Ads 468x60px

Labels

Kamis, 30 Juli 2009

SOFT SKILLS DAN HARD SKILLS


Wikipedia menuliskan pengertian Soft Skill dan Hard Skill sebagai berikut :
Soft skills is a sociological term which refers to the cluster of personality traits, social graces, facility with language, personal habits, friendliness, and optimism that mark people to varying degrees. Soft skills complement Hard skills, which are the technical requirements of a job.
• Soft skill atau keterampilan sosiologis adalah istilah yang merujuk kepada tingkat dari kepribadian seseorang, tingkat sosial, kemampuan komunikasi, kebiasaan pribadi, keramah-tamahan, dan optimisme yang menandai orang untuk memvariasikan derajat. 
• Hard skills atau keterampilan fisik adalah kemampuan keterampilan yang merupakan persyaratan teknis dari pekerjaan.
Sementara ada yang mendefinisikan Hard Competence sebagai berikut :
The hard competence referring to job-specific abilities, and relevance will be about specific knowledge relating to “up to date” systems.
Hard kompetensi merujuk ke pekerjaan-kemampuan khusus, dan relevansi akan spesifik tentang pengetahuan yang berkaitan dengan "up-to-date" sistem. Ada yang menyebut Hard Competence sebagai Hard Skill atau Technical Competence atau Functional Competence, dan memberikannya pengertian sebagai berikut :
Functional competence refers to the ability to accomplish job purposes in a system. 
Fungsional kompetensi merujuk kepada kemampuan untuk mencapai tujuan pekerjaan, dalam suatu sistem. Rasanya tak salah, kalau penulis membuat definisi sendiri tentang Soft Skill atau Soft Competence serta Hard Skill atau Hard Competence ini :
Ada hadits Nabi yang berbunyi :
Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil (professional atau ahli). Barangsiapa bersusah-payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajalla. (HR. Ahmad)
Hadits ini sudah cukup mewakili perpaduan yang serasi antara Soft Competence dan Hard Competence dalam diri seseorang.
Dalam hadits itu, Soft Competence menjadi core (inti) setiap tindakan, termasuk karya dan keterampilan, yang merupakan Hard Competence yang bersifat spesifik dan khas di tiap orangnya.
Banyak sekali hadits Nabi yang menempatkan usaha seseorang di bidangnya ”Hard Competence” dalam bingkai Soft Competence :
Sesungguhnya Ruhul Qudus (malaikat Jibril) membisikkan dalam benakku bahwa jiwa tidak akan wafat sebelum lengkap dan sempurna rezekinya. Karena itu hendaklah kamu bertakwa kepada Allah dan memperbaiki mata pencaharianmu. Apabila datangnya rezeki itu terlambat, janganlah kamu memburunya dengan jalan bermaksiat kepada Allah karena apa yang ada di sisi Allah hanya bisa diraih dengan ketaatan kepada-Nya. (HR. Abu Zar dan Al Hakim)
Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya ketrampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam itu ia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad)

Antara Hard Skill dan Soft Skill 
What? atau Apa ?

Konsep tentang Soft Skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah kecerdasan emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intrapersonal dan interpersonal.

Secara garis besar Soft Skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : Intrapersonal skill dan Iterpersonal skill. 
• Intrapersonal skill mencakup : self awareness (self confident, self assessment, trait & preference, emotional awareness) dan self skill ( improvement, self control, trust, worthiness, time/source management, proactivity, conscience).
• Interpersonal skill mencakup social awareness (political awareness, developing others, leveraging diversity, service orientation, empathy dan social skill (leadership, influence, communication, conflict management, cooperation, team work, synergy)

Kompetensi teknis dan akademis “Hard skill” lebih mudah diseleksi. Kompetensi ini dapat langsung dilihat pada daftar riwayat hidup, pengalaman kerja, indeks prestasi dan ketrampilan yang dikuasai. Sedangkan untuk Soft skill biasanya dievaluasi oleh psikolog melalui psikotes dan wawancara mendalam. Interpretasi hasil psikotes, meskipun tidak dijamin 100% benar namun sangat membantu perusahaan dalam menempatkan ‘the right person in the right place’.

Hampir semua perusahaan dewasa ini mensyaratkan adanya kombinasi yang sesuai antara hard skill dan soft skill, apapun posisi karyawannya. Di kalangan para praktisi SDM, pendekatan ala hard skill saja kini sudah ditinggalkan. Percuma jika hard skill oke, tetapi soft skillnya buruk. Hal ini bisa dilihat pada iklan-iklan lowongan kerja berbagai perusahaan yang juga mensyaratkan kemampuan soft skill, seperi team work, kemampuan komunikasi, dan interpersonal relationship, dalam job requirementnya. Saat rekrutasi karyawan, perusahaan cenderung memilih calon yang memiliki kepribadian lebih baik meskipun Hard skillnya lebih rendah. Alasannya sederhana : memberikan pelatihan ketrampilan jauh lebih mudah daripada pembentukan karakter. Bahkan kemudian muncul tren dalam strategi rekrutasi „ Recruit for Attitude, Train for Skill“.

Hal tersebut menunjukkan bahwa : Hard skill merupakan faktor penting dalam bekerja, namun keberhasilan seseorang dalam bekerja biasanya lebih ditentukan oleh Soft skillnya yang baik. Psikolog kawakan, David McClelland bahkan berani berkata bahwa faktor utama keberhasilan para eksekutif muda dunia adalah kepercayaan diri, daya adaptasi, kepemimpinan dan kemampuan mempengaruhi orang lain. Yang tak lain dan tak bukan merupakan Soft skill.

Why? atau Mengapa ?

Dunia kerja percaya bahwa sumber daya manusia yang unggul adalah mereka yang tidak hanya memiliki kemahiran Hard skill saja tetapi juga piawai dalam aspek Soft skillnya. Dunia pendidikanpun mengungkapkan bahwa berdasarkan penelitian di Harvard University Amerika Serikat ternyata kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis ”Hard skill” saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain ”Soft skill”. Penelitian ini mengungkapkan, kesuksesan hanya ditentukan sekitar 20% oleh Hard skill dan sisanya 80% oleh Soft skill.

Adalah suatu realita bahwa pendidikan di Indonesia lebih memberikan porsi yang lebih besar untuk muatan Hard skill, bahkan bisa dikatakan lebih berorientasi pada pembelajaran Hard skill saja. Lalu seberapa besar semestinya muatan Soft skill dalam kurikulum pendidikan?, kalau mengingat bahwa sebenarnya penentu kesuksesan seseorang itu lebih disebabkan oleh unsur Soft skillnya.

Jika berkaca pada realita di atas, pendidikan Soft skill tentu menjadi kebutuhan urgen dalam dunia pendidikan. Namun untuk mengubah kurikulum juga bukan hal yang mudah. Pendidik seharusnya memberikan muatan-muatan pendidikan Soft skill pada proses pembelajarannya. Sayangnya, tidak semua pendidik mampu memahami dan menerapkan nya. Lalu siapa yang harus melakukannya? Pentingnya penerapan pendidikan Soft skill idealnya bukan saja hanya untuk anak didik saja, tetapi juga bagi pendidik.


How? atau Bagaimana ?

Para ahli manajemen percaya bahwa bila ada dua orang dengan bekal Hard skill yang sama, maka yang akan menang dan sukses di masa depan adalah dia yang memiliki Soft skill yang lebih baik.


Rekrutmen dan Seleksi
Recruitment and Selection merupakan salah satu elemen penting dan kritikal dari manajemen sumber daya manusia yang efektif. Dalam paradigma manajemen sumber daya manusia, proses recruitment and selection bukan hanya sekedar sebuah mekanisme mengisi posisi yang lowong dalam sebuah organisasi, namun lebih kepada menjaga keseimbangan dinamika kehidupan dari organisasi tersebut.
  Proses recruitment and selection ini memiliki sebuah trend yang berubah dari masa ke masa. Di era 80an, individualist performer versus team player menjadi fokus utama dalam sebuah proses recruitment and selection . Hal ini berubah pada era 90an. Perusahaan lebih memperhatikan pada serentetan daftar keahlian dan kemampuan yang dimiliki kandidat untuk mendukung dirinya sebagai seorang spesialis. Di awal tahun 2000, trend kembali berubah kepada multi skill & competency base analysis . 
Prinsip The Right Man in The Right Place adalah prinsip yang selalu dipegang oleh para praktisi manajemen sumber daya manusia hingga saat ini. Prinsip ini seringkali salah diterjemahkan sebagai 100 % kesesuaian Hard skill dan pengalaman kerja sebelumnya dengan bidang kerja yang tersedia saat ini.
  
Dengan kata lain, mampu untuk menampilkan performa kerja yang maksimal dengan training yang minimal. Padahal, ada satu hal penting yang sering terlupakan oleh para praktisi manajemen sumber daya manusia, yaitu Soft skill.
Pemahaman dari istilah Hard skill adalah skill yang dapat menghasilkan sesuatu sifatnya visible dan immediate . Contohnya adalah skill untuk mengoperasikan forklift . Perusahaan dapat dengan segera melihat apakah seseorang calon karyawan benar-benar dapat mengoperasikan forklift pada saat ia diuji untuk mengoperasikan mesin forklift tersebut. Tidak seperti Hard skill, Soft skill bersifat invisible dan tidak segera. 
Contoh Soft skill antara lain: kemampuan beradaptasi, komunikasi, kepemimpinan, pengambilan keputusan, pemecahan masalah, conflict resolution , dan lain sebagainya. Hard skill dapat dinilai dari technical test atau practical test . Namun bagaimana cara untuk menilai soft skill yang dimiliki oleh seseorang?
Recruitment consultancy firm menggunakan teknik wawancara yang mendalam dan menyeluruh dengan pendekatan behavioral interview . Dengan behavioral interview, diharapkan kandidat-kandidat tidak hanya memiliki Hard skill namun juga didukung oleh Soft skill yang baik. 


Tinjauan Hard Skill dan Soft Skill untuk Masyarakat Lubai

1. Hard Skill

Definisi Hard Skill adalah merupakan kemampuan seseorang dilihat dari kemampuan secara teknikal, seperti mengoperasikan komputer, membuat laporan yang mudah dipahami, dan sebagainya. Intinya sangat bergantung ke teknikal yang biasa diperoleh dari proses belajar-mengajar. Hard skill ini mempunyai peran/bagian yang cukup kecil dari kompetensi seseorang, atau dikatakan hard skill adalah minimal requirement skill yang harus dimiliki seorang individu.
Penulis mengambil contoh kesuksesan Petani Karet di Desa Jiwa Baru Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Para petani Karet Di Jiwa Baru banyak yang meraih sukses meningkatkan kesejahteraan keluarganya hasil dari bertani Karet dalam bahasa Lubai Balam. Ada yang menyekolahkan anaknya sampai menjadi Sarjana, ada membeli kendaraan roda empat, ada yang menjadi keagenan Getah Karet dalam bahasa Lubai disebut ”Tokeh Balam”.
Secara Hard Skill Petani Karet di Desa ini tidak ada perbedaan yang signifikan. Dalam hal pola bercocok tanam Karet, Pola pemeliharaan Karet, Pola panen getah Karet dalam bahasa Lubai ”Nakok Balam” antara satu dengan yang lainnya sama tidak ada hal yang berbeda. Seorang petani berlatar belakang hanya tamat SD akan menanam, memelihara, panen getah Karet akan sama dengan seorang petani yang mempunyai latar belakang Sarjana Pertanian. Pertanyaan : Mengapa petani Karet di desa ini dapat melakukan hal yang sama, walaupun Hard Skill yang berbeda? Jawabannya karena Hard Skill untuk menjadi seorang petani Karet mudah untuk dipelajari. Mengapa dengan pola petani Karet yang sama, tetapi kesuksesan berbeda? Jawabannya karena Hard Skill hanya 20% menentukan kesuksesan seseorang.

2. Soft Skill
Definisi Soft Skill merupakan kemampuan seorang individu yang cenderung ke sikap, atitude, perbuatan, pelayanan dan sebagainya. Rupanya Soft skill ini merupakan bagian yang superior dalam kompetensi tiap individu. Hal inilah yang bisa membuat orang bisa meloncat lebih tinggi dalam bidang apapun. 
Penulis telah mengkaji kesuksesan Petani Karet di Desa Jiwa Baru Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan, yang berhasil meraih cita-citanya. Berdasarkan pengamatan penulis pada bulan Juli tahun 2008, tingkat kesejahteraan keluarga petani Karet di Desa Jiwa Baru Lubai, ternyata hanya 10% dari jumlah seluruh Petani Karet yang srata ekonomi masuk kelas Menengah.
Seorang petani Karet untuk mencapai tingkat ekonomi kelas Menengah, ternyata tidak hanya dapat dicapai dengan mengandalkan Hard Skill saja, melainkan harus didukung oleh Soft Skill. Pertanyaan : Mengapa petani Karet di desa ini kesuksesan yang dicapai berbeda, walaupun pola bertani Karet sama? Jawabannya karena untuk mencapai kesuksesan tidak hanya mengandal pola bertani saja, melainkan ditentukan oleh penggolaan keuangan pasca panen Getah Karet. Kemampuan untuk mengelolaan keuangan dan berbagai hal lainya adalah Soft Skill. Mengapa kesuksesan lebih banyak ditentukan oleh Soft Skill yaitu sebesar 80%? Jawabannya karena Soft Skill seorang petani Karet adalah sangat menentukan dari semua aktivitas soerang petani Karet. Soft Skill seorang petani Karet yang ingin sukses meningkatakan kesejahtera an keluarganya sebagai berikut : sikapnya terhadap profesi ini harus menjadi kebanggaan, atitudenya harus menyatukan dengan profesinya, perbuatannya tidak bertentangan dengan alam dan lingkungan, pelayanan terhadap karyawannya penampas Getah Karet harus baik.

Bandar Lampung, 31 Juli 2009
Amarmakruf Silahturrahim Lubai

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Sample text

Sample Text

Sample Text

Ape sebab padi melayang padi melayang kerene hampe Artinya  Apa sebab kami merantau karena di kampung Baru Lubai tidak berguna