Sabtu, 20 November 2021

Perlengkapan Hidup

 


Teknologi menyangkut cara-cara atau teknik memproduksi, memakai, serta memelihara segala peralatan dan perlengkapan. Teknologi muncul dalam cara-cara manusia mengorganisasikan masyarakat, dalam cara-cara mengekspresikan rasa keindahan, atau dalam memproduksi hasil-hasil kesenian. Masyarakat Lubai yang merupakan masyarakat pedesaan yang sebagai besar hidup dari pertanian mempunyai peralatan dan perlengkapan hidup :

Alat produktif 

Alat untuk memotong pohon : Gergaji, Golok ”pisau”, Golok besar ”pisau kampalan”, Beliung.
Alat untuk mengali tanah ; Tembilang ”linggis” Cangkul ”sehekop”
Alat untuk memotong rumput : Tengkuit; Alat memecah dan menumbuk padi : Isaran dan Lesung.
Alat untuk menangkap ikan : Bubu, Jala ”jale”, Jaring ”pukat”, Gabul dan Sehekap. 

Goloks secara tradisional dibuat dengan kenyal baja karbon yang lebih lembut helai marah daripada pisau besar lainnya. Hal ini membuat mereka lebih mudah untuk berpakaian dan mempertajam di lapangan, meskipun lebih sering juga memerlukan perhatian.

Makanan pokok

Untuk memberikan tenaga dan nutrisi yaitu Nasi, Sayur Mayur dan makanan tambahan seperti Empek – empek. Burge, Rujak Tahu, Buah renggas dibuat dari bahan terigu dan buah pisang. Kue tradisional Lubai : Gule Kuje, Serangi, Gumak, Bole Kuje, Gandus, Engkak renggas, Rusip, Pede, Pengkasam;

Pakaian 

Secara umum pakaian yang dipergunakan oleh masyarakat Lubai sama dengan yang dipergunakan oleh masyarakat lainnya di Sumatera Selatan yaitu :
  • Baju Kurung. Baju kurung adalah baju panjang untuk perempuan, ukuran panjangnya sampai kelutut, ada dibagian dadanya dibelah dan juga tidak. Pengertian kurung secara tidak langsung telah membawa arti mengurung atau menutup anggota tubuh. Cara berpakaian seperti ini sesuai dengan konsep berpakaian cara Melayu setelah kedatangan Islam, sehingga istilah ‘kurung’ diartikan sebagai baju yang longgar dan panjang.
  • Baju Teluk Belanga. Baju Teluk Belanga atau dalam bahasa Lubai disebut baju Teluk Belange. Potongan atau model baju Teluk Belanga pada bagian lehernya hanya di jahit dengan sulaman. Pelengkap dari pakaian ini adalah kain songket yang dipakai dari batas pinggul sampai batas lutut.
Tempat berlindung 

Rumah adat Lubai yaitu rumah berbentuk Limas yang merupakan ciri khas wilayah dari Kesultanan Palembang Darussalam. Rumah adat didirikan di atas panggung, berbentuk memanjang, yang biasanya pembangunan menggunakan Kayu Unglin dan Tembesu. Selain ditandai dengan atapnya yang berbentuk limas, rumah tradisional ini memiliki lantai bertingkat-tingkat yang disebut Bengkilas dan hanya dipergunakan untuk kepentingan keluarga seperti hajatan. Para tamu biasanya diterima di teras atau lantai kedua. Saat ini rumah limas sudah mulai jarang dibangun karena biaya pembuatannya lebih besar dibandingkan membangun rumah biasa. Selain rumah adat masyarakat Lubai membuat rumah panggung biasa dan membangun rumah semi permanent/permanent mengikuti gaya modern saat ini. Untuk tempat berteduh di Ladang dan Kebon karet masyarakat Lubai membuat Danggau dan punduk.

Alat transportasi

Transportasi adalah pemindahan manusia atau barang dari satu tempat ke tempat lainnya dengan menggunakan sebuah wahana yang digerakkan oleh manusia atau mesin. Transportasi digunakan untuk memudahkan manusia dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Transportasi masyarakat Lubai dulu dibagi 2 yaitu ; transportasi darat dan transportasi sungai. Pada periode tahun 1950-1980 alat transportasi darat menggunakan sepeda dan alat transportasi sunggai menggunakan perahu. Pada periode tahun 1980-2008 alat transportasi darat menggunakan sepeda motor dan kendaraat roda empat.

Senjata tradisional 
  1. Keris adalah senjata tikam golongan belati (berujung runcing dan tajam pada kedua sisinya) dengan banyak fungsi budaya yang dikenal di kawasan Nusantara bagian barat dan tengah. Bentuknya khas dan mudah dibedakan dari senjata tajam lainnya karena tidak simetris di bagian pangkal yang melebar, seringkali bilahnya berliku-liku, dan banyak di antaranya memiliki pamor (damascene), yaitu guratan-guratan logam cerah pada helai bilah. Jenis senjata tikam yang memiliki kemiripan dengan keris adalah badik. Keris dalam bahasa Lubai disebut ”kehis”, biasanya dimiliki secara turun temurun.
  2. Tumbuk Lada. Senjata adat ini berbentuk menyerupai badik milik masyarakat bugis, namun memiliki gagang yang lurus, hampir juga menyerupai keris hanya tidak bergelombang. Selain untuk berburu senjata ini juga dipergunakan untuk berperang. Tumbuk Lada dalam bahasa Lubai disebut Tumbak Lade adalah sejenis mirip pisau dan biasanya penuh dengan karatan dan banyak racun.
  3. Tombak dalam bahasa Lubai disebut ”kujur”. Senjata adat ini hampir semua masyarakat suku di Indonesia memiliki alat ini, karena senjata ini lebih memudahkan perburuan, tinggal dilempar saja dan ujungnya yang dipasang semacam belati akan memberikan beban dan tombak pasti bergerak lurus. Selain untuk berburu senjata adat ini juga pernah dipakai untuk berperang.
  4. Trisula atau trishula atau serampang (Sanskerta: trishul) adalah tombak bermata tiga yang secara harfiah berarti tiga tombak. Juga disebut trident dalam bahasa Inggris. Trisula juga digunakan oleh retarii, gladiator dengan penampilan seperti nelayan (membawa jaring).
  5. Pedang bentuknya menyerupai mandau dan parang hanya saja pada kedua sisi pisau memiliki ketajaman yang sama dan ujungnya dibuat tajam. Pedang lebih sering digunakan untuk berperang dibanding untuk berburu.

Tumbuhan Cempaka

Pendahuluan

Tumbuhan Cempaka wangi atau cempaka kuning (Magnolia champaca) adalah pohon hijau abadi besar yang bunga putih atau kuningnya dikenal luas sebagai sumber wewangian. Tumbuhan ini berasal anak benua India dan Asia Tenggara. Nama tumbuhan ini : Cempaka kuning, Nama lain : Jeumpa (aceh), Jempa (gayo), Campaga (minangkabau), Cempaka kuning (melayu), Nama ilmiah : Magnolia champaca.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon, tinggi 15-25 m. Ujung ranting berambut. Daun bulat telur bentuk lanset, dengan ujung dan pangkal runcing, 10-28 kali 4,5-11 cm, tipis seperti kulit. Bekas daun penumpu pada tangkai daun panjangnya lebih daripada setengah tangkai daun. Bunga berdiri sendiri, oranye, sanget harum baunya.

Daun tenda bunga panjangnya 3-5 cm, yang terdalam lebih sempit dan lebih runcing daripada yang terluar. Pada dasar bunga yang berbentuk tiang, bakal buah dan benang sari jelas dipisahkan oleh suatu ruang. Bakal buah lebih daripada 20, berjejal-jejal, bentuk telur yang pipih, berambut, masing-masing dengan bakal biji yang banyak.

Buah bentuk bola memanjang, sedikit bengkok, mula-mula hijau, kemudian abu-abu pucat, tertutup dengan jerawat. Biji masak merah tua tergantung keluar pada berkas yang memanjang menjadi benang yang langsing. Dari India, di Jawa ditanam untuk bunganya. Di bawah 1.200 m.

Kegunaan Tumbuhan

Tiap bagian tanaman cempaka kuning mempunyai khasiat berbeda berdasarkan pengobatan empiris. Bunga cempaka kuning digunakan sebagai aroma perawatan rambut. Daunnya memiliki khasiat mengobati perut mulas, batu ginjal dan bau mulut. Kulit kayunya digunakan untuk mengobati demam serta 8 haid tidak teratur (Widyaningrum, 2011)

Daun : batu ginjal, mulas, napas/mulut bau. Kulit kayu : demam, haid tidak teratur. Bunga : aroma perawatan rambut. Komposisi : Minyak fenol, isoeugenol, sineol, bensilaldehida, dan feniletilalkohol. Kulit kayu dan daun: alkaloid, zat samak. Bunga: minyak atsiri.

Pemanfaatan bunga Jeumpa antara lain dapat digunakan sebagai campuran pada jamu atau digunakan untuk wewangian rambut atau diramu bersama bahan lain untuk dijadikan parfum. Bunganya dapat disarikan untuk digunakan minyak wangi atau campuran pewangi pada kosmetika.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini

Tumbuhan Kantil

Pendahuluan

Tumbuhan Cempaka putih atau kantil adalah salah satu anggota suku Magnoliaceae. Tumbuhan ini dikenal di Indonesia dan beberapa negara tetangganya karena kuncup bunganya sering kali dipakai dalam upacara-upacara tradisional atau ritual tertentu. Nama tumbuhan ini : Cempaka Putih, Nama lain : Kantil (jawa), Cempaka bodas (sunda), Campaka (madura), Jeumpa gadeng (aceh), Campaka putieh (minangkabau), Sampaka mopusi (mongondow), bunga eja kebo (makasar), Capaka bobudo (ternate), Capaka bobulo (tidore), Nama ilmiah : Magnolia alba.

Karakteristik Tumbuhan

Tanaman ini memang tumbuh subur di dataran rendah maupun dataran tinggi beriklim tropis. Bunga kantil sendiri sudah dimanfaatkan masyarakat untuk kesehatan dan kecantikan. Pohon kantil mempunyai tinggi yang mampu mencapai 30 meter dan mempunyai batang yang berkayu. Pada ranting-ranting pohon cempaka putih biasanya ditumbuhi bulu-bulu halus berwarna keabu-abuan.

Daun kantil (cempaka putih) tunggal berbentuk bulat telur dan berwarna hijau. Tangkai daun lumayan panjang, mencapai hampir separo panjang daunnya. Kantil (Michelia alba) mempunyai bunga berwarna putih yang mempunyai bau harum yang khas. Tanaman yang dimitoskan sebagai rumah kuntilanak ini jarang ditemukan mempunyai buah karena itu perbanyakan dilakukan secara vegetatif.

Habitat dan Persebaran. Pohon kantil (cempaka putih) tersebar mulai daratan Asia beriklim tropis hingga beberapa pulau di kawasan Pasifik. Di Indonesia, tanaman ini yang menjadi flora identitas provinsi Jawa Tengah ini tersebar hampir di seluruh wilayah Indonesia. Habitat tumbuhan kantil meliputi daerah beriklim tropis pada dataran rendah hingga ketinggian mencapai 1.600 meter dpl.

Kegunaan Tumbuhan

Bunga Kantil mempunyai nilai tradisi yang erat bagi masyarakat Jawa, terutama di Jawa Tengah. Bunga Kantil banyak di gunakan pada upacara perkawinan terutama sebagai hiasan sanggul dan keris. Selain itu bunga kantil juga digunakan pada upacara kematian dan tabur bunga (nyekar).

Secara medis, bunga, batang, daun kantil (Michelia alba) mengandung alkaloid mikelarbina dan liriodenina yang mempunyai khasiat sebagai ekspektoran dan diuretik. Karena kandungan yang dipunyainya, kantil dipercaya dapat menjadi obat alternatif bagi berbagai penyakit seperti bronkhitis, batuk, demam, keputihan, radang, prostata, infeksi saluran kemih, dan sulit kencing.

Sayangnya khasiat yang dipunyai oleh bunga cempaka putih ini belum tereksplorasi secara maksimal. Sehingga meski saat ini mulai ada yang berusaha membudidayakan tanaman ini tetapi pemanfaatannya lebih banyak untuk acara-acara spiritual dan tradisi.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini

Tumbuhan Jabon

Pendahuluan

Tumbuhan Jabon biasanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture dan bahan baku industri kertas. Nama tumbuhan ini : Jabon atau Jati Bongsor, Nama lain : Gempol, Pepohong, Hanja, Kelampean, Kelampeyan, Kelampaian (jawa). Galupai, Harapean, Johan, Kiuna, Serebunaik, ilan, Kelampayan, Taloh, Tawa telan. Tuak, Tuneh, Tuwak. (kalimantan). Bance, Pute, Loeraa, Pontua, Pekaung, Sugi manai, Suge manai, Toa (sulawesi). Nama ilmiah : Anthocepalus cadamba, Anthocephalus chinensis.

Karakteristik Tumbuhan

Jabon Merupakan satu diantara jenis tanaman kayu keras yang pertumbuhannya sangat cepat dan dapat tumbuh subur di hutan tropis dengan ketinggian 0 – 1000 m dpl., Pertumbuhan diameter pohon antara 5-10 cm/tahun. Lingkar batang pada usia 6 (enam) tahun dapat mencapai 150 cm (diameter 40 cm sampai 50 cm). Usia Optimal panen adalah pada usia tanaman antara 10 sampai 15 tahun, namun begitu panen dini sudah dapat dilakukan pada usia pohon (tanaman) 5 atau 6 tahun (diameter pohon sudah mencapai 40 cm sampai 50 cm). Saat ini Jabon menjadi andalan industri perkayuan, termasuk kayu lapis, karena Jabon memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan tanaman kayu lainnya termasuk sengon/albasia. 

Kegunaan Tumbuhan

Kayu jabon biasanya dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan furniture dan bahan baku industri kertas. Pohonnya biasanya tumbuh di kawasan Asia Tenggara dan Asia Selatan. Dalam bahasa Inggris disebut burnflower. Pohon jabon terdiri dari dua jenis, pohon jabon putih dan pohon jabon merah.

Dalam segi kualitas kayu jabon merah lebih unggul dibanding jabon putih. Selain kayunya, beberapa bagian pohon jabon juga dimanfaatkan untuk beberapa keperluan. Berikut ini manfaat kayu ini yang bisa disimak.

Tidak hanya batang kayunya yang memiliki banyak kegunaan. Beberapa bagian dari pohon jabon memiliki manfaat yang masih belum banyak diketahui. Berikut ini bagian-bagian pohon jabon yang bisa dimanfaatkan:
  • Daun. Daun tanaman jabon bisa digunakan sebagai pakan ternak. Selain itu, ekstrak daun jabon dapat diolah menjadi nanopartikel perak. Dimana hasil olahannya dapat digunakan untuk memperkuat permukaan suatu jenis logam. Tidak hanya itu daun jabon juga mengandung antimikroba yang biasa digunakan sebagai obat kumur penghilang bakteri di mulut.
  • Akar. Selain batang kayu dan daunnya, akar pohon jabon juga bisa dimanfaatkan. Kulit dari akar pohon jabon dapat dijadikan sebagai bahan pewarna alami.
  • Bunga. Untuk bagian bunganya, biasanya digunakan untuk bahan utama pembuatan attar, yaitu parfum khas dari India. Jenis parfum tersebut dibuat dengan mengkombinasikan bunga jabon dengan tanaman sandalwood.
Kesan Tumbuhan
  • Pertama kali saya melihat pohon Jabon pada tahun 1971, ketika keluarga saya membuka lahan perkebunan kopi di pedukuhan Sekampung Kuning, desa Datar Lebuai, kecamatan Air Naningan, kabupaten Tanggamus, provinsi Lampung. Lahan yang dijadikan kebun Kopi oleh ayahanda penulis adalah Rimba belantara dan didekat Rimba belantara tersebut ada belukar bekas lahan ladang padi yang sudah berumur 4 tahun. Pada belukar bekas ladang padi tersebut terdapat beberapa pohon-pohon yang tumbuh subur seperti : pohon Nelong, pohon Terap, pohon Pisang hutan dan beberapa pohon yang tumbuh lurus, daunnya lebar-lebar ayahanda penulispun tidak tau namanya. Sampai keluarga saya meninggalkan lahan kebun Kopi tersebut pada tahun 1998, nama pohon tersebut belum tau namanya. Setelah saya mencari informasi kedunia maya pada tanggal 28 Oktober 2012, akhirnya saya menemukan nama kayu yang pernah tumbuh dibelukar milik keluarga kami yaitu pohon Jabon alias Jati Bongsor.
  • Kesan penulis terhadap kayu Jabon, suatu ketika penulis dan pengurus Pembinaan Bintal Islam pada tanggal 18 Agustus 2012, membagikan zakat mal pegawai lingkup Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perbendaharaan Provinsi Lampung. Ketika kami mengunjung rumah panti asuhan di kelurahan Tanjung Senang kota Bandar Lampung, saya melihat beberapa pohon Jabon ditanam didekat rumah panti asuhan tersebut. Saat saya melihat pohon-pohon Jabon yang ditanam teratur, tumbuh dengan subur batangnya sudah mencapai ketinggian 5 meter, saya sangat terkesan melihatnya dan saya teringat seperti pernah melihat pohon-pohon ini namun saya tidak tau namanya.
  • Pada tanggal 17 Oktober 2012, saya pergi mencari kambing ke desa Karang Anyar, kecamatan Jati Agung, kabupaten Lampung Selatan, tanpa sengaja saya melihat dipinggir jalan pada lahan milik warga setempat ditanam pohon-pohon Jabon yang ketinggiannya sudah mencapai 6 meter. 
  • Pada tanggal 21 Oktober 2012, saya pergi ke resepsi pernikahan saudara di perumahan Rupi indah di desa Rupi, kecamatan Suka Bumi, kabupaten Lampung Selatan, ketika saya melintas didekat kampus Institut Agama Islam Negeri Bandar Lampung, kembali saya melihat bibit-bibit pohon Jabon. 
Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini

Tumbuhan Kabau

Pendahuluan

Tumbuhan Kabau adalah lalapan sejenis petai dan jering. Tanaman ini hidup di daerah tropis, bentuk pohonnya menyerupai tanaman jengkol dan termasuk ke dalam marga Archidendron. Walaupun buah ini berbau tidak sedap seperti jering dan petai, tetapi inilah yang menjadikan kabau sebagai sayuran yang banyak dikonsumsi layaknya kedua tumbuhan tersebut. Nama tumbuhan ini : Kabau, Nama lain : Julang jaling, Jering antan, Hylocereus polyrhizus (inggris), Nama ilmiah : Archidendron microcarpum.

Karakteristik Tumbuhan

Daun dan pohonnya mirip jengkol, buahnya bulat memanjang berwarna hijau seperti kacang polong. Dalam satu polong, memuat 8-12 biji kabau yang tersusun rapi. Lazimnya, tumbuhan yang bernama latin pithecolobium ellipticum ini ditanam di kebun. Namun banyak juga yang tumbuh liar di hutan.

Kabau adalah lalapan sejenis petai atau jering. Kabau berupa buah yang lonjong berwarna hijau dan berbentuk seperti kacang polong, tapi kalau dibelah kulitnya berjejer beberapa buah, berkulit hitam dan berdaging hijau di dalamnya. Biasanya, tanaman ini hidup di daerah tropis, dan termasuk tumbuhan liar yang tumbuh di hutan-hutan Sumatera. Buah ini berbau tidak sedap seperti jering dan petai, inilah yang menjadikan kabau sebagai sayuran yang dikonsumsi layaknya kedua tumbuhan tersebut.

Kegunaan Tumbuhan

Kabau dikonsumsi sebagai lalapan dan biasanya dikonsumsi dengan nasi yang bergulai santan, tempoyak, ataupun gulai khas Sumatera lainnya. Berdasarkan pengalaman yang ada, kabau memiliki zat kapur yang seperti dimiliki jering. Ini bisa mengakibatkan kaput, yang ditandai dengan susah buah air seni dan adanya zat seperti kapur yang keluar bersamaan dengan urin.

Tiada satu pun ciptaan Allah di muka bumi ini tanpa memberi manfaat. Katakan saja tumbuhan jelatang yang daunnya terkenal beracun dan ganas. Jangan dikira tiada berguna. Konon pada zaman penjajahan, tentara kolonial ragu masuk ke kampung kami. Karena di sana terkenal banyak tumbuhan jelatang. Jadi, warga setempat tak perlu terlalu khawatir. Negeri mereka jarang didatangi tentara Belanda.

Begitu pula dengan kabau. Buah mudanya dijadikan lalapan yang membangkitkan selera makan. Setelah tua, diolah menjadi berbagai sambal. Misalnya digoreng garing balado bercampur ikan salai kecil-kecil atau teri, disantap bersama nasi hangat. Selain itu sebagai campuran sambal kelapa atau serundeng dan lain sebagainya.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digtal melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tumbuhan Petai

Pendahuluan


Tumbuhan  Petai merupakan pohon tahunan tropika dari suku polong-polongan. Tumbuhan ini tersebar luas di Nusantara bagian barat. Bijinya, yang disebut "petai" juga, dikonsumsi ketika masih muda, baik segar maupun direbus. Biji hijau cerah ukuran dan bentuk almond gemuk yang memiliki bau yang agak aneh. Nama tumbuhan ini : Petai, Nama lain : Pete, Kacang pahit, Sataw. Nama ilmiah : Parkia speciosa.

Karakteristik Tumbuhan

Tumbuhan petai dapat tumbuh sekitar 90 kaki (30 meter). Pohon petai menahun, tinggi dapat mencapai 20m dan kurang bercabang. Daunnya majemuk, tersusun sejajar. Bunga majemuk, tersusun dalam bongkol (khas Mimosoidae). Bunga muncul biasanya di dekat ujung ranting yang mengeluarkan nektar yang menarik dan kelelawar penyerbuk lainnya. . Buahnya besar, memanjang, betipe buah polong. Dari satu bongkol dapat ditemukan sampai belasan buah. Dalam satu buah terdapat hingga 20 biji, yang berwarna hijau ketika muda dan terbalut oleh selaput agak tebal berwarna coklat terang. Buah petai akan mengering jika masak dan melepaskan biji-bijinya. 

Kegunaan Tumbuhan

Kadar gula darah tinggi merupakan salah satu tanda penyakit diabetes. Jika dibiarkan berkepanjangan, kadar gula darah tinggi yang tidak terkontrol ini dapat menimbulkan berbagai komplikasi yang berbahaya. Oleh karena itu, penting untuk mengontrol kadar gula darah guna mencegah penyakit diabetes dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi diabetes. Gula darah bisa dikontrol dengan rutin olahraga serta mengonsumsi makanan sehat dan membatasi asupan gula. Salah satu makanan yang dipercaya baik untuk mengontrol gula darah adalah petai. Ini berkat kandungan antioksidan serta zat kimia beta-sitosterol dan stigmasterol pada petai yang dapat menjaga agar gula darah tidak melonjak.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini

Jumat, 19 November 2021

Tumbuhan Kecapi

Pendahuluan

Tumbuhan Kecapi adalah nama sejenis buah dan juga pohon penghasilnya. Bentuk buah ini mirip dengan manggis, hanya saja kulit buah kecapi berwarna kuning sementara manggis berwarna ungu tua. Nama tumbuhan ini : Kecapi, Nama lain : setol (lubai), kechapi (malaysia), sentol, santol santor (pilfina), Nama ilmiah : Sandoricum koetjape (Burm.f.) Merr. 

Karakteristik Tumbuhan

Pohon kecapi merupakan pohon yang rimbun dan besar, dapat mencapai tinggi 30 m, meski umumnya di pekarangan hanya mencapai sekitar 20-an meter. Batang dapat mencapai diameter 90 cm, bergetah seperti susu. Daun majemuk berselang-seling, bertangkai s/d 18 cm, menyirip beranak daun tiga, bentuk jorong sampai bundar telur, 6-26 × 3-16 cm; membulat atau agak runcing di pangkal, meruncing di ujung; hijau berkilat di sebelah atas, hijau kusam di bawahnya. Anak daun ujung bertangkai panjang, jauh lebih panjang dari tangkai anak daun sampingnya. Bunga dalam malai di ketiak daun, berambut, menggantung, sampai dengan 25 cm. Bunga berkelamin dua, bertangkai pendek; kelopak bertaju 5; mahkota 5 helai, kuning hijau, lanset sungsang, 6-8 mm; samar-samar berbau harum. Buah buni bulat agak gepeng, 5-6 cm, kuning atau kemerahan jika masak, berbulu halus seperti beludru. Daging buah bagian luar tebal dan keras, menyatu dengan kulit, kemerahan, agak masam; daging buah bagian dalam lunak dan berair, melekat pada biji, putih, masam sampai manis. Biji 2-5 butir, besar, bulat telur agak pipih, coklat kemerahan berkilat; keping biji berwarna merah.

Kegunaan Tumbuhan

Wasir adalah struktur vaskular di saluran anus, mereka membantu mengendalikan tinja. Jika bagian ini bermasalah, akan terjadi pembengkakan, peradangan, perdarahan dan thrombosis. Vitamin C dalam buah kecapi membantu mempromosikan endotel yang sehat di pembuluh darah. Serat membantu menjaga tinja tetap lembut. Saat feses sudah empuk, Moms tidak perlu mengejan saat buang air besar.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.