Senin, 14 September 2009

Berladang oryza sativa

Pendahuluan

Masyarakat Lubai jika ingin mendapatkan padi, harus membabat hutan muda untuk dijadikan lahan peladangan atau menanami ume punggasan. Usia hutan muda yang dibuka biasanya lebih kurang 10 tahun sampai dengan 15 tahun. Pembabat hutan ini dimulai pada akhir musim kemarau, dengan tujuan agar setelah selesai proses pembabatan lahan ini langsung dapat dibakar.

Hutan-hutan muda yang telah dianggap baik untuk dijadikan ladang dalam bahasa Lubai ”ume” terlebih dahulu dibersihkan/ditebas semak-semak dan perdunya. Alat yang digunakan untuk melakukan penebasan biasanya Golok dalam bahasa Lubai disebut Pisau penebasan. Setelah proses penebasan selesai, pohon-pohon kayu besar ditebang. Alat yang digunakan penebangan pohon-pohon kayu besar menggunakan Golok besar dalam bahasa Lubai “Pisau kimpalan” atau menggunakan “beliung”. Saat ini alat yang digunakan untuk menebangkan pohon-pohon besar ini adalah Chainshow “sinsou”. Semak-semak yang telah ditebas terlebih dahulu sebelum proses penebangan akan tertimpa pohon-pohon kayu besar, kelak akan jadi bahan bakar untuk membakar keseluruhan lahan. Kayu-kayu besar yang habis ditebangi kemudian dipangkas, kegiatan ini dalam bahasa Lubai disebut “nutoh hebe”. Kayu-kayu yang dianggap baik mutunya dan dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembuatan rumah dan dangau ditepikan agar tak ikut terbakar.

Penyiapan Lahan

Seusai masa tebas tebang, maka ditunggu masa pembakaran lamanya yaitu sekitar 1 – 2 minggu dengan maksud menunggu kayu semak dan dedaunan kering. Pada masa tunggu itu biasanya para petani di Lubai, membuat kekas atau semacam koridor yang mengelilingi lahan yang akan dibakar. Umumnya selebar 5- 10 meter. Koridor atau jalur kekas sebetulnya berfungsi sebagai pembatas agar api tidak menyambar/melambas kelahan diluar area ladang. Caranya dengan membersihkan kayu, ranting, dan daun-daun yang dapat menjadi bahan bakar api dari lahan yang baru dibuka kelahan yang tidak dibuka, baik milik sendiri maupun milik orang lain. Ayahanda penulis jika membuka lahan peladangan biasanya menyisakan lahan selebar 1-2 meter yang tidak dibabat sebagai pembatas kobaran api.

Pembakaran Lahan

Proses pembakaran dilakukan biasanya pada sore hari, sebab angin mulai tidak kencang. Pemilik lahan biasanya melibatkan para kaum kerabat dan para pemilik lahan disebelahnya untuk ikut mengontrol api. Api disulut ke lahan bakar dengan melawan arah angin. Sederhanya adalah jika arah angin berhembus ke utara maka api pertama disulutkan dari arah selatan lahan. Hal tersebut dilakukan supaya api tidak menyambar dengan sangat cepat.

Pada saat menunggui api padam, umumnya yang membuka lahan menghidangkan bubur kacang hijau dengan kuah manis bersantan. Jika kebetulan bertepatan dengan musim Durian kuah santan akan digantikan kuah Durian dalam bahasa Lubai ”kince”.

Proses selanjutnya usai pembakaran lahan, beberapa hari kemudian dilakukakan pembersihan lahan. Dalam hal pembersihan lahan ini, sisa ranting dan kayu-kayu besar yang tidak habis terbakar dikumpulkan. Sebagian dipilah untuk dijadikan kayu bakar, sebagian lagi pengumpulan ranting-ranting dan kayu-kayu ditempatkan ke titik-titik tertentu yang dianggap tanahnya belum kena bakar. Tanah yang belum kena bakar akan memunculkan kesulitan perawatan tanaman nantinya, sebab akan cepat ditumbuhi gulma. Oleh sebab itu lahan yang tidak terkena bakar harus dibakar ulang, peristiwa ini dalam bahasa Lubai disebut ”Mandok”.

Penanaman padi

Pada awal musim hujan biasanya Uhang Lubai memulai musim tanam. Tanaman pangan utama yang ditanam adalah padi ”oryza sativa” yang tidak seragam. Terdapat dua spesies padi yang dibudidayakan manusia: Oryza sativa yang berasal dari daerah hulu sungai di kaki Pegunungan Himalaya (India dan Tibet/Tiongkok) dan O. glaberrima yang berasal dari Afrika Barat (hulu Sungai Niger). Pada awal mulanya O. sativa dianggap terdiri dari dua subspesies, indica dan japonica (sinonim sinica). Padi japonica umumnya berumur panjang, postur tinggi namun mudah rebah, paleanya memiliki "bulu" (Ing. awn), bijinya cenderung panjang. Padi japonica biasanya agak lengket nasinya. Padi indica, sebaliknya, berumur lebih pendek, postur lebih kecil, paleanya tidak ber-"bulu" atau hanya pendek saja, dan biji cenderung oval.

Penanaman padi dilakukan dengan cara beramai-ramai, pemilik lahan mengundang kaum kerabatnya untuk menanam padi bersama-sama. Alat yang digunakan adalah kayu dibuat runcing dibawahnya dalam bahasa Lubai disebut Tugal. Selain tanaman padi biasanya Uhang Lubai be-ume akan menanam tanaman yang lainnya seperti : 1). Ketela pohon dalam bahasa Lubai ”menggale”, 2). Ketela rambat dalam bahasa Lubai ”silong”, 3). Kentang jembut ”kemili”, 4). Talas, 5). Jagung, 6). Labu. Penanaman padi umumnya dilakukan selama dua tahun, yaitu pada saat ume himbe ’”ladang padi pertama dibuka”, ume punggas ”ladang padi tahun kedua”.

Pagar Ladang

Setiap ladang di daerah Lubai, harus dibuatkan pagar dari kayu dalam bahasa Lubai disebut kandang. Proses pemagaran ini dinamakan ”ngandang ume”. Kayu yang dipergunakan biasanya sisa-sisa dari pembakaran lahan peladangan dan sebagian mencari hutan muda lainnya. Kayu yang ditancapkan ketanah untuk menahan beban pagar disebut ”tajar”. Tajar dibuat dari kayu yang keras seperti kayu pelawan, kayu gelam atau kayu tidak keras akan dapat tumbuh kembali seperti kayu simpuh. Tinggi pagar lebih kurang 175 cm, dibuat dengan menyusun kayu-kayu yang panjang 3 meter. Untuk mengikat pagar dahulu digunakan akar-akar pilihan yang awet kena panas dan hujan. Saat ini untuk mengikat pagar telah menggunakan kawat.

Danggau

Danggau adalah sebuah tempat berteduh ditengah peladangan. Kayu yang dipergunakan biasanya diambil dari sisa-sisa pembakaran lahan peladangan. Danggau dibuat dalam bentuk panggung, dengan ketinggian lebih kurang 2 meter. Agar praktis biasanya kayu yang digunakan untuk tiang adalah kayu yang mempunyai cabang, sehingga mudah untuk menempakan kayu diatas cabang tadi. Ukuran danggau ini biasanya panjang 4 meter dan lebar 3 meter. Lantai panggung digunakan papan, atau menggunakan bambu. Dinding danggau menggunakan kulit kayu kahas atau gaharu. Atapnya danggau menggunakan daun sehedang sejenis pohon nipah.

Panen Padi

Setelah menunggu beberapa bulan lamanya, tanaman padipun menguning bagaikan kilauan emas yang indah dipandang mata. Semilir angin meniup daun padi, dedaunan padi mengeluarkan suara yang indah, membuat petani gairah untuk menjaga ladangnya. Seakan-akan padi-padi itu berkata, tuanku karena engkau telah memeliharaku dengan baik, maka ambillah aku. Sipemilik lahanpun menyiapkan peralatan untuk memanen padinya. Alat-alat yang dipersiapkan adalah behunang, bake dan tuai. Masyarakat Lubai biasanya jika memanen padi, menggunakan alat-alat tersebut diatas.

Tulisan ini hanya sekedar untuk informasi awal saja, untuk lebih silahkan langsung bertanya kepada para peladang di wilayah Lubai.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar