Jumat, 04 September 2009

Tumbuhan Sawo Manila

Pendahuluan

Tumbuhan Sawo manila merupakan buah yang sangat populer di Asia Tenggara. Wilayah ini adalah produsen dan sekaligus konsumen utama buah ini di dunia. Sawo disukai terutama karena rasanya yang manis dan daging buahnya yang lembut. Nama tumbuhan ini : Sawo manila, Nama lain : Sawe Manile (lubai), Sawo (jawa) Chico (filipina), Ciku (malaysia), Chikoo atau sapota (india), Sofeda (bangladesh), Xa pô chê atau hồng xiêm (vietnam), Rata-mi (sri Lanka), Nama ilmiah : Manilkara zapota.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon yang besar dan rindang, dapat tumbuh hingga setinggi 30-40 m. Bercabang rendah, batang sawo manila berkulit kasar abu-abu kehitaman sampai coklat tua. Seluruh bagiannya mengandung lateks, getah berwarna putih susu yang kental. 

Daun tunggal, terletak berseling, sering mengumpul pada ujung ranting. Helai daun bertepi rata, sedikit berbulu, hijau tua mengkilap, bentuk bundar-telur jorong sampai agak lanset, 1,5-7 x 3,5-15 cm, pangkal dan ujungnya bentuk baji, bertangkai 1-3,5 cm, tulang daun utama menonjol di sisi sebelah bawah. 

Bunga-bunga tunggal terletak di ketiak daun dekat ujung ranting, bertangkai 1-2 cm, kerapkali menggantung, diameter bunga s/d 1,5 cm, sisi luarnya berbulu kecoklatan, berbilangan 6. Kelopak biasanya tersusun dalam dua lingkaran; mahkota bentuk genta, putih, berbagi sampai setengah panjang tabung. 

Buah buni bertangkai pendek, bulat, bulat telur atau jorong, 3-6 x 3-8 cm, coklat kemerahan sampai kekuningan di luarnya dengan sisik-sisik kasar coklat yang mudah mengelupas, sering dengan sisa tangkai putik yang mengering di ujungnya. Berkulit tipis, dengan daging buah yang lembut dan terkadang memasir, coklat kemerahan sampai kekuningan, manis dan mengandung banyak sari buah.

Berbiji sampai 12 butir, namun kebanyakan kurang dari 6, lonjong pipih, hitam atau kecoklatan mengkilap, panjang lk. 2 cm, keping biji berwarna putih lilin. Rasa ini sangat manis dan sangat lezat, dengan apa yang bisa digambarkan sebagai rasa mabuk. 

Kegunaan Tumbuhan
 
Kebanyakan buah sawo manila dimakan dalam keadaan segar. Akan tetapi sawo dapat pula diolah menjadi serbat (sherbet), dicampurkan ke dalam es krim, atau dijadikan selai. Sari buah sawo dapat dipekatkan menjadi sirup, atau difermentasi menjadi anggur atau cuka. 

Getah pohon sawo disadap di Amerika, dikentalkan menjadi chicle yang merupakan bahan permen karet alami. Getah ini juga diolah menjadi aneka bahan baku industri sebagai pengganti getah perca dan bahan penambal gigi. 

Kayu sawo berkualitas bagus, tergolong kayu keras dan berat, dengan tekstur halus dan pola warna yang menarik. Kayu ini terutama disukai sebagai bahan perabot dan ukir-ukiran, termasuk untuk pembuatan patung, karena sifatnya yang mudah dikerjakan dan mudah dipelitur dengan hasil yang baik. Kayu sawo memiliki keawetan yang baik, tahan terhadap serangan jamur dan serangga. Kayu ini juga merupakan favorit anak-anak di Jawa untuk membuat gasing. 

Kulit kayunya menghasilkan tanin, yang secara tradisional digunakan nelayan sebagai bahan pencelup (ubar) layar dan alat pancing. Beberapa bagian pohon sawo juga digunakan sebagai bahan obat tradisional untuk mengatasi diare (tanin), demam (tanin dan biji), dan bahan bedak untuk memulihkan tubuh sehabis bersalin (bunga).

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tumbuhan Duku

Pendahuluan

Tumbuhan Duku adalah tumbuhan identitas untuk Provinsi Sumatera Selatan. Diantaranya terkenal dengan buah duku Komering. Nama-nama yang beraneka ragam ini sekaligus menunjukkan adanya aneka kultivar yang tercermin dari bentuk buah dan pohon yang berbeda-beda. Nama tumbuhan ini : Duku, Nama ilmiah : Lansium parasiticum.

Karakteristik Tumbuhan

Pohon yang berukuran sedang, dengan tinggi mencapai 30 m dan gemang hingga 75 cm. Batang biasanya beralur-alur dalam tak teratur, dengan banir (akar papan) yang pipih menonjol di atas tanah. Pepagan (kulit kayu) berwarna kelabu berbintik-bintik gelap dan jingga, mengandung getah kental berwarna susu yang lengket (resin). 

Daun majemuk menyirip ganjil, gundul atau berbulu halus, dengan 6–9 anak daun yang tersusun berseling, anak daun jorong (eliptis) sampai lonjong, 9-21 cm × 5-10 cm, mengkilap di sisi atas, seperti jangat, dengan pangkal runcing dan ujung meluncip (meruncing) pendek, anak daun bertangkai 5–12 mm. 

Bunga L. domesticum bunga yang hermaprodit, yang memiliki keduanya benang sari dan putik struktur di bunga yang sama. Pucat-kuning, bunga berdaging ditemukan di inflorescences atau sekitar tiga puluh, dalam banyak kasus dalam segugus biasanya sekitar tiga puluh sentimeter panjang.Bunga terletak dalam tandan yang muncul pada batang atau cabang yang besar, menggantung, sendiri atau dalam berkas 2–5 tandan atau lebih, kerap bercabang pada pangkalnya, 10–30 cm panjangnya, berambut. 

Bunga-bunga berukuran kecil, duduk atau bertangkai pendek, menyendiri, berkelamin dua. Kelopak berbentuk cawan bercuping-5, berdaging, kuning kehijauan. Mahkota bundar telur, tegak, berdaging, 2-3 mm × 4-5 mm, putih hingga kuning pucat. Benang sari satu berkas, tabungnya mencapai 2 mm, kepala-kepala sari dalam satu lingkaran. 

Putiknya tebal dan pendek. Buah-buahan adalah bujur telur, bulat bola sekitar lima sentimeter diameter, biasanya ditemukan pada kelompok dua hingga thirty buah-buahan. Setiap buah bulat ditutupi oleh kekuningan, tebal, kulit kasar. Bawah kulit, buah dibagi menjadi lima atau enam iris tembus, juicy dagingnya. Daging sedikit asam dalam rasa, walaupun spesimen matang manis. 

Biji hijau hadir di sekitar setengah dari segmen, biasanya mengambil sebagian kecil dari segmen meskipun sebagian benih itu mengambil seluruh segmen volume. Berbeda dengan rasa asam manis dari daging buah, biji sangat pahit. Daging segar yang manis mengandung sukrosa, fruktosa, dan glukosa. Buah buni yang berbentuk jorong, bulat atau bulat memanjang, 2-4(-7) cm × 1,5-5 cm, dengan bulu halus kekuning-kuningan dan daun kelopak yang tidak rontok. Kulit (dinding buah) tipis hingga tebal (lk. 6 mm). Berbiji 1–3, pipih, hijau, berasa pahit; biji terbungkus oleh ‘daging’ (arilus) yang putih bening dan tebal, berair, manis hingga masam. Kultivar-kultivar yang unggul memiliki biji yang kecil atau tidak berkembang (rudimenter), namun arilusnya tumbuh baik dan tebal, manis. 

Kegunaan Tumbuhan

Duku terutama ditanam untuk buahnya, yang biasa dimakan dalam keadaan segar. Ada pula yang mengawetkannya dalam sirup dan dibotolkan. Kayunya keras, padat, berat dan awet, sehingga kerap digunakan sebagai bahan perkakas dan konstruksi rumah di desa, terutama kayu pisitan. Beberapa bagian tanaman digunakan sebagai bahan obat tradisional. Biji duku yang pahit rasanya, ditumbuk dan dicampur air untuk obat cacing dan juga obat demam. Kulit kayunya dimanfaatkan sebagai obat disentri dan malaria; sementara tepung kulit kayu ini dijadikan tapal untuk mengobati gigitan kalajengking. Kulit buahnya juga digunakan sebagai obat diare; dan kulit buah yang dikeringkan, di Filipina biasa dibakar sebagai pengusir nyamuk. Kulit buah langsat terutama, dikeringkan dan diolah untuk dicampurkan dalam setanggi atau dupa.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Pohon Duku tanaman puyang Aliaqim bin Sinar di desa Kurungan Jiwa Lubai, mencapai tingginya 15 meter. Dan ada beberapa pohon Duku Tanaman Kakek Haji Hasan bin Puyang Aliaqim di desa Baru Lubai, mencapai tingginya 12 meter. Saat ini pohon duku tersebut sudah tua, dan masa produktifnya sudah berlalu.

Tumbuhan Cermai

Pendahuluan

Tumbuhan Cermai adalah nama sejenis pohon dengan buahnya sekali. Cita rasa buah cermai sangat asam sehingga kurang cocok dimakan sebagai buah meja. Nama tumbuhan ini : Cermai, Nama lain  : Cermen (Lubai), Ceureumoe (aceh), Chermai (malaysia), Nama ilmiah : Phyllanthus acidus.

Karakteristik Tumbuhan 

Perdu atau pohon kecil dengan ketinggian sampai 9 m, bercabang rendah dan renggang. Sepintas, pohon cerme bukan tidak mirip dengan pohon belimbing wuluh. Daun tunggal, bundar telur dengan ujung runcing, panjang 2-7 cm, tersusun di rantingnya seperti daun majemuk menyirip. Bunga-bunganya berkelamin tunggal atau ganda, merah, berbilangan 4, tersusun dalam malai hingga 12 cm. Buah batu, bulat dengan 6-8 rusuk, kuning keputihan menyerupai lilin, berdiameter hingga 2,5 cm, bergantungan sendiri atau dalam untaian. Daging buah keputihan, masam dan banyak berair, di tengahnya terdapat inti yang keras dengan 4-6 butir biji.

Kegunaan Tumbuhan 

Daun dan biji dari tanaman ini mempunyai khasiat untuk kesehatan. Daunnya untuk batuk berdahak, menguruskan badan, mual, kanker dan seriawan. Sedangkan bijinya untuk sembelit dan mual. Rebusan akar cerme digunakan untuk meringankan asma dan mengobati penyakit kulit. Bahan penyamak juga dihasilkan dari kulit akarnya.

Cermai lebih pas diolah menjadi manisan atau rucuh cermai. Buah yang semakin susah dijumpai ini kaya akan serat yang baik untuk mencegah kanker kolon dan membantu mengatasi sembelit. Vitamin C dan beragam mineral penting di dalam buah cermai bermanfaat sebagai antioksidan. Panas dalam dan sariawan juga bisa di atasi dengan mengkonsumsi buah cermai. Di tempat-tempat lain, cermai juga digunakan sebagai sos atau dijadikan halwa kering.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Kamis, 03 September 2009

Tumbuhan Kayu Putih

Pendahuluan

Tumbuhan Kayu putih adalah sejenis pohon dimana hasil minyak dari olahan daun keringnya dapat digunakan untuk obat. Meskipun kayu putih digunakan untuk banyak tujuan kesehatan, namun belum ada bukti ilmiah untuk menilai seberapa efektif kegunaannya. Nama tumbuhan ini : Kayu Putih, Nama lain : Gelam (lubai), Ghelam (madura), Inggolom (batak), Naman ilmiah : Melaleuca leucadendra syn. M. leucadendron.

Karakteristik 
Tumbuhan

Kayu putih merupakan semak hijau atau biasanya pohon bertangkai tunggal setinggi 25 (-40) m dengan sistem akar yang luas, terkadang dengan akar adventif udara. Kulit berlapis, berserat dan tipis, abu-abu sampai putih. Mahkota cukup padat dan lebar, agak keperakan dalam penampilan; cabang dan ranting yang lebih kecil ramping tetapi tidak terkulai, tunas muda berbulu lebat halus dengan rambut halus yang menyebar hingga panjang 2 mm.

Daun bergantian, pipih, berbulu halus hingga berkilau; tangkai daun dikompresi menjadi cekung-cembung, 3-7 (-11) mm × 1.1-2.3 mm, lurus atau melengkung; bilah elips hingga lanset-elips, terkadang miring begitu, 5-10 (-12) cm × 1-2.5 (-6) cm, 2-10 kali lebih panjang dari lebar, dilemahkan atau terkadang membulat secara tiba-tiba di pangkalan, puncak akut atau tumpul sempit, sering apikulata, tipis koriaceous, hijau kusam, halus tapi tidak jelas dengan kelenjar minyak, dengan 5-7 vena menonjol dan retikulasi menonjol. Perbungaan terminal atau paku atas-ketiak, tunggal atau 2-3 bersama-sama; paku berbunga cukup padat, 3.5-9 cm × 2-2.5 cm; ketebalan daun 1-1.3 mm, membesar saat bunga mekar, pilose padat; bracts ovate, lurik, vili, caducous; bracteoles tidak ada.

Bunga dalam bentuk triad, putih, putih kehijauan atau krem; kelopak tubular, panjang 2.5-3 mm, puber, tabung subcylindrical, 1.2-1.9 mm × 1.5-2 mm, di pangkal bersinggungan dengan ovarium (persisten dalam buah), dengan 4 lobus segitiga hingga setengah lingkaran 0.7-0.9 mm × 1.2-2 mm dengan margin tipis; kelopak 5, lonjong-spatulasi lebar dengan cakar pendek, 2-2.7 mm x 1.8-2.3 mm, bilah suborbikuler dengan 7 urat bercabang ramping dan bercabang dengan kelenjar; benang sari banyak, panjang 7-10 mm, putih, tidak berbulu, tersusun dalam bundel dengan cakar sepanjang 1-3.5 mm; per bundel 7-10 filamen, melekat pada margin atas cakar, bagian bebas hingga panjang 8 mm; kepala sari 0.4-0.55 mm; putik dengan ovarium bersel 3 panjang sekitar 1 mm, panjang model 6-9 mm dan kepala putik kecil.

Buah berbentuk cawan sampai bundar, kapsul berbiji banyak, 3-3.5 mm x 3.5-4 mm, lubang berdiameter 1.5-2 mm dengan katup tipis.

Kegunaan Tumbuhan

Tumbuhan ini dapat menghasil minyak kayu putih, dengan cara diproduksi dari ekstrak daun segar maupun ranting pohon kayu putih. Hasil olahan ini dapat digunakan untuk mengobati pilek, sakit kepala, sakit gigi, tumor; melonggarkan dahak dan dapat juga diterapkan sebagai tonik. Beberapa orang beranggapan bahwa menerapkan minyak kayu putih pada kulit dapat menghindari infeksi karena tungau (scabies) dan infeksi jamur pada kulit (panu).

Minyak kayu putih memiliki sifat anti bakteri dan anti mikroba, sehingga sering digunakan dalam berbagai jenis produk sabun, deodorant, losion, parfum, seperti manfaat minyak zaitun. Minyak kayu putih memberikan sensasi hangat pada tubuh serta memiliki aroma lebih lembut, sehingga memberikan efek menenangkan.

Selain itu, minyak kayu putih merupakan minyak essensial yang dapat memberikan sensasi aromaterapi, yang dapat digunakan untuk mengurangi kabut otak, kelesuan, dan meningkatkan konsentrasi. Selain itu, dapat membantu mengusir kecemasan serta mendorong perasaan percaya diri.

Salah satu cara alami untuk menghilangkan rasa pusing atau sakit kepala adalah dengan mengoleskan minyak kayu putih pada leher bagian belakang dan samping. Hal ini akan memberikan udara yang segar dan dapat membuat sistem pernapasan menjadi lebih rileks. Tubuh akan semakin tenang dan tidak tegang, sehingga hal tersebut bisa mengurangi rasa pusing dan sakit kepala.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tumbuhan Asam Jawa

Pendahuluan

Tumbuhan Asam jawa adalah sejenis buah yang masam rasanya; biasa digunakan sebagai bumbu dalam banyak masakan Indonesia sebagai perasa atau penambah rasa asam dalam makanan, misalnya pada sayur asam atau kadang-kadang kuah pempek. "Asam" adalah nama umum yang dipakai untuk semua bumbu dapur pemberi rasa masam pada masakan, termasuk juga asam kandis dan asam gelugur. Nama "asam jawa" dipakai oleh orang Melayu karena dipakai dalam masakan Jawa. Tumbuhan ini sendiri didatangkan oleh orang-orang dari India. Nama Tamarindus dan tamarind diturunkan dari bahasa Arab تمرهندي tamr hindī. Artinya kurang lebih: kurma India. Nama tumbuhan ini : Asam jawa, Nama lain : Asam Jawe  (lubai), Asam (malaysia), Asem (jawa), Sampalok (tagalog), ma-kham (thailand), Nama ilmiah : Tamarindus indica.

Karakteristik Tumbuhan 

Pohon asam berperawakan besar, selalu hijau (tidak mengalami masa gugur daun), tinggi sampai 30 m dan diameter batang di pangkal hingga 2 m. Kulit batang berwarna coklat keabu-abuan, kasar dan memecah, beralur-alur vertikal. Tajuknya rindang dan lebat berdaun, melebar dan membulat. Daun majemuk menyirip genap, panjang 5-13 cm, terletak berseling, dengan daun penumpu seperti pita meruncing, merah jambu keputihan. Anak daun lonjong menyempit, 8-16 pasang, masing-masing berukuran 0,5-1 × 1-3,5 cm, bertepi rata, pangkalnya miring dan membundar, ujung membundar sampai sedikit berlekuk.

Bunga tersusun dalam tandan renggang, di ketiak daun atau di ujung ranting, sampai 16 cm panjangnya. Bunga kupu-kupu dengan kelopak 4 buah dan daun mahkota 5 buah, berbau harum. Mahkota kuning keputihan dengan urat-urat merah coklat, sampai 1,5 cm. Buah polong yang menggelembung, hampir silindris, bengkok atau lurus, berbiji sampai 10 butir, sering dengan penyempitan di antara dua biji, kulit buah (eksokarp) mengeras berwarna kecoklatan atau kelabu bersisik, dengan urat-urat yang mengeras dan liat serupa benang. Daging buah (mesokarp) putih kehijauan ketika muda, menjadi merah kecoklatan sampai kehitaman ketika sangat masak, asam manis dan melengket. Biji coklat kehitaman, mengkilap dan keras, agak persegi.

Kegunaan Tumbuhan 

Daging buah asam jawa sangat populer, dan digunakan dalam aneka bahan masakan atau bumbu di berbagai belahan dunia. Buah yang muda sangat masam rasanya, dan biasa digunakan sebagai bumbu sayur asam atau campuran rujak. Buah yang telah masak dapat disimpan lama setelah dikupas dan sedikit dikeringkan dengan bantuan sinar matahari. 

Selain sebagai bumbu, untuk memberikan rasa asam atau untuk menghilangkan bau amis ikan, asem kawak biasa digunakan sebagai bahan sirup, selai, gula-gula, dan jamu. Thailand juga menghasilkan asam jawa yang manis rasanya. Buah ini populer dan dimakan dalam keadaan segar; karena itu diekspor dalam bentuk polong yang belum dikupas. 

Biji asam biasa dimakan setelah direndam dan direbus, atau setelah dipanggang. Selain itu, biji asam juga dijadikan tepung untuk membuat kue atau roti. Di samping daging buah, banyak bagian pohon asam yang dapat dijadikan bahan obat tradisional. 

Daun mudanya digunakan sebagai tapal untuk mengurangi radang dan rasa sakit di persendian, di atas luka atau pada sakit rematik. Daun muda yang direbus untuk mengobati batuk dan demam. Kulit kayunya yang ditumbuk digunakan untuk menyembuhkan luka, borok, bisul dan ruam. Kulit kayu asam juga digunakan sebagai obat kuat. Tepung bijinya untuk mengobati disentri dan diare. Kayu teras asam jawa berwarna coklat kemerahan, berat, keras dan bertekstur halus, sehingga kerap digunakan untuk membuat mebel, kerajinan, ukir-ukiran dan patung. 

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Penulis menanam pohon Asam Jawa dari biji, dikebun Kopi di desa Datar Lebuai, kecamatan Air Naningan, kabupaten Tanggamus, provunsi Lampung.

Tumbuhan Asam Gelugur

Pendahuluan

Tumbuhan Asam gelugur adalah pohon hijau abadi yang dimanfaatkan untuk bumbu masak dan bahan pengobatan. Tumbuhan ini masih sekerabat dengan manggis dan asam kandis, berasal dari Asia Selatan dan Asia Tenggara. Nama tumbuhan ini : Asam gelugur, Nama ilmiah : Garcinia atroviridis Griffith et Anders. 

Karakteristik Tumbuhan

Tumbuhan Asam gelugur memiliki batang panjang, tinggi mencapai 20 m dengan ranting dan daun terkulai, kulit kayu halus, abu-abu pucat, getah tidak berwarna. Daun agak lonjong, hingga 20 (-30) cm × 6 (-7.5) cm, hijau tua (merah cerah saat muda), mengkilap, berdaging-kasar, tepi menghadap ke atas, bagian bawah dengan pelepah menonjol dan hampir tidak terlihat tipis, gelap, bergelombang vena, tangkai daun hingga panjang 2.5 cm. Bunga jantan beberapa berkumpul di ujung ranting; bunga betina soliter, lebar 4-5 cm; sepal 4, tebal, hijau, persisten; kelopak 4, berdaging, merah tua, gigih; stigma merah. Buah bulat, diameter 7-10 cm, beralur 12-16 dari atas ke bawah; tangkai buah panjang 3-4 cm; kulit halus, tipis, kuning jingga cerah. Biji 0-beberapa, pipih, panjang sampai 1.5 cm, dikelilingi daging buah jingga cerah (arillode).

Kegunaan Tumbuhan

Buah mengandung asam sitrat, seperti tartaric, malic dan asam askorbat yang memiliki antioksidan, antimikroba, dan antitumur properti. Juga mengandung asam hidroksisitrat, yang berguna untuk melangsingkan dan gambar pemangkasan. Ini membantu untuk mempromosikan penurunan berat badan dengan mengurangi kandungan lemak tubuh dan darah trigliserida diinginkan tanpa efek samping.  Asam Gelugur juga mengandung flavonoid. Flavonoid menunjukkan berbagai biokimia dan efek farmakologis termasuk anti-oksidasi, anti-inflamasi, anti-platelet, anti-thrombotic tindakan, dan anti-alergi efek. 

Buah yang sudah dewasa tetapi berwarna hijau dikeringkan, utuh atau diiris, dan digunakan sebagai bumbu atau asam. Direbus dengan banyak gula, buah ini sangat enak untuk dimakan. Secara medis sebagai obat, buah dan daunnya dioleskan pada wanita setelah melahirkan dan rebusan daun dan akar digunakan untuk melawan sakit telinga. Buah kering digunakan sebagai fiksatif pewarna.

Sebagai bumbu, buahnya harus dipotong dan dikeringkan kemudian bisa dimanfaatkan sebagai pemberi rasa asam pada sejumlah masakan, terutama masakan dari Sumatra.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.

Tumbuhan Jahe

Pendahuluan

Tumbuhan Jahe adalah tumbuhan yang rimpangnya sering digunakan sebagai rempah-rempah dan bahan baku pengobatan tradisional. Rimpangnya berbentuk jemari yang menggembung di ruas-ruas tengah. Rasa dominan pedas yang dirasakan dari jahe disebabkan oleh senyawa keton bernama zingeronNama tumbuhan ini : Jahe, Pedas Padi (lubai),  Zingiber officinale (Inggris), Nama ilmiah :  Zingiberi.

Karakateristik Tumbuhan

Batang jahe merupakan batang semu dengan tinggi 30 hingga 100 cm. Akarnya berbentuk rimpang dengan daging akar berwarna kuning hingga kemerahan dengan bau menyengat. Daun menyirip dengan panjang 15 hingga 23 mm dan panjang 8 hingga 15 mm. Tangkai daun berbulu halus. Bunga jahe tumbuh dari dalam tanah berbentuk bulat telur dengan panjang 3,5 hingga 5 cm dan lebar 1,5 hingga 1,75 cm. Gagang bunga bersisik sebanyak 5 hingga 7 buah. Bunga berwarna hijau kekuningan. Bibir bunga dan kepala putik ungu. Tangkai putik berjumlah dua.

Kegunaan Tumbuhan

Rimpang jahe, terutama yang dipanen pada umur yang masih muda tidak bertahan lama disimpan di gudang. Untuk itu diperlukan pengolahan secepatnya agar tetap layak dikonsumsi.  Terdapat beberapa hasil pengolahan jahe yang terdapat di pasaran, yaitu: Jahe segar, Jahe kering, Jahe bubuk, Minyak jahe, Oleoresin jahe. 

  • Jahe kering : Merupakan potongan jahe yang kemudian dikeringkan. Jenis ini sangat populer di pasar tradisional. 
  • Bubuk jahe : Merupakan hasil pengolahan lebih lanjut dari jahe menggunakan teknologi industri. Bubuk jahe diperlukan untuk keperluan farmasi, minuman, alkohol dan jamu. Biasanya menggunakan bahan baku jahe kering. 
  • Oleoresin jahe : Adalah hasil pengolahan lebih lanjut dari tepung jahe. Bentuknya berupa cairan cokelat dengan kandungan minyak asiri 15 hingga 35%.

Penutup

Tulisan ini merupakan hasil kajian kepustakaan ruang digital melalui situs internet. Ucapan terima kasih penulis kepada para pengelola situs internet yang telah saya jadi sumber tulisan ini dan mohon maaf nama penulis sumber tulisan tidak saya tuliskan disini.