melubangi tanah menggunakan kayu yang telah dibuat runcing dalam bahasa Lubai Tugal.
Beberapa generasi Lubai bertani karet dengan cara tradisional yaitu tanpa pembenihan bibit, pola tanam yang tidak teratur, pola pemeliharaan tidak ada. Pada masa itu petani karet hidup dibawah garis kemiskinan, kecuali petani yang mempunyai lahan pertanian luas. Pada era tahun 2002 seiring dengan program pemerintah di desa Jiwa Baru melaksanakan program peremajaan karet rakyat. Masyarakat diarahkan untuk mengikuti program ini, sehingga kebun karet tua dan hutan muda dibabat untuk dijadikan kebun karet dengan program peremajaan karet rakyat.
Masyarakat Lubai menikmati hasil pertanian karet mencapai puncak pada tahun 2006 sampai dengan 2008, ketika itu harga karet di desa Jiwa Baru mencapai harga Rp. 13.500 per kilo gram. Tingkat perekonomian masyarakat meningkat, pola hidup berubah. Kendaraan roda dua rata-rata setiap rumah memiliki 2 (dua) unit. Alat komunikasi seperti Handphone rata-rata setiap rumah memiliki 2 – 4 buah. Pembangunan rumah tempat tinggal sudah mengikuti gaya perkotaan yaitu dibangun dengan permanent. Namun kejayaan pertanian karet Lubai, berakhir karena kena imbas krisis global.

Inspirasi perantau Lubai

Inspirasi yang saya tulis ini hanya sebuah renungan belaka, bukan suatu kajian. Ada jenis 3 (tiga) pohon yang menghasilkan getah yaitu Karet ”Hevea brasiliensis”, Beringin ” Ficus benjamina” dan Pulai ”Alstonia scholaris”. Ketiga jenis kayu mempunyai sifat yang sama, sehingga dapat lakukan okulasi pada tiga jenis pohon ini.

Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan/perkawinan secara vegetatif dengan menempelkan kulit batang yang satu ke batang lainnya. Okulasi hanya bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki kambium/kulit ari. Teknik perbanyakan/perkawinan vegetatif maksudnya adalah teknik perbanyakan/perkawinan tanaman yang tidak berlangsung secara alami tapi melalui bantuan/intervesi manusia.

Pada tanaman karet, okulasi dilakukan dengan menempelkan kulit batang yang memiliki mata tunas (entres) dengan batang karet lainnya (batang bawah). Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari karet yang rentan terhadap penyakit dan memiliki pertumbuhan akar yang baik. Bahan dan peralatan pendukung yang dibutuhkan pada saat okulasi adalah, batang atas (entres), batang bawah, pisau okulasi, plastik okulasi, asahan dan kain lap.

Ilustrasi pertama :

Okulasi pohon karet dengan pohon beringin. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon beringin. Pilihlah pohon beringin yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pohon beringin berkembang biak secara genetatif melalui biji yg ada pada buahnya. Kalau kita lihat buah beringin hanya sebesar biji kacang tanah. Jika ini dibelah, didalamnya terdapat ribuan butir biji-biji kecil yg besarnya sama dengan sebutir pasir halus di pantai. Sangat sangat kecil. Dari biji kecil inilah tumbuh sebuah pohon beringin yang hidupnya bisa mencapai umur ratusan tahun. Batangnya kokoh, daunnya lebat dan rindang yg mampu memberikan rasa teduh bagi yg berada dibawahnya. Tinggi pohon dapat mencapai 30 – 35 meter dan berdiameter 40 – 70 cm.

Dari hasil okulasi pohon karet dan beringin diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon beringin, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 5 -7 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Ilustrasi kedua :

Okulasi pohon karet dengan pohon pulai. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon pulai. Pilihlah pohon pulai yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pulai dalam bahasa Lubai disebut ”pelawi” termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai.
Dari hasil okulasi pohon karet dan pulai diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon pulai mencapai ketinggi 25 meter dan diameter 60 cm, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 3- 5 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Kesimpulan :

Inovasi dibidang pertanian karet mestinya dicoba. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Okulasi pohon karet dan ketela pohon menghasil varitas baru yaitu ketela pohon karet, yang dikenal juga ubi kayu karet. Ubi karet menghasil umbi-umbi besar namun tidak dapat dijadi bahan makanan karena umbi-umbi tersebut sifat keras seperti akar karet. Pucuk muda ubi karet dapat dijadikan sebagai lalap-lalapan makan. Jika ubi kayu karet di okulasi dengan ubi kayu maka akan menghasilkan ubi kayu yang menghasilkan umbi yang besar-besar.
Okulasi pohon karet dan pohon beringin akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak, begitupun hasil daripada Okulasi pohon karet dan pohon pulai akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak.


Demikian, semoga bermanfaat.
Bandar Lampung, 16 September 2009

Amarmakruf Silahturrahim Lubai
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

Ape sebab padi melayang padi melayang kerene hampe Artinya  Apa sebab kami merantau karena di kampung Baru Lubai tidak berguna