Selasa, 02 Oktober 2012

Gandong


Sebuah Gandong tempat warga Lubai mencuci pakaian dan buat hajat, secara tradisional. Gandong merupakan rakit yang terbuat dari kayu yang ringan, sehingga daya ampung sangat bagus. Foto ini diabadikan di desa Jiwa Baru, kecamatan Lubai, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan.

Kamis, 15 April 2010

Jumat, 08 Januari 2010

Senin, 30 November 2009

Pernikahan Agung

Pendahuluan :
Pernikahan yang Agung antara Nabi Adam Alaihi Salam dengan Siti Hawa. Allah SWT. Yang Maha Pengasih untuk menyempurnakan nikmatnya lahir dan batin kepada kedua hamba-Nya yang saling memerlukan itu, segera memerintahkan gadis-gadis bidadari penghuni syurga untuk menghiasi dan menghibur mempelai perempuan itu serta membawakan kepadanya hantaran-hantaran berupa perhiasan-perhiasan syurga. Sementara itu diperintahkan pula kepada malaikat langit untuk berkumpul bersama-sama di bawah pohon “Syajarah Thuba”, menjadi saksi atas pernikahan Adam dan Hawa.

Diriwayatkan bahwa pada akad pernikahan itu Allah SWT. berfirman: “Segala puji adalah kepunyaan-Ku, segala kebesaran adalah pakaian-Ku, segala kemegahan adalah hiasan-Ku dan segala makhluk adalah hamba-Ku dan di bawah kekuasaan-Ku. Menjadi saksilah kamu hai para malaikat dan para penghuni langit dan syurga bahwa Aku menikahkan Hawa dengan Adam, kedua ciptaan-Ku dengan mahar, dan hendaklah keduanya bertahlil dan bertahmid kepada-Ku!”.

Setelah akad nikah selesai berdatanganlah para malaikat dan para bidadari menyebarkan mutiara-mutiara yaqut dan intan-intan permata kemilau kepada kedua pengantin agung tersebut. Selesai upacara akad, dihantarlah Adam a.s mendapatkan isterinya di istana megah yang akan mereka diami.


Definisi Cinta :
Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, memberikan kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apapun yang diinginkan objek tersebut.


Makna Cinta :
Beberapa bahasa, termasuk bahasa Indonesia atau bahasa Melayu apabila dibandingkan dengan beberapa bahasa mutakhir di Eropa, terlihat lebih banyak kosakatanya dalam mengungkapkan konsep ini. Termasuk juga bahasa Yunani kuna, yang membedakan antara tiga atau lebih konsep: eros, philia, dan agape.

Cinta adalah perasaan simpati yang melibatkan emosi yang mendalam. Menurut Erich Fromm, ada empat syarat untuk mewujudkan cinta kasih, yaitu:

1. Pengenalan
2. Tanggung jawab
3. Perhatian
4. Saling menghormati

Jenis-jenis Cinta :
Seperti banyak jenis kekasih, ada banyak jenis cinta. Cinta berada di seluruh semua kebudayaan manusia. Oleh karena perbedaan kebudayaan ini, maka pendefinisian dari cinta pun sulit ditetapkan. Lihat hipotesis Sapir-Whorf.

Ekspresi cinta dapat termasuk cinta kepada 'jiwa' atau pikiran, cinta hukum dan organisasi, cinta badan, cinta alam, cinta makanan, cinta uang, cinta belajar, cinta kuasa, cinta keterkenalan, dll. Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.

Cinta kasih yang sudah ada perlu selalu dijaga agar dapat dipertahankan keindahannya


Cinta antar pribadi

Cinta antar pribadi menunjuk kepada cinta antara manusia.

Beberapa unsur yang sering ada dalam cinta antar pribadi:

  1. Afeksi: menghargai orang lain.
  2. Altruisme: perhatian non-egois kepada orang lain (yang tentunya sangat jarang kita temui sekarang ini).
  3. Reciprocation: cinta yang saling menguntungkan (bukan saling memanfaatkan).
  4. Commitment: keinginan untuk mengabadikan cinta, tekad yang kuat dalam suatu hubungan.
  5. Keintiman emosional: berbagi emosi dan rasa.
  6. Kinship: ikatan keluarga.
  7. Passion: Hasrat dan atau nafsu seksual yang cenderung menggebu-gebu.
  8. Physical intimacy: berbagi kehidupan erat satu sama lain secara fisik, termasuk di dalamnya hubungan seksual.
  9. Self-interest: cinta yang mengharapkan imbalan pribadi, cenderung egois dan ada keinginan untuk memanfaatkan pasangan.
  10. Service: keinginan untuk membantu dan atau melayani.
  11. Homoseks: Cinta dan atau hasrat seksual pada orang yang berjenis kelamin sama, khususnya bagi pria. Bagi wanita biasa disebut Lesbian (lesbi).

Energi Cinta :

Energi seksual dapat menjadi unsur paling penting dalam menentukan bentuk hubungan. Namun atraksi seksual sering menimbulkan sebuah ikatan baru, keinginan seksual dianggap tidak baik atau tidak sepantasnya dalam beberapa ikatan cinta. Dalam banyak agama dan sistem etik hal ini dianggap salah bila memiliki keinginan seksual kepada keluarga dekat, anak, atau diluar hubungan berkomitmen. Tetapi banyak cara untuk mengungkapkan rasa kasih sayang tanpa seks. Afeksi, keintiman emosi dan hobi yang sama sangat biasa dalam berteman dan saudara di seluruh manusia.

Sumber : berbagai website


Rabu, 16 September 2009

Tumbuhan Pulai

Pendahuluan

Pulai banyak pula tumbuh di daerah Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, Kalimantan, dan daerah lainnya. Nama tumbuhan ini : Pulai. Nama lain : Pelawi (Lubai), Pule (Jawa), Nama ilmiah : Alstonia Scholaris (L.) R.Br). 

Karakteristik Tumbuhan

Alstonia pneumatophora Back. Ex don Berger

Ciri dari Pulai jenis ini adalah berupa pohon besar dengan diameter mencapai 100 cm bahkan bisa lebih, dan tingginya bisa mencapai 40-50 m. Tumbuhan ini mempunyai banir serta berakar lutut, dengan batang bergalur , berwarna abu-abu sampai ke putih. Permukaan batang halus sampai bersisik, kulit bagian dalam sangat tebal dan halus, mempunyai warna orange sampai kecoklatan, granular, mempunyai getah yang sangat melimpah. Daun yang dimiliki tumbuhan ini adalah tunggal dan tersusun secara vertikal di ujung ranting. Bentuk daun oval atau ellips (ellipticus), dengan pangkal agak lancip (cuneate), ujung bundar atau membusur (rounded), permukaan daun licin atau tidak berbulu (glabrous). Pertulangan daun sejajar, warna daun bagian bawah keputihan dengan ukuran 8 – 12 cm x 3 – 5 cm. Bunga berwarna putih, berukuran kecil di terminal; buah capsule berpasangan, panjang sekitar 25 – 30 cm, permukaan buah licin sampai kasar (glabrous sampai pubescens).

Alstonia spatulata Blume

Ciri fisik tumbuhan dari jenis ini mempunyai ukuran kecil sampai dengan sedang dengan diameter bisa mencapai 75 cm dan tingginya sampai 20 – 30 m. Batang dari jenis ini berbentuk silindris, beralur, berwarna abu-abu dan halus; kulit bagian dalam berwarna kuning pucat dengan getah putih yang melimpah. Komposisi daun tunggal, tata daun vertikal, bentuk pada bagian ujung daun bundar atau membusur besar (rounded), sedangkan pangkal daun agak lancip (cuneate) yang berhenti pada ranting. Daun muda berwarna merah, dengan ukuran daun berukuran antara 4 – 6 cm x 7 – 10 cm. Permukaan daun glabrous (licin dan tak berbulu) dengan pertulangan daun menyirip sejajar. Bunga berukuran kecil, berwarna putih, memiliki ukuran panjang sekitar antara 4 – 7 cm. Buah seperti kapsul, kondisi berpasangan, dengan ukuran panjang antara 18 – 20 cm.

Alstonia scholaris (L.) R. Br.

Ciri – ciri dari pohon ini memiliki tinggi bisa mencapai lebih dari 40 m. Batang pohon tua beralur sangat jelas, sayatan berwarna krem dan banyak mengeluarkan getah berwarna putih. Daun tersusun melingkar berbentuk lonjong atau elip. Panjang bunga lebih dari 1 cm, berwarna krem atau hijau, pada percabangan, panjang runjung bunga lebih dar 120 cm. Buah berwarna kuning merekah, berbentuk bumbung bercuping dua, sedikit berkayu, dengan ukuran panjang antara 15 – 32 cm, berisi banyak benih.

Kegunaan dan Khasiat

Pohon pulai mengandung banyak getah. Getah berwarna putih, rasa getahnya sangat pahit. Rasa pahit itu didapatkan pula dari akar, kulit batang dan daunnya. Pada bagian pohon ini terdapat bahan yang sudah diketahui antara lain alkaloida berupa ditamine, ditaine, dan echi-kaoetchine. Pada kulit batang terdapat kandungan saponin, flavonoida, dan polifenol. Sedangkan untuk zat pahitnya terdapat kandungan echeretine dan echicherine.

Dari kandungan kimia yang terdapat didalamnya, pulai sering pula digunakan dalam pengobatan tradisional. Tanaman ini memiliki sifat antipiretik, anti malaria, antihipertensi serta anti andenergik dan melancarkan saluran darah. Penggunaan kandungan ini bisa berasal dari akar, kulit batang , daun dan getah pulai dapat dijadikan obat nyeri (di sisi dada atau karena tusukan) jika dikunyah bersama pinang dan ampasnya dibuang. Akarnya juga obat tukak didalam hidung, mengobati koreng dan borok.

Kulit batang pulai bermanfaat untuk mengatasi demam, hipertensi, tonikum, ekspektorant, perut kembung, ginjal membesar, demam nifas, hemoroid dan sakit kulit. Cara penggunaanya adalah dengan merebus kulit batang pulai yang dicampur dengan bahan lainnya. Air rebusannya itu disaring dan diminum sekaligus. Penggunaan getahnya dapat pula berkhasiat untuk mengatasi koreng, borok pada hewan, bisul dan kecacingan (kremi). Untuk mengatasi penyakit tersebut, getahnya dicampurkan dengan bahan lain.

Daunnya pun punya manfaat yang banyak. Dengan merebus daun pulai dan bahan lainnya bisa mengobati sifilis, beri-beri, sakit usus, cacing, disentri, diare menahun, diabetes dan malaria, jenis pulai yang sering digunakan adalah pulai waluh.

Penutup

Kayu Pulai mempunyai nilai ekonomi yang tinggi dan bekhasiat untuk pengobatan tradisional. Tanaman ini tidak sulit pemeliharaannya. Untuk di Kecamatan Lubai sangat cocok untuk ditanam sepanjang jalan lintas sumatera sebagai peneduh jalan, sepanjang daerah aliran sungai Lubai sebagai penahan erosi, tanah rawa-rawa yang bergambut sebagai pemanfaatan lahan tidur, lahan perkebunan karet yang kurang produktif sebagai tanaman selingan dan pada hutan muda sebagai pertanian pola polikultur.

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Inspirasi Perantau

Pendahuluan 

Karet adalah polimer hidrokarbon yang terbentuk dari emulsi serupa susu (dikenal sebagai lateks) dari getah beberapa jenis tumbuhan, tetapi dapat juga diproduksi secara sintetis. Sumber utama barang dagang dari lateks yang digunakan untuk membuat karet adalah para atau Hevea brasiliensis (suku Euphorbiaceae). Lateks diperoleh dengan melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kental yang kemudian ditampung.

Tumbuhan lainnya yang menghasilkan lateks di antaranya adalah anggota suku ara-araan (misalnya beringin), sawo-sawoan (misalnya getah perca dan sawo manila), Euphorbiaceae lainnya, serta dandelion. Beringin (Ficus benjamina dan beberapa jenis lain, suku ara-araan atau Moraceae) sangat akrab dengan budaya asli Indonesia. 

Pertanian Karet di Lubai

Nenek Moyang  masyarakat Lubai membudidayakan Karet dalam bahasa Lubai disebut Balam sejak berabad-abda silam. Mereka membudidayakan tanaman ini masih sangat sederhana belum ada sentuhan teknologi modern. Pada saat itu bibit langsung diambil dari buah biji karet tanpa melihat apakah itu bibit unggul yang banyak getahnya atau tidak. Mereka belum menggenal istilah persemaian bibit, karena biji-biji karet tersebut langsung ditanam ke lahan pertanian. Cara penanaman Karet tidak menggunakan alat seperti Cangkul dan Tembilang, melainkan biji buah karet langsung ditanam dengan cara melubangi tanah menggunakan kayu yang telah dibuat runcing dalam bahasa Lubai disebut Tugal.

Beberapa generasi Lubai bertani karet dengan cara tradisional yaitu tanpa pembenihan bibit, pola tanam yang tidak teratur, pola pemeliharaan tidak ada. Pada masa itu petani karet hidup dibawah garis kemiskinan, kecuali petani yang mempunyai lahan pertanian luas. Pada era tahun 2002 seiring dengan program pemerintah di desa Jiwa Baru melaksanakan program peremajaan karet rakyat. Masyarakat diarahkan untuk mengikuti program ini, sehingga kebun karet tua dan hutan muda dibabat untuk dijadikan kebun karet dengan program peremajaan karet rakyat.

Masyarakat Lubai menikmati hasil pertanian karet mencapai puncak pada tahun 2006 sampai dengan 2008, ketika itu harga karet di desa Jiwa Baru mencapai harga Rp. 13.500 per kilo gram. Tingkat perekonomian masyarakat meningkat, pola hidup berubah. Kendaraan roda dua rata-rata setiap rumah memiliki 2 (dua) unit. Alat komunikasi seperti Handphone rata-rata setiap rumah memiliki 2 – 4 buah. Pembangunan rumah tempat tinggal sudah mengikuti gaya perkotaan yaitu dibangun dengan permanent. Namun kejayaan pertanian karet Lubai, berakhir karena kena imbas krisis global.

Inspirasi perantau Lubai

Inspirasi yang saya tulis ini hanya sebuah renungan belaka, bukan suatu kajian ilmiah. Ada jenis 3 (tiga) pohon yang menghasilkan getah yaitu Karet ”Hevea brasiliensis”, Beringin ” Ficus benjamina” dan Pulai ”Alstonia scholaris”. Ketiga jenis kayu mempunyai sifat yang sama, sehingga dapat lakukan okulasi pada tiga jenis pohon ini.

Okulasi merupakan salah satu teknik perbanyakan/perkawinan secara vegetatif dengan menempelkan kulit batang yang satu ke batang lainnya. Okulasi hanya bisa dilakukan pada tanaman yang memiliki kambium/kulit ari. Teknik perbanyakan/perkawinan vegetatif maksudnya adalah teknik perbanyakan/ perkawinan tanaman yang tidak berlangsung secara alami tapi melalui bantuan/intervesi manusia.

Pada tanaman karet, okulasi dilakukan dengan menempelkan kulit batang yang memiliki mata tunas (entres) dengan batang karet lainnya (batang bawah). Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari karet yang rentan terhadap penyakit dan memiliki pertumbuhan akar yang baik. Bahan dan peralatan pendukung yang dibutuhkan pada saat okulasi adalah, batang atas (entres), batang bawah, pisau okulasi, plastik okulasi, asahan dan kain lap.

Ilustrasi pertama :

Okulasi pohon karet dengan pohon beringin. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon beringin. Pilihlah pohon beringin yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pohon beringin berkembang biak secara genetatif melalui biji yg ada pada buahnya. Kalau kita lihat buah beringin hanya sebesar biji kacang tanah. Jika ini dibelah, didalamnya terdapat ribuan butir biji-biji kecil yg besarnya sama dengan sebutir pasir halus di pantai. Sangat sangat kecil. Dari biji kecil inilah tumbuh sebuah pohon beringin yang hidupnya bisa mencapai umur ratusan tahun. Batangnya kokoh, daunnya lebat dan rindang yg mampu memberikan rasa teduh bagi yg berada dibawahnya. Tinggi pohon dapat mencapai 30 – 35 meter dan berdiameter 40 – 70 cm.

Dari hasil okulasi pohon karet dan beringin diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon beringin, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 5 -7 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Ilustrasi kedua :

Okulasi pohon karet dengan pohon pulai. Entres diambil dari karet yang memiliki produksi tinggi melalui pengujian atau penelitian oleh Balai Penelitian Karet baik dalam maupun luar negeri (klon anjuran). Sedangkan untuk batang bawah diambil dari pohon pulai. Pilihlah pohon pulai yang tingginya kira-kira 30 cm dan mempunyai mata tunai yang baik.

Pulai dalam bahasa Lubai disebut ”pelawi” termasuk suku kamboja-kambojaan, tersebar di seluruh Nusantara. Di Jawa pulai tumbuh di hutan jati, hutan campuran dan hutan kecil di pedesaan, ditemukan dari dataran rendah sampai 900 m dpl. Pulai kadang ditanam di pekarangan dekat pagar atau ditanam sebagai pohon hias. Tanaman berbentuk pohon, tinggi 20 - 25 m. Batang lurus, diameternya mencapai 60 cm, berkayu, percabangan menggarpu. Kulit batang rapuh, rasanya sangat pahit, bergetah putih. Daun tunggal, tersusun melingkar 4 - 9 helai, bertangkai yang panjangnya 7,5 - 15 mm, bentuknya lonjong sampai lanset atau lonjong sampai bulat telur sungsang, permukaan atas licin, permukaan bawah buram, tepi rata, pertulangan menyirip, panjang 10 - 23 cm, lebar 3 - 7,5 cm, warna hijau. Perbungaan majemuk tersusun dalam malai yang bergagang panjang, keluar dari ujung tangkai.

Dari hasil okulasi pohon karet dan pulai diharapkan dapat menghasilkan pohon karet yang mempunyai pohon besar laksana pohon pulai mencapai ketinggi 25 meter dan diameter 60 cm, tahan lama masa produksinya mencapai ratusan tahun dan banyak getahnya. Diperkirakan setiap pohon dapat menghasilkan getah encer sebanyak 3- 5 kilo gram, usia pohon mencapai 15 sampai dengan 20 tahun. Semakin tua usia pohon, getah semakin meningkat jumlah getahnya.

Penutup

Inovasi dibidang pertanian karet mestinya dicoba. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Okulasi pohon karet dan ketela pohon menghasil varitas baru yaitu ketela pohon karet, yang dikenal juga ubi kayu karet. Ubi karet menghasil umbi-umbi besar namun tidak dapat dijadi bahan makanan karena umbi-umbi tersebut sifat keras seperti akar karet. Pucuk muda ubi karet dapat dijadikan sebagai lalap-lalapan makan. Jika ubi kayu karet di okulasi dengan ubi kayu maka akan menghasilkan ubi kayu yang menghasilkan umbi yang besar-besar.

Okulasi pohon karet dan pohon beringin akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak, begitupun hasil daripada Okulasi pohon karet dan pohon pulai akan menghasilkan varitas baru pohon karet yang besar dengan masa produktif yang lama dan dapat menghasilkan getah latek lebih banyak.

Tulisan ini merupakan apa melintasi dipikiran penulis, tanpa melalui penelitian terlebih dahulu. Maka sebab itu, informasi yang pada tulisan ini tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.

Pertanian Tradisional

Pendahuluan

Dunia pertanian modern adalah dunia mitos keberhasilan modernitas. Keberhasilan diukur dari berapa banyaknya hasil panen yang dihasilkan. Semakin banyak, semakin dianggap maju. Pertanian modern adalah suatu kegiatan usaha bidang pertanian yang mengoptimal segala aspek pendukung seperti kapital, ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kapital atau modal usaha yang besar seorang petani modern akan mudah untuk memujudkan impiannya menjadi petani yang sukses. Petani yang memiliki modal yang besar akan mencari lokasi lahan pertanian yang luas dan mudah dijangkau dengan kendaaraan roda empat, mengurus perizinan pembukaan lahan dengan lengkap, memilih teknologi yang tepat dengan tepat guna dan berdaya guna, merekrut tenaga manusia yang mempunyai kompetensi sesuai dengan kebutuhan.

Pertanian tradisional adalah suatu kegiatan usaha bidang pertanian yang menggunakan modal usaha terbatas, menggunakan teknologi sederhana, sumber daya manusia yang direkrut tidak mempertimbangkan kompetensi yang dimilikinya. Intensifikasi pertanian adalah pengolahan lahan pertanian yang ada dengan sebaik-baiknya untuk meningkatkan hasil pertanian dengan menggunakan berbagai sarana. Intensifikasi pertanian banyak dilakukan di Pulau Jawa dan Bali yang memiliki lahan pertanian sempit.  Ekstensifikasi pertanian adalah usaha meningkatkan hasil pertanian dengan cara memperluas lahan pertanian baru,misalnya membuka hutan dan semak belukar, daerah sekitar rawa-rawa, dan daerah pertanian yang belum dimanfatkan. Selain itu, ekstensifikasi juga dilakukan dengan membuka persawahan pasang surut.

Pola Pertanian Masyarakat Lubai

Kecamatan Lubai (Desa Baru Lubai dan Kurungan Jiwa), tempat kelahiran penulis suatu wilayah di kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan. Jarak tempuh dari kota Muara Enim lebih kurang 90 KM dan dari kota Palembang lebih kurang 120 KM. Kondisi geografisnya merupakan gugusan dataran rendah, yang dengan sumber daya alam seperti Batu Bara dan Minyak Bumi. Pola pertanian Masyarakat Lubai yang secara geografis berada di pulau Sumatera kebanyakan masyarakat di perkampungan bertani tanaman keras dengan cara yang amat tradisional yaitu bertani dengan pola sub sistem atau dengan kemurahan alam. Di Indonesia baik pulau Sumatera, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan maupun Papua, pertanian tanaman keras yang diwariskan oleh generasi sebelumnya memiliki pola yang hampir sama, yaitu sub sistem.

Pola bertani ini biasanya menggunakan cara dengan menanam tanaman seperti durian, duku, kemiri, pinang, pisang, asam gelugur, manggis, kemang, cempedak, kecapi, rambai, tampui, aren (secara alami tumbuh sendiri, dibiakkan oleh hewan liar seperti musang), dan lain-lain. Diantara tanaman tersebut, banyak juga tanaman yang sudah ada di lahan karena diwariskan oleh nenek moyang. Pola bertani secara tradisional tersebut sesungguhnya sangat bersahabat dengan alam, arif dan mendukung ekosistem, sebab dengan dengan tanaman yang berbagai jenis di kebun petani akan memelihara berbagai macam hewan tetap hidup karena ketersediaan rantai makanan untuk flora dan fauna yang hidup didalamnya terjaga.

Pola Pertanian Polikultur

Polikultur berasal dari kata poly yang artinya banyak dan culture artinya tanaman. Secara harfiah polikultur berarti model pertanian dengan banyak jenis tanaman pada lahan yang sama. Polikultur bukan berarti model pertanian gado-gado atau juga bukan merupakan tumpang sari, karena model tumpang sari hanya dikenal pada pertanian tanaman semusim. Model pertanian polikultur berbasis pada tahapan dari tahun ke tahun kondisi ekosistem akan lebih baik. Tanaman yang dikembangkan dan kondisi alamnya akan lebih sempurna dan stabil. Selain itu apabila tanaman kerasnya sudah mencapai usia maksimal dan tidak produktif lagi, diameter batangnya sudah sangat besar maka akan menguntungkan petani untuk menebang dan menjual kayunya yang tentunya bernilai ekonomis sangat tinggi.Polikultur akan memadukan berbagai teknologi budidaya yang diselaraskan dengan penology tanaman yang ada dan aspek lokal dan kelestarian sumberdaya alam yang ada. Nenek moyang masyarakat Lubai telah mewariskan pola pertanian polikultur, seperti ada kebun buah-buahan dalam bahasa Lubai disebut “gugok buah-buahan” durian, cempedak, kemang, duku dan sebagainya.

Pola Pertanian Monokultur

Generasi muda Lubai, dengan berbagai aspek pertimbangan telah beralih dari Pola pertanian Polikultur ke Pola pertanian monokultur. Tanam tumbuh nenek moyang seperti kebun buah-buahan ditebangi, hutan rimba dibuka menjadi lahan pertanian kebun Karet dalam bahasa Lubai “bekebun balam”. Berdasarkan pengamatan penulis pada bulan Agustus 2008 di desa Jiwa Baru Kec. Lubai Kab. Muara Enim Prov. Sumatera Selatan, Pohon besar yang tumbuh secara alami dan tanam tumbuhan ditanam nenek moyang telah habis ditebangi. Yang sangat memperihatinkan adalah masyarakat Lubai tinggal dipedasaan yang lahan pertanian berlimpah, akan tetapi untuk kebutuhan hidup sehari-hari harus membeli dari pedagang. Saat ini mereka telah sungkan untuk bertani padi “beume padi dahat”, menanam sayur-sayuran. Waktu mereka banyak tersita kepada bertani Karet.

Bagaimana Kembali Pola Polikultur?

Masyarakat yang bertani dengan pola monokultur dapat kembali ke pola polikultur. Setelah ada musyawarah awal antar anggota keluarga, petani pola monoklutur seperti kebun karet, harus memulai pemetaan lahan yang dimilikinya. Berapa luas kebuh karet yang masih lama  masa produktif, kebon yang sebentar lagi masa produktif dan berapa luas lahan pertanian padi darat.Setelah didapatkan gambar luas kebun karet dan lahan pertanian padi, maka harus diputuskan lahan mana yang akan dijadikan pola pertanian polikultur. Jadi jika tanaman karet yang masa produktif sebentar lagi hendak dikembangkan menjadi tanaman karet dan padi bibit unggul dilahan kering, dalam rangka memaksimalkan lahan dan hasil, maka polikultur adalah konsep yang sangat tepat karena tanaman tua yang tinggi bisa menjadi pelindung dan penyaring sinar matahari agar tidak menerpa tanaman yang tidak membutuhkan sinar matahari secara penuh (50-70 %).

Penataan jarak tanaman ini juga penting agar tidak terjadi persaingan makanan yang dibutuhkan tumbuhan, setiap tumbuhan tentunya membutuhkan unsur makanan utama yang sama dibutuhkan, seperti unsur hara, akan tetapi juga ada yang berbeda, kebutuhan makanannya jika tanaman yang ada sangat berjenis ini akan lebih menstabilkan kondisi tanah dan alam. Jenis tanaman lokal yang sesuai dengan model kebun polikultur adalah petai, durian, pinang, sirsak, langsat, duku dan lain-lain. Alasan-alasan yang dipertimbangkan yakni;
  • Tanaman petai daunnya tidak rimbun, mudah busuk, menyuburkan tanah dan ada musim gugur serta menghasilkan.
  • Durian pohonnya tinggi, buahnya bernilai ekonimis dan daun mudah busuk.
  • Pinang dan kelapa pohon tinggi tidak rimbun (menaungi tumbuhan di bawahnya dari sinar matahari), bernilai ekonomis dan mengundang semut.
  • Sirsak menghasilkan dan mengundang semut yang berfungsi untuk mengendalikan hama dan penyakit.
  • Langsat & duku menghasilkan dan tidak terlalu rimbun.