Kamis, 10 September 2009

Ikan Lais

Pendahuluan

Ikan Lais hidup di sungai yang termasuk tipe sungai berawa banjiran. Daerah penyebaran ikan ini di Indonesia adalah di Sumatera, Kalimantan dan Jawa. Ikan sungai berwarna kuning keemas-emasan, bagian kepala dan dada berbintik hitam kecil, kepala dan perut agak pipih, tubuh memanjang, bersisik halus, dan tidak bersirip punggung, makanannya plankton, ganggang, dan hewan air. Nama ikan   ini : Selais Lais, Nama ilmiah : Kryptopterus bicirrhis.

Karakteristik Ikan

Ikan lais mempunyai pola pertumbuhan yang isometrik yaitu pertumbuhan panjang seimbang dengan pertumbuhan berat. Bentuk tubuh ikan lais masih dalam batas bentuk tubuh ikan pada umumnya yaitu dengan nilai “b” berkisar antara 2,5- 3,5. Berdasarkan nilai faktor kondisi yaitu berkisar 0,24-0,44 ikan lais termasuk jenis ikan yang pipih.

Ikan Lais hidup pada ekosistem sungai rawa banjiran. Pada ekosistem ini selama musim penghujan air terdistribusi ke seluruh dataran (plain), tetapi selama musim kemarau hanya saluran utama dan bagian perairan yang rendah yang tetap terisi atau tetap tergenang. Ekosistem ini meliputi saluran sungai, danau banjiran atau oxbow, rawa, tanggul alami dan endapan rawa yang terbendung atau backswamp.

Kegunaa Ikan

Ikan Lais mengandung energi sebesar 161 kilokalori, protein 11,9 gram, karbohidrat 2,4 gram, lemak 11,5 gram, kalsium 70 miligram, fosfor 237 miligram, dan zat besi 0 miligram. Selain itu di dalam Ikan Lais juga terkandung vitamin A sebanyak 0 IU, vitamin B1 0,05 miligram dan vitamin C 0 miligram. Banyak sekali manfaat yang dihasilkan dari mengkonsumsi ikan lais, yaitu :

Kandungan omega 3 yang di miliki oleh ikan lais ini dapat mencegah dari penyakit jantung koroner. Karena mampu menghiangkan bitnik bitnik atau bercak yang bisa menimbulkan penyakit ini timbul pada tubuh manusia. Karena rendah lemak, memakan ikan ini jadi aman aman saja. Dalam artian tidak membuat pengkonsumsi menjadi gemuk.

Mengkonsumi ikan lais juga dapat memperlancar pencernaan. Karena ikan ini dapat dicerna dengan mudah oleh sistem pencernaan manusia. Karena kandungan dari ikan lais yang cukup banyak. Memiliki kandungan forsor, omega 3, kalsium, zat besi, dan protein. Sehingga bagi ibu hamil jika memakan ikan ini membuat bayi itu akan tercukupi untuk pertumbuhan yang optimal

Bagi penderita darah tinggi, memakan ikan ini dapat menurunkan tekanan darah tinggi anda. Atau bagi kalian yang masih sehat sebelum terlambat bisa mengkonsumsi supaya terhidar dari gejala. Tetapi harus tata cara makan harus seimbang dan benar. Memakan ikan bisa mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kecerdasan. Ikan lais juga bisa membuat kita cerdas. Tapi tidak hanya ikan lais saja, ikan lainnya juga bisa menambah kecerdasan. Ikan lais ini juga salah satu ikan yang bisa bikin kita cerdas. Tentunya jangan lupa belajar sih

Ikan Gabus

Pendahuluan

Ikan gabus merupakan sejenis ikan buas yang hidup di perairan umum (air tawar seperti sungai, rawa-rawa, danau, dan waduk ini. Rupanya memang jelek dan baunya juga amis. Ini yang membuat tidak semua orang menyukainya. Padahal, dari segi rasa, ikan ini sangatlah lezat jika dikonsumsi. Tak sulit untuk memperoleh ikan ini, karena mudah ditemukan di pasar-pasar tradisional, bahkan pasar-pasar modern. Jarang orang tahu kalau ikan gabus yang baunya sangat amis, merupakan penghasil albumin yang dibutuhkan tubuh dan bermanfaat untuk kesehatan. Nama ikan ini : Gabus. Nama lain : Huan (lubai), Aruan (banjar), Kocolan (betawi), Bogo (sunda), Kutuk, Khotes (jawa), Haruan (malaysia), Nama ilmiahnya : Channa striata (Bloch, 1793).

Karakteristik Ikan Gabus

Ikan gabus merupakan ikan yang memiliki habitat di rawa – rawa. Ikan ini termasuk ikan yang kuat dalam pertahanan hidupnya karena mampu hidup di lingkungan yang berlumpur dan miskin oksigen karena memiliki labyrint. Meski dapat hidup di rawa, ikan gabus juga menyenangi perairan yang tenang dari danau, waduk dan sungai. Ikan gabus merupakan ikan yang termasuk dalam ikan predator, atau ikan pemangsa dan memiliki sifat karnivora, makanannya yang utama adalah udang air tawar, ikan kecil, kepiting, katak, dan cacing, serta berbagai serangga yang hidup di perairannya.

Ikan gabus adalah sejenis ikan buas yang hidup di air tawar. Ikan sungai yang cukup besar, dapat tumbuh hingga mencapai panjang 1 meter. Berkepala besar agak gepeng mirip kepala ular, gigi-giginya besar dan tajam, dengan sisik-sisik besar di atas kepala. Tubuh bulat gilig memanjang, seperti peluru kendali. Sirip punggung memanjang dan sirip ekor membulat di ujungnya.

Sisi atas tubuh dari kepala hingga ke ekor berwarna gelap, hitam kecoklatan atau kehijauan. Sisi bawah tubuh putih, mulai dagu ke belakang. Sisi samping bercoret-coret tebal (striata, bercoret-coret) yang agak kabur. Warna ini seringkali menyerupai lingkungan sekitarnya. Mulut besar, dengan gigi-gigi besar dan tajam.

Kegunaan Ikan Gabus

Ikan Gabus memiliki protein yang sangat tinggi. Ikan ini merupakan sumber albumin bagi penderita hipoalbumin (rendah albumin) dan luka. Baik luka pascaoperasi maupun luka bakar. Bahkan, di daerah pedesaan, anak laki-laki pasca dikhitan selalu dianjurkan mengonsumsi ikan jenis itu agar penyembuhan lebih cepat. Caranya, daging ikan tersebut dikukus atau di-steam sehingga memperoleh filtrate, yang dijadikan menu ekstra bagi penderita hipoalbumin dan luka. Pemberian menu ekstrak filtrat ikan gabus tersebut berkorelasi positif dengan peningkatan kadar albumin plasma dan penyembuhan luka pascaoperasi.

Dalam tubuh manusia, albumin (salah satu fraksi protein) disintesis oleh hati kira-kira 100-200 mikrogram/g jaringan hati setiap hari. Albumin didistribusikan secara vaskuler dalam plasma dan secara ekstravaskuler dalam kulit, otot, serta beberapa jaringan lain."Sintesis albumin dalam sel hati dipengaruhi faktor nutrisi. Terutama, asam amino, hormon, dan adanya satu penyakit." Gangguan sintesis albumin, kata Eddy, biasanya terjadi pada pengidap penyakit hati kronis, ginjal, serta kekurangan gizi. Sebenarnya, daging ikan gabus tidak hanya menjadi sumber protein, tapi juga sumber mineral lain. Di antaranya, zinc (seng) dan trace element lain yang diperlukan tubuh.

Hasil studi Eddy pernah diujicobakan di instalasi gizi serta bagian bedah RSU dr Saiful Anwar Malang. Uji coba tersebut dilakukan pada pasien pascaoperasi dengan kadar albumin rendah (1,8 g/dl). “Dengan perlakuan 2 kg ikan kutuk masak per hari, telah meningkatkan kadar albumin darah pasien menjadi normal (3,5-5,5 g/dl)," Penelitian di Indonesia masih terus mengembangkan pembuatan ekstrak untuk obat oles atau serbuk untuk obat luar.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Sumber : id.wikipedia dan berbagai sumber lainnya.

Batanghari Sembilan

Sungai dalam bahasa Sumatera Selatan disebut Batanghari. Batanghari Musi merupakan sungai terpajang di Sumetera Selatan, panjangnya 750 kilometer lebar rata-rata 300 meter. Ada yang memperkirakan nama Musi berasal dari India, sebab ada nama Musi di pusat peradaban Hindu tersebut. Terakhir, ada yang menyebutkan nama Musi berasal dari bahasa Melayu yang berarti ikut atau aliran, seperti yang masih digunakan masyarakat Kayuagung.

Sungai Musi membelah Kota Palembang menjadi dua bagian kawasan: Seberang Ilir di bagian utara dan Seberang Ulu di bagian selatan. Sungai Musi, bersama dengan sungai lainnya, membentuk sebuah delta di dekat Kota Sungsang.

Mata airnya bersumber di daerah Kepahiang, Bengkulu. Sungai Musi disebut juga Batanghari Sembilan yang berarti sembilan sungai besar, pengertian sembilan sungai besar adalah Sungai Musi beserta delapan sungai besar yang bermuara di Sungai Musi. Adapun delapan sungai tersebut adalah :

Batanghari Musi melintasi Kota Palembang, membelah Propinsi Sumatera Selatan dari Timur ke Barat yang bercabang-cabang dengan delapan anak sungai besar yaitu : 
  1. Batanghari Komering melintasi : Kota Martapura dan Kayu Agung; 
  2. Batanghari Ogan melintasi : Kota Batu Raja; 
  3. Batanghari Lematang melintasi : Kota Lahat;
  4. Batanghari Kelingi melintasi : 
  5. Batanghari Lakitan melintasi :
  6. Batanghari Semangus melintasi :
  7. Batanghari Rawas melintasi :
  8. Batanghari Leko melintasi :

Rabu, 09 September 2009

Kebudayaan Lubai

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.

Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism. Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic. Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian, nilai, norma, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.

Kalau kita berbicara tentang suku bangsa Lubai dan Kebudayaannya, maka sama halnya dengan berbicara tentang banyaknya suku bangsa lain di Sumatera Selatan, kita todal dapat mengabaikan perubahan yang telah menghilangkan homogenitas yang pernah ada. Apa yang dahulu dianggap sebagai daerah kebudayaan Lubai, sekarang mungkin telah banyak kemasukan unsur lain. Tidak setiap penduduknya dapat dianggap sebagai pemangku kebudayaan Lubai, akan tetapi sebaliknya tidak setiap orang yang dilahirkan oleh orangtua Lubai dapat disebut pendukung kebudayaan Lubai, terutama jika mereka dibesarkan diluar daerah kebudayaan Lubai.

Daerah asal kebudayaan Lubai tradisional adalah kira-kira seluas daerah Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Tetapi dalam pandangan orang Lubai sendiri, daerah kebudayaan Lubai adalah orang-orang yang berdomisili sepanjang Daerah Aliran Sungai Lubai. Pada umunya orang Lubai berusaha menghubungkan asal-usul mereka dengan suatu tempat tertentu, yaitu dari Kampung Persa di Muara Lubai dekat Sungai Rambang. 

Hal ini mungkin dapat dihubungkan dengan dongeng tentang Puyang Tujuh Serampu " Puyang tujuh bersaudara, 6 laki-laki dan 1 prempuan. Berdasarkan legenda ini bahwa perkampungan masyarakat Lubai bernama kampung Persa, terletak didekat muara sungai Lubai dan sungai Rambang. Dalam kontek legenda tadi, dengan desa-desa tua di Lubai sebanyak 7 desa yaitu : 
  1. Desa Tanjung Kemala
  2. Desa Gunung Raja
  3. Desa Kurungan Jiwa
  4. Desa Pagar Gunung
  5. Desa Beringin
  6. Desa Pagar Dewa
  7. Desa Karang Agung 

Senin, 07 September 2009

Etnografi

Pendahuluan :

Studi etnografis biasanya holistik, yang didirikan berdasarkan gagasan bahwa manusia adalah paling baik dipahami dalam konteks mungkin sepenuhnya, termasuk: tempat di mana mereka tinggal, perbaikan yang mereka telah dilakukan pada tempat itu, bagaimana mereka mencari nafkah dan menyediakan makanan, perumahan, energi dan air untuk diri mereka sendiri, apa adat perkawinan mereka, apa yang language (s) mereka berbicara dan sebagainya. Etnografi memiliki koneksi ke beragam genre seperti menulis perjalanan, laporan kantor kolonial, drama dan novel. Banyak ahli antropologi budaya etnografi mempertimbangkan inti dari disiplin. Ini akan menjadi program yang jarang lulusan antropologi budaya yang didn ' t membutuhkan etnografi sebagai bagian dari proses doktor.

Mengevaluasi Etnografi :

Metodologi etnografi biasanya tidak dievaluasi dalam hal sudut pandang filosofis (seperti positivisme dan emosi), etnografi tetap perlu dievaluasi dalam beberapa cara. Sementara tidak ada konsensus mengenai standar evaluasi, Richardson (2000, p.254) memberikan 5 kriteria yang ahli etnografi mungkin menemukan berguna. 

Salah satu metode yang paling umum untuk mengumpulkan data dalam studi etnografi langsung, tangan pertama pengamatan perilaku sehari-hari. Metode umum lainnya adalah wawancara, yang mungkin mencakup percakapan dengan tingkat yang berbeda bentuk dan dapat melibatkan berbicara kecil wawancara panjang. Sebuah pendekatan tertentu untuk menuliskannya mungkin data wawancara silsilah metode. Ini adalah satu set prosedur yang ahli etnografi menemukan dan mencatat hubungan kekerabatan, keturunan dan perkawinan dengan menggunakan diagram dan simbol. Kuesioner dapat digunakan untuk membantu penemuan keyakinan dan persepsi lokal dan dalam kasus penelitian longitudinal, di mana ada kontinu studi jangka panjang suatu kawasan atau situs, mereka dapat bertindak sebagai instrumen yang valid untuk mengukur perubahan dalam individu-individu atau kelompok belajar.

Tipe Etnografi

Etnografi tipikal berusaha untuk menjadi holistik dan biasanya mengikuti garis besar untuk memasukkan singkat sejarah dari budaya yang bersangkutan, sebuah analisis mengenai geografi fisik atau daerah yang didiami oleh orang-orang yang diteliti, termasuk iklim, dan sering termasuk apa panggilan antropolog biologis habitat. Folk pengertian botani dan zoologi disajikan sebagai etnobotani dan bersama ethnozoology referensi dari ilmu-ilmu formal. 

Bahan budaya, teknologi dan sarana subsistensi biasanya diperlakukan berikutnya, karena mereka biasanya terikat dalam geografi fisik dan menyertakan deskripsi infrastruktur. Kekerabatan dan struktur sosial (termasuk usia grading, kelompok sebaya, jenis kelamin, asosiasi sukarela, klan, moieties, dan sebagainya, jika mereka ada) biasanya disertakan. 

Bahasa yang digunakan, dialek dan bahasa sejarah perubahan kelompok lain topik standar. Praktik childrearing, akulturasi dan emik pandangan mengenai kepribadian dan nilai-nilai biasanya mengikuti setelah bagian struktur sosial. Ritus-ritus, ritual, dan bukti lain agama telah lama minat dan kadang-kadang penting bagi etnografi, terutama bila dilakukan di depan publik di mana para antropolog mengunjungi bisa melihat mereka. 

Sebagai etnografi dikembangkan, antropolog tumbuh lebih tertarik dalam waktu kurang nyata aspek budaya, seperti nilai-nilai, pandangan dunia dan apa yang Clifford Geertz disebut sebagai "etos" budaya. Clifford Geertz 's kerja lapangan sendiri menggunakan unsur-unsur dari sebuah fenomenologis pendekatan lapangan, tidak menjiplak hanya perbuatan orang, tetapi unsur-unsur budaya itu sendiri.

Sebagai contoh, apabila dalam sekelompok orang, mengedipkan mata adalah sikap komunikatif, ia berusaha untuk pertama-tama menentukan jenis hal mengedipkan mata mungkin berarti (mungkin berarti beberapa hal). 

Kemudian, ia berusaha untuk menentukan dalam konteks apa yang mengedipkan mata yang digunakan, dan apakah, sebagai salah satu bergerak tentang suatu daerah, berkedip tetap bermakna dengan cara yang sama. Dengan cara ini, batas-batas budaya komunikasi bisa dieksplorasi, berlawanan dengan menggunakan batas-batas linguistik atau gagasan tentang kependudukan. Geertz, sementara masih mengikuti sesuatu etnografi tradisional garis besar, bergerak di luar kerangka untuk berbicara tentang "jaring" bukan "menjabarkan" kebudayaan.


Minggu, 06 September 2009

Tumbuhan Tampui

Pendahuluan

Tumbuhan Tampui adalah sejenis buah dan pohonnya, anggota suku Phyllanthaceae. Buah ini masih sekerabat dengan menteng dan rambai, tetapi berukuran lebih besar dan berkulit lebih tebal. Nama tumbuhan ini : Tampui, Nama lain : Tampoi batang, Tampui daun, Tampui bulan, Tampui benar, Nama ilmiahnya : Baccaurea macrocarpa.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon kecil berumah dua (dioesis); tinggi hingga 27 m dan gemang hingga 64 cm, batang tampui kerap beralur-alur dalam hingga setinggi 5 m. Kadang-kadang berbanir kecil dan rendah.

Daun-daun tersebar, daun penumpu panjang hingga 9 mm. Helaian daun jorong hingga bundar telur atau bundar telur sungsang, (7,2–)9–37 × 3,1–17,5 cm, bertangkai panjang hingga 14,5 cm. Perbungaan kebanyakan muncul pada cabang (ramiflory) atau pada batang (cauliflory), tandan bunga jantan panjang hingga 13 cm, yang betina hingga 18 cm, bercabang-cabang. Bunga-bunga berukuran kecil, yang jantan dengan diameter hingga 2 mm, hijau, kuning, atau putih; yang betina sedikit lebih besar hingga 4,5 mm.

Buah-buah terangkai dalam tandan panjang hingga 15 cm, dengan tangkai setebal 4-6 mm. Berbentuk bulat atau hampir bulat, buah tampui merupakan buah kotak berdinding tebal mengayu, coklat hingga kelabu di bagian luar, berukuran 30–65 × 34–75 × 34–75 mm. Berbiji (2–) 3–6 butir, yang tertutup oleh salut biji berwarna putih hingga kuning, kadang-kadang jingga.

Kegunaan Tumbuhan

Pohon Tampui merupakan endemik hutan tropis seperti hutan hujan tropis di Sumatera dan Kalimantan. Buahnya enak untuk dimakan rasanya mirip-mirip buah Rambutan namun daging lebih tebal dari Rambutan. 

Penutup

Buah Tampui, saat ini banyak orang yang tidak pernah menjumpainya dan memakan buah ini. Karena tumbuhan Tampui tidak banyak di budidayakan. Dulu di desa Baru Lubai, Kakek penulis Haji Hasan bin Aliaqim menanam pohon Tampui di areal pertanian dekat Bakal Anyar. Saat ini tanah itu telah menjadi areal perumahan masyarakat desa Jiwa Baru, kecamatab Lubai, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. Letak tanah itu sangat strategis, karena dekat dengan pemukiman penduduk. Namun sayang penulis tidak dapat mempertahankan keberadaan tanah warisan itu, karena telah dijual.

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tumbuhan jentik-jentik

Pendahuluan

Tumbuhan Jentik-jentik berasal dari Malaysia, Sumatera hingga ke Kalimantan. Keunikan tumbuhan ini, buah yang sudah masak apabila dijentik terus terbuka dan bijinya yang berjus biasanya dimakan langsung. Sebagian besar generasi muda sekarang ini mungkin tidak pernah melihat buah jentik-jentik, bahkan tidak mungkin lagi pernah memakannya. Nama tumbuhan ini : Jentik-jentik, Nama lain : Jentikan (lubai), Nama ilmiah : Baccaurea polyneura.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon jentik-jentik merah sederhana ukurannya dapat mencapai ketinggian antara 20 meter hingga 25 meter. Pohonnya seakan-akan mirip dengan pohon rambai. Daunnya oblong 12 hingga 15 sentimeter (sm) panjang, 4 hingga 6 sm lebar berwarna hijau tua. Bunganya kecil, banyak, bersesak-sesak pada tangkai jambak yang berjuntai sepanjang 20 hingga 30 sm dari dahan tua. Buah jentik-jentik seakan-akan buah rambai, bergantung-gantung pada tangkai, berwarna kekuningan dan bertukar kemerahan apabila masak. Terdapat tiga biji dalam satu buah dan isinya berjus, berwarna merah. Rasanya masam-masam manis. Spesies Baccaurea Hookeri yang juga dikenali sebagai jentik-jentik mempunyai buahnya yang seakan-akan buah rambai tetapi lebih besar sedikit daripada buah jentik-jentik merah.

Kegunaan Tumbuhan

Apabila buah jentik-jenyik cukup masak ia berwarna kuning keperangan. Buah yang cukup masak apabila dijentik terus terbuka. Tiga bijinya berwarna kemerahan, berjus dan rasanya masam-masam manis. 

Penutup

Satu ketika dulu pada era tahun 1970-an, jentik-jentik menjadi tanaman dusun dan mudah ditemui di kampung. Di desa Baru Lubai dan Kurungan Jiwa, buah jentikan sangat mudah dijumpai. Apabila tiba musim, anak-anak seusia sekolah dasar gemar memakan buahnya dan terus menelan bijinya. Namun sangat disayangkan generasi sekarang tidak dapat lagi menikmati buah ini, akibat dari pohon-pohon ini ditebang tanpa memikirkan akan kepunahan habitat ini. Penulis sewaktu kecil sangat suka memakan buah ini, walaupun kata ayah saya buah ini hanya merupakan tumbuhan liar, tidak dibudidayakan.

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.