Jumat, 04 September 2009

Tumbuhan Duku

Pendahuluan

Tumbuhan Duku adalah tumbuhan identitas untuk Provinsi Sumatera Selatan. Diantaranya terkenal dengan buah duku Komering. Nama-nama yang beraneka ragam ini sekaligus menunjukkan adanya aneka kultivar yang tercermin dari bentuk buah dan pohon yang berbeda-beda. Nama tumbuhan ini : Duku, Nama ilmiah : Lansium parasiticum.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin). 

Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm. 

Bunga L. domesticum bunga yang hermaprodit, yang memiliki keduanya benang sari dan putik struktur di bunga yang sama. Pucat-kuning, bunga berdaging ditemukan di inflorescences atau sekitar tiga puluh, dalam banyak kasus dalam segugus biasanya sekitar tiga puluh sentimeter panjang.Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. 

Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. 

Putiknya tebal dan pendek. Buah-buahan adalah bujur telur, bulat bola sekitar lima sentimeter diameter, biasanya ditemukan pada kelompok dua hingga thirty buah-buahan. Setiap buah bulat ditutupi oleh kekuningan, tebal, kulit kasar. Bawah kulit, buah dibagi menjadi lima atau enam iris tembus, juicy dagingnya. Daging sedikit asam dalam rasa, walaupun spesimen matang manis. 

Biji hijau hadir di sekitar setengah dari segmen, biasanya mengambil sebagian kecil dari segmen meskipun sebagian benih itu mengambil seluruh segmen volume. Berbeda dengan rasa asam manis dari daging buah, biji sangat pahit. Daging segar yang manis mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding buah) tipis hingga tebal (lk. 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh ‘daging’ (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis. 

Kegunaan Tumbuhan

Duku terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan. Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji duku yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam. Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria; sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, di Filipina biasa dibakar sebagai pengusir nyamuk. Kulit buah langsat terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Pohon Duku tanaman puyang Aliaqim bin Sinar di desa Kurungan Jiwa Lubai, mencapai tingginya 15 meter. Dan ada beberapa pohon Duku Tanaman Kakek Haji Hasan bin Puyang Aliaqim di desa Baru Lubai, mencapai tingginya 12 meter. Saat ini pohon duku tersebut sudah tua, dan masa produktifnya sudah berlalu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar