Sabtu, 20 November 2021

Perlengkapan Hidup

 


Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat Lubai yang merupakan masyarakat pedesaan yang sebagai besar hidup dari pertanian mempunyai peralatan dan perlengkapan hidup :

Alat produktif 

Alat untuk memotong pohon : Gergaji, Golok ”pisau”, Golok besar ”pisau kampalan”, Beliung.
Alat untuk mengali tanah ; Tembilang ”linggis” Cangkul ”sehekop”
Alat untuk memotong rumput : Tengkuit; Alat memecah dan menumbuk padi : Isaran dan Lesung.
Alat untuk menangkap ikan : Bubu, Jala ”jale”, Jaring ”pukat”, Gabul dan Sehekap. 

Goloks secara tradisional dibuat dengan kenyal baja karbon yang lebih lembut helai marah daripada pisau besar lainnya. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk berpakaian dan mempertajam di lapangan, meskipun lebih sering juga memerlukan perhatian.

Makanan pokok

Untuk memberikan tenaga dan nutrisi yaitu Nasi, Sayur Mayur dan makanan tambahan seperti Empek – empek. Burge, Rujak Tahu, Buah renggas dibuat dari bahan terigu dan buah pisang. Kue tradisional Lubai : Gule Kuje, Serangi, Gumak, Bole Kuje, Gandus, Engkak renggas, Rusip, Pede, Pengkasam;

Pakaian 

Secara umum pakaian yang dipergunakan oleh masyarakat Lubai sama dengan yang dipergunakan oleh masyarakat lainnya di Sumatera Selatan yaitu :
  • Baju Kurung. Baju kurung adalah baju panjang untuk perempuan, ukuran panjangnya sampai kelutut, ada dibagian dadanya dibelah dan juga tidak. Pengertian kurung secara tidak langsung telah membawa arti mengurung atau menutup anggota tubuh. Cara berpakaian seperti ini sesuai dengan konsep berpakaian cara Melayu setelah kedatangan Islam, sehingga istilah ‘kurung’ diartikan sebagai baju yang longgar dan panjang.
  • Baju Teluk Belanga. Baju Teluk Belanga atau dalam bahasa Lubai disebut baju Teluk Belange. Potongan atau model baju Teluk Belanga pada bagian lehernya hanya di jahit dengan sulaman. Pelengkap dari pakaian ini adalah kain songket yang dipakai dari batas pinggul sampai batas lutut.
Tempat berlindung 

Rumah adat Lubai yaitu rumah berbentuk Limas yang merupakan ciri khas wilayah dari Kesultanan Palembang Darussalam. Rumah adat didirikan di atas panggung, berbentuk memanjang, yang biasanya pembangunan menggunakan Kayu Unglin dan Tembesu. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima di teras atau lantai kedua. Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Selain rumah adat masyarakat Lubai membuat rumah panggung biasa dan membangun rumah semi permanent/permanent mengikuti gaya modern saat ini. Untuk tempat berteduh di Ladang dan Kebon karet masyarakat Lubai membuat Danggau dan punduk.

Alat transportasi

Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Transportasi masyarakat Lubai dulu dibagi 2 yaitu ; transportasi darat dan transportasi sungai. Pada periode tahun 1950-1980 alat transportasi darat menggunakan sepeda dan alat transportasi sunggai menggunakan perahu. Pada periode tahun 1980-2008 alat transportasi darat menggunakan sepeda motor dan kendaraat roda empat.

Senjata tradisional 
  1. Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Keris dalam bahasa Lubai disebut ”kehis”, biasanya dimiliki secara turun temurun.
  2. Tumbuk Lada. Senjata adat ini berbentuk menyerupai badik milik masyarakat bugis, namun memiliki gagang yang lurus, hampir juga menyerupai keris hanya tidak bergelombang. Selain untuk berburu senjata ini juga dipergunakan untuk berperang. Tumbuk Lada dalam bahasa Lubai disebut Tumbak Lade adalah sejenis mirip pisau dan biasanya penuh dengan karatan dan banyak racun.
  3. Tombak dalam bahasa Lubai disebut ”kujur”. Senjata adat ini hampir semua masyarakat suku di Indonesia memiliki alat ini, karena senjata ini lebih memudahkan perburuan, tinggal dilempar saja dan ujungnya yang dipasang semacam belati akan memberikan beban dan tombak pasti bergerak lurus. Selain untuk berburu senjata adat ini juga pernah dipakai untuk berperang.
  4. Trisula atau trishula atau serampang (Sanskerta: trishul) adalah tombak bermata tiga yang secara harfiah berarti tiga tombak. Juga disebut trident dalam bahasa Inggris. Trisula juga digunakan oleh retarii, gladiator dengan penampilan seperti nelayan (membawa jaring).
  5. Pedang bentuknya menyerupai mandau dan parang hanya saja pada kedua sisi pisau memiliki ketajaman yang sama dan ujungnya dibuat tajam. Pedang lebih sering digunakan untuk berperang dibanding untuk berburu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar