Minggu, 06 September 2009

Tumbuhan Tampui

Pendahuluan

Tumbuhan Tampui adalah sejenis buah dan pohonnya, anggota suku Phyllanthaceae. Buah ini masih sekerabat dengan menteng dan rambai, tetapi berukuran lebih besar dan berkulit lebih tebal. Nama tumbuhan ini : Tampui, Nama lain : Tampoi batang, Tampui daun, Tampui bulan, Tampui benar, Nama ilmiahnya : Baccaurea macrocarpa.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon kecil berumah dua (dioesis); tinggi hingga 27 m dan gemang hingga 64 cm, batang tampui kerap beralur-alur dalam hingga setinggi 5 m. Kadang-kadang berbanir kecil dan rendah.

Daun-daun tersebar, daun penumpu panjang hingga 9 mm. Helaian daun jorong hingga bundar telur atau bundar telur sungsang, (7,2–)9–37 × 3,1–17,5 cm, bertangkai panjang hingga 14,5 cm. Perbungaan kebanyakan muncul pada cabang (ramiflory) atau pada batang (cauliflory), tandan bunga jantan panjang hingga 13 cm, yang betina hingga 18 cm, bercabang-cabang. Bunga-bunga berukuran kecil, yang jantan dengan diameter hingga 2 mm, hijau, kuning, atau putih; yang betina sedikit lebih besar hingga 4,5 mm.

Buah-buah terangkai dalam tandan panjang hingga 15 cm, dengan tangkai setebal 4-6 mm. Berbentuk bulat atau hampir bulat, buah tampui merupakan buah kotak berdinding tebal mengayu, coklat hingga kelabu di bagian luar, berukuran 30–65 × 34–75 × 34–75 mm. Berbiji (2–) 3–6 butir, yang tertutup oleh salut biji berwarna putih hingga kuning, kadang-kadang jingga.

Kegunaan Tumbuhan

Pohon Tampui merupakan endemik hutan tropis seperti hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Buahnya enak untuk dimakan rasanya mirip-mirip buah Rambutan namun daging lebih tebal dari Rambutan. 

Penutup

Buah Tampui, saat ini banyak orang yang tidak pernah menjumpainya dan memakan buah ini. Karena tumbuhan Tampui tidak banyak di budidayakan. Dulu di desa Baru Lubai, Kakek penulis Haji Hasan bin Aliaqim menanam pohon Tampui di areal pertanian dekat Bakal Anyar. Saat ini tanah itu telah menjadi areal perumahan masyarakat desa Jiwa Baru, kecamatab Lubai, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. Letak tanah itu sangat strategis, karena dekat dengan pemukiman penduduk. Namun sayang penulis tidak dapat mempertahankan keberadaan tanah warisan itu, karena telah dijual.

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar