Ads 468x60px

Labels

Rabu, 26 Agustus 2009

Keramunting


Nama Daerah Lubai Muara Enim: Keremunting. Nama Melayu : Kemunting, Nama Saintifik: Rhodomyrtus tomentosa (Ait.) Hassk. Nama Lain: Kermunting, Kerebunting, Dunduok (kadazan dusun Negara Malaysia), Gangrenzi (cina), Downy rose myrtle, downy myrtle, hill gooseberry, hill guava, Isenberg bush, myrte-groseille, rose myrtle, Famili: Myrtacea, Lokasi dijumpai: Tumbuhan liar. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia : ke·ra·mun·ting n 1 tumbuhan yg tingginya antara 0,5 m—1,25 m, bunganya indah berwarna merah hijau, buahnya bulat berwarna merah kecokelat-cokelatan dan enak dimakan, daunnya dapat digunakan sbg obat luka; kemunting; Rhodomyrtus tomentosa; 2 buah keramunting.

Keterangan:
Keramunting adalah sejenis tanaman liar dengan pohon berkayu. Di padang-padang terbuka tingginya hampir serata tinggi orang-orang dewasa. Buahnya yang matang kira-kira tiga per empat buah anggur. Kulitnya seperti beludru, tak licin mengilat, kecuali jika baru tersiram hujan. Di dalamnya berbiji seperti biji anggur, daging seperti anggur, hanya terasa lebih berserat, tak terlalu mengandung air, dan rasanya manis. Tanaman ini Merupakan tumbuhan yang biasa tumbuh sebagai semak belukar. Dari hasil penelitian penulis tanaman ini banyak tumbuh di Daerh Sumatera Bagian Selatan, Bangka Belitung dan Riau. Di Negara Jiran Malaysia dan Thailand keramunting menjadi tumbuhan yang biasa menguasai kawasan lapangan dan merupakan tumbuhan liar.
Keramunting dapat tumbuh mencapai ketinggian hingga 2 meter. Batangnya yang muda mempunyai bulu-bulu pendek yang halus dan padat. Daunnya tersusun secara bertentangan, berbentuk ringkas dan berbentuk bujur. Permukaan daun berkilat dengan warna hijau gelap manakala bahagian bawah daunnya mempunyai bulu-bulu halur dan berwarna hijau pudar. Bunganya berwarna merah jambu, dengan lima kelopak. Ia mempunyai banyak stamen dengan 5 filamen berwarnamerah jambu dan saiznya berukuran (garis rentas) 2.5 cm. Satu atau lebih bunga tersusun pada tangkai bunga. Hingga bunga karamunting satu-satu berlepasan kelopaknya, menjelma menjadi buah berwarna hijau sekeras jambu biji mentah, berukuran sekacang tanah. Menjelang hujan turun di pangkal musim hujan satu-satu buah karamunting berwarna kemerahan. Sampai kemudian musim buah karamunting mencapai puncaknya, buah-buahnya bunting berwarna ungu. Buahnya kecil (beri) dengan ukuran garis rentas lebih kurang 1.3 cm, berwarna ungu gelap dengan isi yang manis dan berbau harum. Keramunting hidup subur dikawasan yang tanahnya mempunyai kelembapan yang tinggi terutamanya berhampiran dengan paya atau sungai. Namun ia juga boleh beradaptasi dengan pelbagai jenis tanah seperti tanah pasir dan tanah yang agak asin. Di Malaysia dan Thailand kemunting biasa dijumpai hidup dikawasan tanah pasir dan juga kawasan yang berpaya.

Kegunaan:
Di Daerah Lubai buah Keramunting hanya dimakan langsung tanpa melalui proses. Buah ini belum ada nilai tambah, karena buah ini hanya dianggap tumbuhan liar belaka yang dianggap tidak mempunyai nilai ekonomi yang tinggi. Masyarakat Lubai belum banyak tahu bahwa tumbuhan ini dapat menghasilkan nilai ekonomi yang dapat menambah pendapatan keluarga.
Pada Kabupaten Belitung Prov. Bangka Belitung Buah Keramunting dapat diolah menjadi  dodol keremunting dapat dibawa sebagai oleh-oleh khas Kabupaten Belitung.
Di Malaysia, masyarakat desa kadazan merebus akar kemunting untuk menjadikan air rebusannya sebagai penawar untuk muntah berdarah. Air rebusan ini (lebih kurang 150 ml) diminum tiga kali sehari selama tiga hari. Buahnya yang manis boleh digunakan untuk membuat pai dan juga jem. Di kawasan selatan Thailand buah kemunting yang masak ranum dan manis rasanya dimakan bersama santan yang dicampur dengan sedikit garam.

Palembang Kota Wisata

Kota Palembang adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum dihancurkan oleh Majapahit. Sampai sekarang bekas area Kerajaan Sriwijaya masih ada di Bukit Siguntang, di Palembang Barat.

Setelah dihancurkan oleh berbagai peristiwa mulai dari penyerbuan pasukan maritim barbar dan isolasi dari majapahit, kota ini lalu sangat terpengaruh budaya Jawa dan Melayu. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah bahasa. Kata-kata seperti “lawang (pintu)”, “gedang (pisang)”, adalah salah satu contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam di Jawa.

Kota ini memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Makanan khas daerah ini adalah pempek Palembang, tekwan, model, celimpungan, kue maksuba, kue 8 jam, kue engkak, laksan, burgo, dll. Makanan seperti pempek atau tekwan mengesankan “Chinese” taste masyarakat Palembang.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi. Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Secara teratur, sebelum masa NK-RI pertumbuhan kota palembang dapat dibagi menjadi 5 fase utama:

  1. Fase sebelum Kerajaan Sriwijaya Merupakan zaman kegelapan, karena mengingat Palembang telah ada jauh sebelum bala tentara sriwijaya membangun sebuah kota dan penduduk asli daerah ini seperti yang tertulis pada manuskrip lama di hulu sungai musi merupakan penduduk dari daerah hulu sungai komering.
  2. Fase Sriwijaya Raya, Palembang menjadi pusat dari kerajaan yang membentang mulai dari barat pulau jawa, sepanjang pulau sumatera, semenanjung malaka, bagian barat kalimantan sampai ke indochina. Runtuhnya Sriwijaya sendiri utamanya karena penyerbuan bangsa-bangsa pelaut ‘yang tidak terdefinisikan’, sebagian sejarahwan mengatakan bahwa mereka adalah pasukan barbar laut dari Srilanka (Ceylon). Akibat hancurnya kekuatan maritim mereka, Sriwijaya menjadi lemah dan persekutuan daerah-daerah kekuasaanya terlepas dan ketika datangnya Ekspedisi Pamalayu dari Jawa (majapahit) ke jambi dalam melakukan isolasi kepada Palembang, untuk mencegah Sriwijaya bangkit kembali.
  3. Fase Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, Disekitar Palembang dan sekitarnya kemudian bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning dihilir sungai musi, Si Gentar Alam didaerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu sungai Komering, Panglima Gumay disepanjang Bukit Barisan dan sebagainya. Pada fase inilah Parameswara yang mendirikan Tumasik (Singapura) dan kerajaan Malaka hidup, dan pada fase inilah juga terjadi kontak fisik secara langsung dengan para pengembara dari Arab dan Gujarat.
  4. Fase Kesultanan Palembang Darussalam, Hancurnya Majapahit di Jawa secara tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama hasil dari Ekspedisi Pamalayu di Sumatera. Beberapa tokoh penting dibalik hancurnya majapahit seperti Raden Patah, Ario Dillah (Ario Damar) dan Pati Unus merupakan tokoh-tokoh yang erat kaitanya dengan Palembang. Setelah Kesultanan Demak yang merupakan ‘pengganti’ dari majapahit dijawa berdiri, di Palembang tak lama kemudian berdiri pula ‘Kesultanan Palembang Darussalam’ dengan raja pertamanya adalah ‘Susuhunan Abddurrahaman Khalifatul Mukmiminin Sayyidul Iman’. Kerajaan ini mengawinkan dua kebudayaan, maritim peninggalan dari Sriwijaya dan agraris dari Majapahit dan menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu Raja yang paling terkenal pada masa ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat menang tiga kali pada pertempuran melawan Eropa (Belanda dan Inggris).
  5. Fase Kolonialisme, Setelah jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran yang keempat melawan Belanda yang pada saat ini turun dengan kekuatan besar pimpinan Jendral De Kock, maka Palembang nyaris menjadi kerajaan bawahan. Beberapa Sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyatakan menyerah kepada Belanda berusaha untuk memberontak tetapi kesemuanya gagal dan berakhir dengan pembumi hangusan bangunan kesultanan untuk menghilangkan simbol-simbol kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar, dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.

Kota Palembang telah dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ‘Kota Wisata Air’ pada tanggal 27 September 2005. Presiden mengungkapkan bahwa kota Palembang dapat dijadikan kota wisata air seperti Bangkok, Thailand dan Pnomh Phenh, Kamboja.

Kamis, 13 Agustus 2009

Gaharu

Nama Tempatan: Gaharu/depu, Nama Saintifik: Aquilaria malaccensis, Nama Lain: Karas, Engkaras, agar wood, aquilaria, krasna, agaloca,aloeswood, eaglewood, jinkoh. Famili: Thymelaeaceae, Lokasi dijumpai: Hutan hujan tropika. Asal: Tumbuhan tempatan

Keterangan:
Pohon Gaharu di kawasan Desa Jiwa Baru Kec. Lubai Kab. Muara Enim Prov. Sumatera Selatan disebut Kayu Kahas. Sewaktu penulis masih kecil periode tahun 80-an, penggunaan Kayu Gaharu oleh orang tua penulis maupun masyarakat Lubai lainnya hanya untuk diambil kulitnya. Kulit kayu Gaharu dapat dijadikan tali pengikat, sebagai dinding pondok atau danggau di Ladang dalam bahasa Lubai Ume.
Pohon Gaharu di Malaysia dengan nama Gaharu, Depu, Karas atau engkaras merupakan pohon besar yang dapat mencapai ketinggian sehingga 40 meter tingginya. Diameter batangnya pula boleh mencapai sekitar 60 cm. Gaharu merupakan sejenis tumbuhan yang tumbuh di kawasan hutan hujan tropika, terutamanya di tanah rendah sehingga ke kawasan yang ketinggiannya sehingga 270 meter daripada paras laut. Taburan pertumbuhan depu secara geografinya meliputi kawasan Asia tenggara, India dan China. Gaharu boleh hidup di semua jenis tanah kecuali kawasan paya dan berair.

Kegunaan:
Resin yang terhasil di bahagian teras batang pokok gaharu merupakan bahan yang mempunyai nilai komersial yang amat di tinggi di pasaran seluruh dunia. Resin ini telah digunakan sejak zaman berzaman sebagai setanggi atau kemenyan, digunakan dalam pengobatan, kosmetik mahupun bahan untuk upacara keagamaan. Cara tradisonal untuk mendapatkan resin ini ialah dengan menebang pokok ini untuk mendapatkan resinnya. Malangnya tidak semua pokok yang telah matang akan menghasilkan resin, menyebabkan ada pokok yang ditebang secara sia-sia sahaja. Ini menyebabkan pohon Gaharu di kawasan Lubai terancam kepupusan di habitat asalnya.

Kini gaharu merupakan spesis tumbuhan yang di lindungi di negara  Malaysia. Perjanjian antarabangsa seperti CITES(Satu konvensioan yang membincangkan urusniaga antarabangsa yang dilakukan ke atas spesis-spesis terkawal) telah diperakui dan dipersetujui oleh 169 buah negara. Persetujuan ini adalah untuk memastikan urusniaga gaharu tidak akan mengancam kepupusan pokok gaharu di habitat semulajadinya.

Pohon Putat


Nama Tempatan: Putat, Nama Saintifik: Barringtonia racemosa (L.) Spreng, Nama Lain: Putat kampung, putat ayam, lamog (Filipina), Famili: Lecythidaceae, Lokasi dijumpai: Tumbuhan liar. 

Keterangan:
Putat merupakan tumbuhan yang biasa dijumpai tumbuh dikawasan tepi sungai atau berhampiran dengan kawasan yang berpaya/berawa. Ia merupakan sejenis pohon yang berukuran sederhana dan dapat mencapai ketinggian hingga 10 meter. Ia di jumpai tumbuh dikawasan asia tenggara dan kepulauan pasifik. Terdapat dua jenis putat yang selalunya dijadikan ulam oleh masyarakat melayu iaitu putat hijau dan putat merah. Sewaktu penulis masih kecil saat masih berdomisili di Desa Jiwa Baru Lubai Kab. Muara Enim Sumataera Selatan, sangat senang makan daun muda Putat dalam bahasa Lubai Dahok Putat. 
Selain dari pucuknya buahnya juga boleh dijadikan ulam. Di Lubai pohon putat dikenal dengan dua sebutan Putat Talang dan Putat Lebak yang tumbuhan didekat sungai Lubai.
Ada juga putat yang dipanggil putat laut (Barringtonia asiatic) seperti namanya putat ini biasa dijumpai tumbuh berhampiran dengan pantai. Daunnya juga agak berbeda dengan daun putat paya dengan warna daunnya hijau gelap yang berkilat. Bentuk buahnya juga berbeda. Walaupun habitat asalnya berhampiran dengan laut ia juga boleh ditanam dalam medium yang lain.
Untuk keterangan lanjut mengenai putat laut dan gambarnya silakan kunjungi :

Kegunaan:
Ekstrak biji putat terbukti secara saintifik mempunyai sifat anti kanser. Di kerala India biji putat digunakan untuk merawat pelbagai penyakit yang menyerupai kanser(ketumbuhan).

Selasa, 11 Agustus 2009

Kayu Terap

Terap atau tarap adalah sejenis pohon buah dari marga pohon nangka (Artocarpus). Buahnya serupa nangka yang kecil, dengan bau wangi yang kuat, seperti dicerminkan oleh nama ilmiahnya: Artocarpus odoratissimus. Buah ini juga dikenal sebagai marang (Filipina) atau Johey Oak (Ingg.). Tehap dalam bahasa Lubai - Muara Enim.

Pengecualian: Jenis pohon terap ini tidak sama dengan pohon benda atau bendo (Artocarpus elasticus), yang juga disebut terap (di Serawak) atau teureup (di Jawa Barat).
Pohon terap tingginya mencapai 25 m, dan batangnya dapat mempunyai diameter sampai 40 cm, keabu-abuan. Ranting dengan bulu-bulu panjang kuning sampai kemerahan. Berumah satu (monoecious).

Buah terap liar yang telah masak.

Daun berbentuk jorong sampai bundar telur terbalik, 11-28 × 16-50 cm, bertepi rata atau menggerigi dangkal, berujung tumpul atau sedikit meluncip, bertangkai 2-3 cm. Daun penumpu bundar telur, 1-8 cm, berbulu kuning atau merah, bila rontok meninggalkan bekas cincin pada ranting.

Perbungaan dalam bongkol soliter, yang muncul pada ketiak daun. Bongkol bunga jantan berbentuk jorong sampai gada, 2-6 × 4-11 cm. Buah majemuk (syncarp) agak bulat, sampai 13 × 16 cm, kuning kehijauan bila masak, dengan tonjolan-tonjolan serupa duri lunak pendek, bertangkai panjang 5-14 cm, muncul di ujung ranting seperti pada sukun. Daging buah (semu, yang sebetulnya adalah perkembangan dari perhiasan bunga) berwarna keputihan, mengandung banyak sari buah, manis dan harum sekali, terasa licin lunak dan agak seperti jeli di lidah. Biji (perikarp) 8 × 12 mm.

Terap atau Tehap dalam bahasa Lubai kurang menyebar luas di Daerah Lubai dan sekitarnya, Kayu ini dianggap sebagian masyarakat Lubai tidak mempunyai nilai ekonomi yang unggul. Terap lebih dikenal di Filipina, masyarakat disana membudidayakan secara luas (misalnya di Mindoro, Mindanao, Basilan dan Sulu), Borneo bagian utara (Brunei, Sabah, Serawak, dan juga Kalimantan Timur) dan Thailand. Asal-usulnya diperkirakan dari bagian utara Borneo, di mana ditemukan jenis liarnya di alam. Terap juga dibudidayakan di Queensland, Australia.

Pohon ini terutama ditanam karena buahnya, yang dimakan dalam keadaan segar atau diolah sebagai kue-kue. Buah terap harus segera dimakan dalam beberapa jam setelah dibuka, karena baunya yang harum cepat berkurang dan warnanya dapat berubah karena teroksidasi. Biji terap juga dapat dimakan setelah dipanggang atau direbus dengan garam.

Terap dapat tumbuh sejak daerah dekat pantai hingga ketinggian sekitar 1000 m dpl. Pohon ini menyenangi tanah liat berpasir dan wilayah dengan curah hujan cukup tinggi dan merata. Buah biasa didapati di awal musim hujan, antara Agustus hingga Januari bergantung pada lokasinya.

Nama Terap atau Tehap diabadikan oleh nenek moyangku untuk sebuah nama danau yaitu Danau Tehap terletak di Muara Pegang, Desa Jiwa Baru Kec. Lubai Kab. Muara Enim Prov. Sumatera Selatan.

Senin, 10 Agustus 2009

POHON KAYU DI LUBAI

  1. Keremunting tumbuhan ini banyak tumbuh di dataran kering tanah yang berpasirkawasan belukar di Kecamatan Lubai. Keremunting menghasilkan buah yang sangat manis bisa diolah menjadi makanan dan minuman, Sentra dari pengerajin makanan dari bahan baku buah keremunting di Lubai belum kita ketemukan. Masyarakat disini lebih senang menjadi petani Karet daripada menjadi petani lainnya.
  2. Kayu Pelawan merupakan tumbuhan kayu keras masyarakat yang bermukiman di Lubai biasanya menggunakan tumbuhan ini untuk bahan kayu bakar sebab arang dan api yang dihasilkan sangat bagus, tapi yang lebih penting tumbuhan kayu Pelawan ini mempunyai bunga untuk lebah madu sehingga madu yang dihasilkan dari bunga Pelawan ini mempunyai rasa tersendiri dan ini sangat khas.
  3. Kayu Simpoh dalam bahasa Bahasa Bangka Simpor banyak dijumpai di dataran basah akar dari tumbuhan ini sebagai penyangga dari aliran air disungai-sungai kecil. Tumbuhan Simpoh mempunyai karakter daun yang lebar serta bunga yang besar berwarna kuning dan sangat indah, Daun dari tumbuhan ini biasanya di jual masyarakat ke pasar sebagai pembungkus bumbu dapur tumbuhan ini juga bisa dijadikan tanaman hias perkarangan sebab kumbang dan kupu-kupu sangat menyukai bunga Simpoh. Jika dipopulerkan tanaman ini akan mempunyai nilai komoditi yang bagus sebagai tanaman hias dari Kecamatan Lubai. Tumbuhan Simpoh ini mempunyai dua jenis biasanya jenis yang satunya sangat langkah masyarakat menamakan Simpoh laki. Tumbuhan ini juga berdaun lebar namun tidak mempunyai cabang. Apabila masyarakat menemukan tumbuhan Simpoh laki, biasanya akan disimpan dirumah sebagai pengusir balak atau menjadikan gagang parang sebab masyarakat percaya tumbuhan Simpoh laki ini mempunayai kekuatan magis.
  4. Rukam (Ganda Rukem, Family Flacourtiaceae). Buah rukam yang matang dapat dimakan dalam keadaan segar; sebelum dimakan sebaiknya dipijit-pijit dahulu dengan jari, sebab dengan cara ini rasa sepet daging buahnya akan hilang. Buah rukam dapat pula dibuat rujak dan asinan, atau dicampur gula dijadikan selai atau permen. Daun mudanya dapat dimakan mentah sebagai lalap. Buah mudanya digunakan dalam ramuan obat tradisional untuk mengobati diare dan disentri. Air perasan daunnya dipakai untuk mengobati kelopak mata yang bengkak. Di Filipina, seduhan akar rukam diminum oleh wanita yang baru saja melahirkan. Kayu rukam keras dan kuat, dapat digunakan untuk membuat perabot rumah tangga, seperti alu dan mebel.
  5. Kayu Cengal (Neobalanocarpus Heimii) ialah sejenis pohon kayu keras yang dapat popular di masyarakat lubai. Kawasan taburan semula jadi kawsan pohon ini di Semenanjung Malaysia, Singapura dan selatan Thailand. Pohon Cengal menghasilkan kayu terbaik dan mencapai harga tertinggi di pasaran jika dibandingkan dengan jenis kayu lain dan tergolong dalam keluarga 'Dipterocarpacease' iaitu sejenis pokok menghasilkan buah yang mempunyai sepasang sayap serta mengeluarkan resin atau damar. Ketahanan kayu itu disebabkan terdapat sejenis bahan awet semula jadi yang melindungi kayu teras. Kayu gubal, teras serta kulit pokok cengal mempunyai sejenis damar yang dikenali sebagai damar penak dan boleh digunakan dalam pembuatan varnis.
  6. Cendana, atau cendana wangi, merupakan pohon penghasil kayu cendana dan minyak cendana. Kayunya digunakan sebagai rempah-rempah, bahan dupa, aromaterapi, campuran parfum, serta sangkur keris (warangka). Kayu yang baik bisa menyimpan aromanya selama berabad-abad. Konon di Sri Lanka kayu ini digunakan untuk membalsam jenazah putri-putri raja sejak abad ke-9. Di Indonesia, kayu ini banyak ditemukan di Nusa Tenggara Timur, khususnya di Pulau Timor, meskipun sekarang ditemukan pula di Pulau Jawa dan pulau-pulau Nusa Tenggara lainnya. Cendana adalah tumbuhan parasit pada awal kehidupannya. Kecambahnya memerlukan pohon inang untuk mendukung pertumbuhannya, karena perakarannya sendiri tidak sanggup mendukung kehidupannya. Karena prasyarat inilah cendana sukar dikembangbiakkan atau dibudidayakan.
  7. Kayu Petaling tumbuhan ini banyak tumbuh di Hutan Lubai. Nenek Moyang orang Desa Jiwa Baru Lubai, mengabadikan nama kawasan hutan larangan dengan nama ini HIMBE PETALING.
  8. Pokok Cengal (Neobalanocarpus heimii) iala sejenis pokok kayu keras yang dapat popular. Pokok cengal menghasilkan kayu terbaik dan mencapai harga tertinggi di pasaran jika dibandingkan dengan jenis kayu lain dan tergolong dalam keluarga 'Dipterocarpacease' iaitu sejenis pokok menghasilkan buah yang mempunyai sepasang sayap serta mengeluarkan resin atau damar. Kayu cengal adalah kayu keras yang tahan lama dan mempunyai ketumpatan antara 915 hingga 980 kilogram per meter padu yang kebiasaannya digunakan dalam kerja pembinaan berat terutama pembinaan bot, selain dijadikan tiang, serta jambatan tanpa perlu diawet kerana ia tahan dari serangan anai-anai.

KAYU SUNGKAI

BUDIDAYA SUNGKAI (Peronema canescens)
PENDAHULUAN
Sungkai (Peronema canescens) sering disebut sebagai jati sabrang, ki sabrang, kurus, sungkai, sekai termasuk kedalam famili Verbenaceae. Daerah penyebarannya di Indonesia adalah Sumatera Barat, Jambi, Bengkulu, Sumatera Selatan, Jawa Barat, dan seluruh Kalimantan. Tempat tumbuh di dalam hutan tropis dengan type curah hujan A sampai C, pada tanah kering atau sedikit basah dengan ketinggian sampai 600 m diatas permukaan laut. Tanaman sungkai perlu tanah yang baik, sedangkan di tanah mergel tidak dianjurkan.
Tinggi pohon mencapai 20–30 m panjang batang bebas cabang mencapai 15 m, dengan diameter 60 cm atau lebih, batang lurus dan sedikit berlekuk dangkal, tidak berbanir, dan ranting penuh bulu halus. Kulit luar berwarna kelabu atau sawo muda, beralur dangkal, mengelupas kecil-kecil dan tipis. Kayu teras berwarna krem atau kuning muda. Tekstur kayu kasar dan tidak merata. Arah serat lurus, kadang-kadang bergelombang dengan permukaan kayu agak kesat.
Kegunaan kayu sungkai cocok untuk rangka atap, karena ringan dan cukup kuat. Selain itu ipakai juga untuk tiang rumah dan bangunan jembatan.
Garis-garis indah mungkin baik untuk vinir mewah, kabinet dan sebagainya. Kayunya mempunyai berat jenis 0,62 dan termasuk kelas kuat II – III serta kelas awet III.
Tanaman sungkai berbuah sepanjang tahun, terutama pada bulan Maret – Juni. Tiap kilogram biji berisi 262.000 butir.
PEMILIHAN BENIH
Untuk keperluan pembibitan pemilihan benih (biji) dilakukan dengan cara mengambil buah-buah yang sudah tua yang ditandai warna coklat tua. Akan tetapi mengingat perbanyakan secara vegetatif lebih mudah dilaksanakan, maka untuk pengadaan benih penanaman dipakai stek batang, yang diambil dari terubusan-terubusan yang berumur lebih kurang dua tahun pada tunggul bekas tebangan. Tunggul yang dipilih sebagai induk dari terubusan calon stek adalah tunggul yang berasal dari tegakan terpilih/tegakan plus.
PEMBIBITAN
Pemilihan Terubusan yang akan dipakai sebagai bahan stek dilakukan dengan cara memilih terubusan yang sehat dan sudah berkayu dengan diameter lebih kurang 2,5 cm dan panjang 25 cm – 30 cm. Untuk merangsang pertumbuhan akar, maka stek dapat diberi hormon tumbuh (Roton F), kemudian ditanam/disemaikan dalam kantong plastik. Kantong-kantong plastik sebaiknya dibuat bedengan dan dinaungi. Cara pemeliharaan bibit adalah penyiraman dua kali sehari dan jika terserang hama/penyakit dilakukan pemberantasan dengan insektisida/fungisida. Dengan cara ini biasanya bibit siap dipindahkan kelapangan pada umur lebih kurang 3 bulan.
PENANAMAN
Sungkai dapat ditanam pada areal bekas tebangan dan semak belukar dengan sistim jalur atau cemplongan. Disamping itu dapat juga ditanam pada areal yang terbuka dengan pengolahan tanah total yang dapat dikombinasi dengan pemberian tanaman tumpang sari.
Kegiatan penanaman meliputi :Persiapan Lapangan
Dalam persiapan lapangan yang pertama kali dilaksanakan adalah land clearing/pembabatan semak belukar, kemudian di ikuti dengan pengolahan tanah. Untuk sistim jalur dan cemplongan, pekerjaan utama yang perlu dilaksanakan adalah pembuatan dan pemasangan ajir.
Arah pembersihan lapangan dilaksanakan sesuai dengan ajir. Tahap selanjutnya adalah pembuatan lubang tanaman yang jaraknya sisesuaikan dengan jarak tanam yg telah direncanakan yaitu 3 m X 2 m atau 4 m X 2m kemudian setelah berumur 5 tahun dilakukan penjarangan pertama.
Lubang tanaman sebaiknya dibuat 7 – 15 hari sebelum pelaksanaan penanaman, dengan ukuran lubang 30 cm X 40 cm X 30 cm.Penanaman
Bibit dalam kantong plastik yang telah diseleksi diangkut kea areal penanaman yang jumlahnya disesuaikan dengan kemampuan tanam perhari. Bibit ditanam satu persatu pada setiap lubang denga terlebih dahulu melepas/menyobek bagian bawah kantong plastik secara hati-hati agar tanahnya tidak pecah. Bibit ditanam berdiri tegak dan ditutup dengan tanah di sekelilingnya ditekan dengan tangan dari samping agar tanah padat. Dalam penanaman harus diusahakan agar batang dan akar tidak rusak atau bengkok.Pemeliharaan Tanaman
Kegiatan pemeliharaan tanaman adalah penyulaman, penyiangan, pendangiran, pemupukan dan pemberantasan hama/penyakit.
Penyulaman dilakukan pada tahun pertama dan tahun kedua, sedangkan kegiatan penyiangan, pendangiran dan pemupukan sebaiknya dilaksanakan dua kali dalam setahun yaitu pada awal dan akhir musim penghujan serta dilaksanakan sampai tanaman cukup besar. Pemberantasan hama dan penyakit hanya dilaksanakan sewaktu-waktu yaitu jika ada serangan hama/penyakit atau diperkirakan akan terjadi serangan penyakit. Hama yang menyerang tanaman sungkai antara lain penggerek batang dan penggerek pucuk. Serangan penggerek tersebut dapat diberantas dengan insektisida yang bersifat sistemik.

Pohon Rengas

Nama Saintifiknya ialah Gluta Renghas. Orang-orang Cina menyebutnya dengan nama Chat-si atau Kayu Hantu. Pohon kayu Rengas mudah dikenali melalui kulit pada batangnya yang pecah tetapi bahagian terbuka besarnya diatas tidak seperti kulit kayu lain yang rekahan kulitnya rapat dibahagian atas tetapi besar bukaannya dibahagian hujung bawah (silahkan perhatikan gambar).
Keratan rentas batangnya menunjukkan ada tanda lingkaran hitam. Mereka yang suka ke hutan samada untuk tujuan perkhemahan / camping, mencari akar kayu, Sepanjang Daerah Aliran Sungai Lubai ; anda mungkin akan bertemu dengan sepohon pokok hantu yang boleh akan menyergah anda pada bila-bila masa tanpa anda sedari ; tanpa anda kenali. Tahu-tahu saja anda sudah merasai...
Pokok Rengas..orang-orang Cina mengelarkannya sebagai Pohon Hantu. Getah pohon ini amat bisa sekali jikalau terkena kulit. Ada jenis getah pohon Rengas yang menyebabkan kulit yang terkena getahnya kelihatan seolah-olah seperti terkesan terbakar kehitaman tetapi amatlah gatal sekali malah menyakitkan. Jika digarut, ia kan melecet dan bertambah gatal lagi. Jika tangan yang mengaru itu mneyentuh tempat lain pada tubuh badan maka ia seolah-olah akan menjangkiti tempat itu pula, seterusnyalah apabila digarut maka ia akan menular seluruh badan.

Begitu juga jenis Rengas yang memberi kesan bintik-bintik jernih yang berair, ia amat gatal sekali. Apabila kita mandi mneggunakan sabun mandi, ia seperti satu wabak, menjangkiti seluruh badan menyebabkan seluruh badan mengalami kegatalan dan bila terkena muka, muka akan membengkak. Ramai orang tidak dapat menahan kesan kegatalan ini. Kadang-kadang bagi mereka yang jenis darahnya sensitif, duduk bernaung dibawah pohonnya saja pun sudah terasa gatal-gatal diseluruh badan, tetapi ada juga mereka yang boleh tahan dengan kesan getah pohon Rengas ini.
Perawatan
Tawas merupakan perawatan segera apabila terkena getah Rengas ini, maklumlah kerja di kawasan perhutanan. Tetapi ia adalah untuk rawatan sementara saja jika tidak banyak yang kena. Apabila saja rasa gatal-gatal di sesuatu tempat dan ada kesan bintik-bintik berair, tuangkan sedikit saja air panas dalam bekas yang mengandungi tawas, kemudian sapukan ke tempat gatal itu, biarkan ia kering sendiri. Bila sudah kering, ia akan nampak kesan putih seperti bergaram pada kawasan tersebut, ulangi lagi sehingalah gatal-gatal itu hilang dan bintik-bintik berair itu jadi kering. Jangan digarut pada tempat gatal itu. Jika tidak tahan sangat, hanya tekankan jari (kalau boleh jangan gunakan jari) dikeliling tempat yang gatal itu.

Rawatan terbaik ialah melalui suntikan tetapi bukan semua klinik yang faham kekuatan dos ubat suntikan bagi menghilangkan kegatalan akibat terkena kayu Rengas ini malah Kayu Rengas pun mereka tidak tahu. Hanya klinik tertentu sahaja yang biasa memberi rawatan kepada mereka yang terkena getah pokok ini boleh memberikan hanya dengan sekali suntikan saja. Jika tidak, satu suntikan dari klinik biasa tidak memberi kesan penyembuhan yang segera malah terpaksa mendapatkan suntikan susulan yang kedua.

Minggu, 09 Agustus 2009

Kayu Bungur

Bungur sebenarnya ada dua jenis. Bunga yang bermahkota dan daun besar, disebut bungur atau bahasa latinnya lagerstroemia speciosa Pers. Sedangkan yang kecil dan berbunga kecil, disebut bungur kecil. Khusus yang dibahas dalam tulisan ini, bungur yang berukuran besar.
Berdasarkan penelitian, daun bungur memiliki kandungan Kimia, seperti saponin, flavonoidaa dan tanin. Sementara bunga indahnya, belum ada penelitian tentangnya. Dan ternyata, zat kimia ini membuat bungur memiliki khasiat obat.
Bunga yang banyak ditemukan di hutan Daerah Aliran Sungai Lubai, mudah tumbuh di tanah gersang, apalagi di tanah subur, maupun hutan heterogen berbatang tinggi. Posturnya yang bisa digunakan sebagai pohon pelindung, membuat bungur di tanam di pinggir jalan. Pokoknya, bungur bisa tumbuh dengan subur, sampai ketinggian 800 meter dari permukaan laut. Dari segi fisik, bungur bisa ditandai dengan tingginya yang mencapai 10 sampai 30 meter. Batangnya bulat, percabangan mulai dari bagian pangkalnya, dan berwarna coklat muda.

Daunnya tunggal, dengan tangkai pendek. Helaian daunnya berbentuk oval, elips atau memanjang, tebal seperti kulit, panjang 9-28 cm, dan lebar 4-12 cm, dengan warna hijau tua. Jika berbunga, maka akan tampaklah jumlahnya yang banyak, dengan warna ungu. Bunga bungur tersusun dalam malai yang panjangnya 10-50 cm. Ia keluar dari ketiak daun atau ujung ranting. Buahnya buah otak, berbentuk bola sampai bulat memanjang. Jika diukur, maka panjangnya bisa 2-3,5 cm, beruang 3-7. Buah yang masih muda berwarna hijau, setelah masak akan berubah menjadi coklat. Ukuran bijinya cukup besar, pipih, ujung bersayap berbentuk pisau, berwarna coklat kehitaman. Bungur dapat diperbanyak dengan biji.

Kecuali bunga dan akar, biji, daun dan kulit kayu bungur bisa digunakan sebagai bahan obat-obatan. Di mana bijinya, dapat digunakan untuk pengobatan tekanan darah tinggi. Adapun kulit kayu, digunakan untuk pengobatan diare, disentri, dan Kencing darah. Sementara kayunya, digunakan untuk pengobatan Kencing batu, kencing manis dan tekanan darah tinggi. Dengan demikian, bisa disimpulkan kalau pohon bungur ini bisa mengobati penyakit kencing yang sangat menyiksa penderitanya.

Jika anda sedang mengalami penyakit-penyakit di atas, maka tidak ada salahnya mengobatinya dengan bungur. Di mana Untuk obat yang diminum, bisa dilakukan dengan merebus kulit kayu sebesar dua ibu jari, lalu air rebusannya diminum. Sementara untuk pemakaian luar, dapat digunakan bijinya untuk pengobatan eksim. Untuk lebih meyakinkan, para ahli telah menemukan efek farmakologis bungur, dari beberapa kali percobaan. Menurut Heriyanto, dari Fakultas Farmasi WIDMAN, menemukan ekstrak kulit batang bungur pada konsentrasi 1-3 g/ml, menunjukkan adanya daya antibakteri terhadap Escherichia coli dan Shigella sonnei. Sebagai pembanding digunakan kloramfenikol base.

Lain lagi dengan Putu Pramitasari, FF UBAYA, melakukan percobaan dengan infus daun bungur (bunga putih) 10% dan 20% dengan takaran 5 ml/kg bb, dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci. Infus 40% dengan takaran sama tidak meningkatkan efek hipoglikemik. Sebagai kontrol, digunakan air suling. Cara uji dengan metode toleransi glukosa oral. Ada beberapa resep yang bisa diikuti, untuk mendapatkan khasiat bungur. Bila penderita eksim ingin mendapatkan khasiatnya, maka gongsenglah 5 g biji yang telah masak, lalu tumbuk sampai memjadi serbuk halus. Ke dalam serbuk tersebut, tambahkan 1/2 sendok teh minyak kelapa, lalu aduk sampai rata. Untuk pengobatan, oleskan ramuan tersebut pada bagian kulit yang terkena eksim.
Bagi penderita diare, cucilah kulit kayu sebesar 2 jari sampai bersih, lalu tumbuk sampai halus. Tambahkan 1/2 cangkir air masak. lalu aduk sampai rata. Selanjutnya, saring dan airnya diminum sekaligus.

Kencing manis yang sangat mengganggu, bisa diatasi dengan mencuci 8 lembar daun bungur segar sampai bersih, lalu rebus dalam tiga gelas air sampai tersisa satu gelas. Setelah dingin saring, lalu minum sekaligus pada pagi hari. Bungur sangat penting untuk kelancaran buang air, dan penyakit lainnya. Maka tidak ada salahnya menanamnya di pekarangan rumah, pengganti pohon lindung yang tidak berbunga.Bunganya sangat cantik, dan ramai. Rumah bisa seperti dikelilingi warna pink, jika musim bunganya tiba.
Dari berbagai sumber

Bukit Jehing


Dataran Bukit Jehing merupakan areal Pertanian Karet di Desa Jiwa Baru Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan. Pada areal ini Ibu kami Nafisyah binti Wakif bin Kenaraf mempunyai tanah warisan seluas 100 (seratus) Hektar.
Pada tahun 1957 ayah kami M. Ibrahim bin Haji Hasan bin Aliaqim membuka Kebon Karet. Jenis yang ditanam adalah pohon karet Para, Hevea brasiliensis (Euphorbiaceae). Lahan pertanian yang dijadi kebon Karet seluas 70 (tujuhpuluh) Hektar secara kolektif dan 30 (tigapuluh) Hektar secara individu.
Pada tahun 1964 pada areal ini sehubungan dengan Kebon Karet kami terbakar digantikan dengan tanaman karet adalah pohon karet Para. Hevea brasiliensis (Euphorbiaceae). Tanaman serai Wangi ini seluas 60 (enampuluh) Hektar.
Bandar Lampung, 9 Agustus 2009
Amarmakruf Silahturrahim Lubai

Menanti Lubai

Nama Desa Menanti ”bahasa Lubai : Duson Menanti” .

Nama ini dimaksudkan oleh para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang sudah lama menanti menjadi sebuah desa. Penantian itu akan segera terwujud, penulis berpendapat akan lebih baik lagi jika nama desa Menanti menjadi Lubai Menanti atau Suka Menanti.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :



Nan·ti 1 n waktu yg tidak lama dr sekarang; waktu kemudian; kelak: hal itu akan kita bicarakan --; -- saya akan menelepon Anda lagi; sampai bertemu lagi --; 2 adv kalau tidak begitu; kalau tidak: dengarkan nasihatku baik-baik, -- engkau menyesal; jangan kauganggu, -- ia marah; 3 adv akan: tidak -- menurut perintahmu; ber·nan·ti-nan·ti v selalu mengatakan "nanti" (kalau disuruh atau diingatkan); nan·ti·nya n kelak: hasil pembangunan itu ~ harus memenuhi kebutuhan.


Nan·ti v tunggu; ber·nan·ti-nan·ti v selalu menunggu; lama menunggu; ber·nan·ti·an v 1 menunggu-nunggu; berjaga-jaga: mereka ~ di pantai; 2 saling menunggu; me·nan·ti v menunggu: telah lama saya ~ Anda di sini; me·nan·ti-nan·ti v menunggu-nunggu: dr tadi kami ~ kedatanganmu; me·nan·ti·kan v menunggu kedatangan orang atau sesuatu yg akan datang: lama ia ~ ibunya; bus itu ~ calon penumpangnya yg masih harus menyeberang jalan; ter·nan·ti-nan·ti v menanti-nanti dng penuh harapan; berharap-harap: banyaklah orang ~ hendak melihat bagaimana hasil perundingan itu; nan·ti-nan·ti·an v ternanti-nanti; saling menanti; pe·nan·ti n 1 orang yg menanti (menunggu); 2 penerima tamu; pe·nan·ti·an n 1 tempat menanti (menunggu); 2 hal (keadaan) menanti

Air Asam Lubai


Nama Desa Air Asam ”bahasa Lubai : Duson Ayah Masam” .

Nama ini dimaksudkan oleh para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai keberadaan dekat dengan sungai, nama sungainya Air Asam letaknya diwilayah Kecamatan Lubai.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Air n 1 cairan jernih tidak berwarna, tidak berasa, dan tidak berbau yg terdapat dan diperlukan dl kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan yg secara kimiawi mengandung hidrogen dan oksigen; 2 benda cair yg biasa terdapat di sumur, sungai, danau yg mendidih pd suhu 100o C; -- beriak tanda tak dalam, pb orang yg banyak cakap (sombong dsb), biasanya kurang ilmunya; -- besar batu bersibak, pb persaudaraan (keluarga) menjadi cerai-berai apabila terjadi perselisihan; -- diminum rasa duri, nasi dimakan rasa sekam, pb tidak enak makan dan minum (krn terlalu sedih dsb); -- tenang (biasa) menghanyutkan, pb orang yg pendiam biasanya banyak pengetahuannya; bagai -- di daun talas, pb selalu berubah-ubah (tidak tetap pendirian); bermain -- basah, bermain api lecur, pb tiap pekerjaan atau usaha ada susahnya;
Asam 1 n pohon yg besar batangnya, daunnya kecil-kecil, buahnya berpolong-polong, dan masam rasanya; Tamarindus indica; 2 n a Kim zat yg dapat memberikan proton; b zat yg dapat membentuk ikatan kovalen dng menerima sepasangan elektron; 3 a masam spt rasa cuka (buah mangga muda dsb): -- benar limau ini; 4 a ki tidak cerah; cemberut; masam: mukanya -- saja sejak pagi; 5 n buah asam; -- di darat, ikan di laut (garam di laut -- di gunung) bertemu dl belanga, pb laki-laki dan perempuan kalau jodoh bertemu juga akhirnya; bagai melihat -- , pb ingin sekali; kelihatan -- kelatnya, pb kelihatan sifatnya yg kurang baik; sudah se -- segaramnya, pb sudah tidak ada celanya (tt pekerjaan, perbuatan); tahu -- garamnya, pb tahu seluk-beluknya (baik-buruknya); -- alginat karbohidrat dr ganggang laut yg dipakai dl pembuatan es krim; -- amino Kim asam organik yg mengandung paling sedikit satu gugusan amino (NH2) dan paling sedikit satu gugusan karboksil (COOH) atau turunannya, merupakan molekul dasar yg diikat satu sama lain melalui ikatan peptida dl pembentukan molekul protein yg lebih besar; -- amino aromatik Kim asam amino yg mengandung lingkar benzena; -- amino esensial asam amino yg tidak dapat disentesis dl tubuh manusia, tetapi diperlukan oleh manusia, msl triptofan; -- arang Kim gas tidak berbau, merupakan persenyawaan zat asam dan zat arang; CO2; -- aromatik Kim senyawa organik rantai tertutup spt kumpulan benzena yg mengandung gugus asam karboksilat; -- asetat Kim asam berupa zat cair tanpa warna dan berbau sangit (sangat penting dl teknik industri, antara lain sbg bahan untuk pembuatan aseton dan selulosa asetat); asam cuka; CH3COOH; -- asetilsalisilat Kim hablur tanpa warna, banyak digunakan dl bentuk tablet sbg analgesik dan antipiretik; aspirin; C9H8O4; -- askorbat Far vitamin yg larut dl air, terdapat dl jeruk, tomat, arbei, dan buah-buahan serta sayuran; vitamin C; -- belerang Kim persenyawaan zat air, belerang, dan zat asam; H2SO4; --

Sumber Asri Lubai


Nama Desa Sumber Asri ”bahasa Lubai : Duson Mulan Bagos” .

Nama ini dimaksudkan oleh para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai setelah menjadi Desa difinitif, maka masyarakat yang berdomisili disini mendapatkan keindahan dalam tatanan kehidupan masyarakatnya. Desa ini menjadi Sumber kehidupan dari masyarakat yang berdomisili disini dan selalu bahagia karena desanya indah atau asri.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Sum·ber n 1 tempat keluar (air atau zat cair); sumur: ia mengambil air di --; di laut sekitar pulau itu ditemukan -- minyak; 2 asal (dl berbagai arti): ia berusaha mendekati dan menemukan -- bunyi yg memesonanya; kabar itu didapatnya dr -- yg boleh dipercaya; -- belajar orang yg dapat dijadikan tempat bertanya tt berbagai pengetahuan; -- bunyi tempat asal bunyi; -- daya 1 faktor produksi terdiri atas tanah, tenaga kerja, dan modal yg dipakai dl kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang jasa, serta mendistribusikannya; 2 bahan atau keadaan yg dapat digunakan manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya; 3 segala sesuatu, baik yg berwujud maupun yg tidak berwujud, yg digunakan untuk mencapai hasil, msl peralatan, sediaan, waktu, dan tenaga; -- daya alam potensi alam yg dapat dikembangkan untuk proses produksi; -- daya manusia potensi manusia yg dapat dikembangkan untuk proses produksi; -- daya mineral kekayaan mineral yg ada di alam; -- hukum segala sesuatu yg berupa tulisan, dokumen, naskah, dsb yg digunakan oleh suatu bangsa sbg pedoman hidupnya pd masa tertentu; -- hukum internasional 1 perjanjian internasional; 2 kebiasaan internasional; 3 asas umum dr hukum yg diakui oleh bangsa yg beradab; 4 putusan hakim dan ajaran para sarjana hukum internasional yg ternama mengenai peristiwa tertentu dl hubungan internasional; -- infeksi Bio 1 pusat penyebaran kuman penyakit; 2 tumbuhan atau hewan yg menderita penyakit dan dapat menjadi sumber kuman penyakit yg sewaktu-waktu dapat menyebar ke tempat lain;
As·ri a indah dan sedap dipandang mata: pertamanan itu menambah -- nya kota; ke·as·ri·an n keindahan dan kesedapan pemandangan

Karang Sari Lubai

Nama Desa Karang Sari ”bahasa Lubai : Duson Karang Sari” .

Nama ini dimaksudkan oleh para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang dihuni oleh penduduknya yang mempunyai keteguhan hati laksana Batu Karang, yang mempunyai tatanan masyarakat yang baik baik laksana taman sari bungga. Nama ini mungkin juga di adopsi dari asal usul masyarakatnya sebelum mereka berdomisili disini.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Ka·rang n 1 batu kapur di laut yg terjadi dr zat yg dikeluarkan oleh binatang kecil jenis anthozoa (tidak bertulang punggung); batuan organik sbg tempat tinggal binatang karang; koral; 2 pulau (gunung, batu) di laut yg terjadi dr tumpukan karang yg sudah membatu; 3 tumbuhan laut yg menyerupai atau spt karang;
Ka·rang v, me·nga·rang v 1 menyusun, merangkai bunga dsb: ada perlombaan ~ bunga; 2 mencocokkan atau mengikat permata dan intan: pandai emas itu sedang ~ intan pd cincin; 3 menulis dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak, dsb: ia sedang sibuk ~ buku cerita kanak-kanak; siapa yg ~ lagu dan syair yg berjudul “Damai tapi Gersang”?; ka·rang, pe·ka·rang·an n 1 tanah sekitar rumah; halaman rumah: tiba-tiba kedengaran suara mobil berhenti di ~ rumah; 2 tanah yg disiapkan untuk tempat tinggal: kami sudah mempunyai ~ untuk mendirikan rumah

Sa·ri n pakaian wanita tanpa jahitan, panjangnya 5—7 m, terlilit rapi, ujung yg satu menutup tubuh, ujung yg lain disampirkan di pundak dan terjuntai di dada n 1 isi utama (dr suatu benda); pati: -- buah-buahan; -- makanan; 2 pokok isi (karangan, berita, dsb); bagian terpenting (tt pelajaran dsb); ikhtisar (dr uraian, pidato, dsb): -- berita sepekan; 3 butir-butir pd bunga yg mengandung sel jantan (sbg alat pembiakan bagi tumbuh-tumbuhan), spt serbuk sari; sa·ri kl n bunga: taman --sa·ri Jk n, sa·ri-sa·ri n tiap-tiap hari; saban sari: tidak spt -- nya, tidak spt setiap hari; tidak spt biasanya; luar biasa, sa·ri n pakaian wanita tanpa jahitan, panjangnya 5—7 m, terlilit rapi, ujung yg satu menutup tubuh, ujung yg lain disampirkan di pundak dan terjuntai di dada.

Jumat, 07 Agustus 2009

Karang Mulia Lubai

Nama Desa Karang Mulia ”bahasa Lubai : Duson Karang Mulie” .

Nama ini dimaksudkan oleh para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang dihuni oleh penduduknya yang mempunyai keteguhan hati laksana Batu Karang, yang berakhlak mulia atau nama ini di adopsi dari asal usul masyarakatnya sebelum mereka berdomisdi berada disini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Ka·rang n 1 batu kapur di laut yg terjadi dr zat yg dikeluarkan oleh binatang kecil jenis anthozoa (tidak bertulang punggung); batuan organik sbg tempat tinggal binatang karang; koral; 2 pulau (gunung, batu) di laut yg terjadi dr tumpukan karang yg sudah membatu; 3 tumbuhan laut yg menyerupai atau spt karang;
Ka·rang v, me·nga·rang v 1 menyusun, merangkai bunga dsb: ada perlombaan ~ bunga; 2 mencocokkan atau mengikat permata dan intan: pandai emas itu sedang ~ intan pd cincin; 3 menulis dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak, dsb: ia sedang sibuk ~ buku cerita kanak-kanak; siapa yg ~ lagu dan syair yg berjudul “Damai tapi Gersang”?; ka·rang, pe·ka·rang·an n 1 tanah sekitar rumah; halaman rumah: tiba-tiba kedengaran suara mobil berhenti di ~ rumah; 2 tanah yg disiapkan untuk tempat tinggal: kami sudah mempunyai ~ untuk mendirikan rumah

Mu·lia a 1 tinggi (tt kedudukan, pangkat, martabat), tertinggi, terhormat: yg - para duta besar negara sahabat; 2 luhur (budi dsb); baik budi (hati dsb): sangat -- hatinya; 3 bermutu tinggi; berharga (tt logam, msl emas, perak, dsb): logam --; hendak -- bertabur urai, pb jika orang ingin mendapatkan kemuliaan atau ingin mulia di mata orang lain, hendaklah berani mengeluarkan uang, jangan kikir; me·mu·li·a·kan v menganggap (memandang) mulia; (sangat) menghormat; menjunjung tinggi: kita wajib - nama orang tua kita; - perintah Tuhan; ter·mu·lia a paling mulia; paling dimuliakan: dialah yg - dr segala hamba raja; mem·per·mu·lia v menjadikan lebih mulia: kehalusan budi pekerti akan - kedudukannya di masyarakat; pe·mu·lia n 1 orang yg memuliakan; 2 orang yg membuat (menjadikan) sesuatu bermutu lebih tinggi;

Sumber Mulia Lubai


Nama Desa Sumber Mulia ”bahasa Lubai : Duson Sumber Mulie” .

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang, para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang dihuni oleh penduduknya yang mempunyai pendapatan mampu untuk mendukung kehidupan yang mulia, atau nama ini di adopsi dari asal usul masyarakatnya sebelum berdomisli disini.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Sum·ber n 1 tempat keluar (air atau zat cair); sumur: ia mengambil air di --; di laut sekitar pulau itu ditemukan -- minyak; 2 asal (dl berbagai arti): ia berusaha mendekati dan menemukan -- bunyi yg memesonanya; kabar itu didapatnya dr -- yg boleh dipercaya; -- belajar orang yg dapat dijadikan tempat bertanya tt berbagai pengetahuan; -- bunyi tempat asal bunyi; -- daya 1 faktor produksi terdiri atas tanah, tenaga kerja, dan modal yg dipakai dl kegiatan ekonomi untuk menghasilkan barang jasa, serta mendistribusikannya; 2 bahan atau keadaan yg dapat digunakan manusia untuk memenuhi keperluan hidupnya; 3 segala sesuatu, baik yg berwujud maupun yg tidak berwujud, yg digunakan untuk mencapai hasil, msl peralatan, sediaan, waktu, dan tenaga; -- daya alam potensi alam yg dapat dikembangkan untuk proses produksi; -- daya manusia potensi manusia yg dapat dikembangkan untuk proses produksi; -- daya mineral kekayaan mineral yg ada di alam; -- hukum segala sesuatu yg berupa tulisan, dokumen, naskah, dsb yg digunakan oleh suatu bangsa sbg pedoman hidupnya pd masa tertentu; -- hukum internasional 1 perjanjian internasional; 2 kebiasaan internasional; 3 asas umum dr hukum yg diakui oleh bangsa yg beradab; 4 putusan hakim dan ajaran para sarjana hukum internasional yg ternama mengenai peristiwa tertentu dl hubungan internasional; -- infeksi Bio 1 pusat penyebaran kuman penyakit; 2 tumbuhan atau hewan yg menderita penyakit dan dapat menjadi sumber kuman penyakit yg sewaktu-waktu dapat menyebar ke tempat lain;
Mu·lia a 1 tinggi (tt kedudukan, pangkat, martabat), tertinggi, terhormat: yg - para duta besar negara sahabat; 2 luhur (budi dsb); baik budi (hati dsb): sangat -- hatinya; 3 bermutu tinggi; berharga (tt logam, msl emas, perak, dsb): logam --; hendak -- bertabur urai, pb jika orang ingin mendapatkan kemuliaan atau ingin mulia di mata orang lain, hendaklah berani mengeluarkan uang, jangan kikir; me·mu·li·a·kan v menganggap (memandang) mulia; (sangat) menghormat; menjunjung tinggi: kita wajib - nama orang tua kita; - perintah Tuhan; ter·mu·lia a paling mulia; paling dimuliakan: dialah yg - dr segala hamba raja; mem·per·mu·lia v menjadikan lebih mulia: kehalusan budi pekerti akan - kedudukannya di masyarakat; pe·mu·lia n 1 orang yg memuliakan; 2 orang yg membuat (menjadikan) sesuatu bermutu lebih tinggi;

Mekar Jaya Lubai


Nama Desa Mekar Jaya ”bahasa Lubai : Duson Mekar Jaye” .

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang, para tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang dihuni oleh penduduknya yang laksana bunga sedang mekar nan indah dipandang mata, jaya selalu kehidupan masyarakatnya. Dengar maksud kata Mekar untuk mengingatkan pada generasi selanjut bahwa ini merupakan hasil dari pemekaran desa di Kecamatan Lubai. Pe·me·kar·an adalah proses, cara, perbuatan menjadikan bertambah besar.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Me·kar v 1 (mulai) berkembang; menjadi terbuka; mengurai: mawar itu -- disinari matahari pagi; mayang --; 2 menjadi besar dan gembung; menjadi banyak: adonan roti ini telah --; 3 menjadi bertambah luas (besar, ramai, bagus, dsb): jalan sudah makin besar, kota juga tambah --; 4 ki (mulai) timbul dan berkembang: di hatinya mulai -- perasaan cinta; ber·me·kar·an a banyak yg mekar: bunga yg menjadi ajang perburuan para pendaki itu - pd bulan Agustus; me·me·kar·kan v menjadikan mekar (berkembang, bertambah besar, luas, dsb): rencana untuk - wilayah kota ke selatan dan ke barat; pe·me·kar·an n proses, cara, perbuatan menjadikan bertambah besar (luas, banyak, lebar, dsb): - lahan persawahan dilakukan dng membuat sawah-sawah baru di bekas tanah tegalan.

Ja·ya a selalu berhasil; sukses; hebat; -- kawijayan Jw ilmu (pengetahuan) tt cara-cara memperoleh kemenangan dl menghadapi lawan atau musuh (dl pertempuran, perkelahian, dsb); ber·ja·ya v berhasil; beruntung; menang; mencapai kemegahan (kebesaran): pulang dng tiada ~; ke·ber·ja·ya·an n perihal berjaya: kesejahteraan anak masa kini merupakan penentu ~ bangsa di kemudian hari; men·ja·ya·kan v menyebabkan jaya (berbahagia, berhasil, dsb); ke·ja·ya·an n 1 kemegahan; kebesaran; kemasyhuran; 2 keadaan yg mapan dan menguntungkan (baik dl segi materi maupun jiwa)

Lubai Persada

Nama Desa Lubai Persada ”bahasa Lubai : Duson Lubai Persada” .

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang atau tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai walapun ini baru akan tetapi mempunyai wilayah yang diakui keradaannya oleh masyarakat yang tinggal di Desa-desa di sepanjang aliran sungai Lubai. Desa-desa tua seperti : desa Tanjung Kemala yang merupakan paling hilir sungai Lubai sampai dengan Desa Karang Agung yang merupakan paling hulu sungai Lubai, yang merupakan cikal bakal desa-desa di sepanjang sungai Lubai.

Kata persada sering diucapkan masyarakat, tapi sangat sedikit yang memahami artinya. Misal Persada Nusantara, Bakhti Persada.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Per·sa·da kl n 1 lantai yg lebih tinggi atau bertangga, tempat duduk orang besar (raja dsb): 2 taman tempat bersenang-senang; pancapersada; 3 tempat (gedung, istana, dsb); -- tanah air tanah tumpah darah; ibu pertiwi

Lubai Makmur

Nama Desa Lubai Makmur ”bahasa Lubai : Duson Lubai Makmor”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang atau tokoh yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Kecamatan Lubai ini, menjadi tempat tinggal masyarakat penuh dengan kesejahteraan, sehingga hidupnya makmur. Karena kalau sudah makmur pasti sejahtera, dan tidak mungkin sejahtera kalau tidak makmur.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Lubai tidak ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Lubai adalah sebuah nama Sungai yang terletak di Kecamatan Lubai Kabupaten Muara Enim Provinsi Sumatera Selatan.

Mak·mur a 1 banyak hasil: Karawang dahulu dikenal sbg daerah -- beras; 2 banyak penduduk dan sejahtera: pembangunan menuju masyarakat yg adil dan --; 3 serba kecukupan; tidak kekurangan: hidupnya sudah --; me·mak·mur·kan v membuat (menyebabkan, menjadikan) makmur: perluasan daerah pertanian itu akan - kehidupan petani; ke·mak·mur·an n keadaan makmur: kita harus mengubah kemiskinan menjadi -; - nasional 1 semua harta milik dan kekayaan potensi yg dimiliki negara untuk keperluan seluruh rakyat; 2 keadaan kehidupan negara yg rakyatnya mendapat kebahagiaan jasmani dan rohani akibat terpenuhi kebutuhannya;

Suka Merindu

Nama Desa Suka Merindu ”bahasa Lubai : Duson Suke Merindu”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang senang menerima para pendatang. Karena keramah tamahan penduduk di Desa ini, maka para tamu yang data akan selalu terkenang kebaikannya atau Suka Merindu. Dahulu desa merupakan bagian Marga Rambang Kapak tenggah II.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Su·ka 1 a berkeadaan senang (girang): sahabat dl -- dan duka; 2 a girang hati; senang hati: sekalian bantuan dan sokongan disambut dng -- hati; 3 v mau; sudi; rela: ia tidak -- membayar sekian; datanglah kalau Tuan --; kalau sudah -- sama -- , biarlah kawin saja; 4 v senang; gemar: neneknya -- benar makan sirih; memang banyak orang -- menonton bioskop; ada yg -- daging dan ada juga yg -- ikan laut; 5 v menaruh simpati; setuju: orang itu akan saya suruh bekerja di sini, itu pun kalau Tuan --; tiada seorang pun -- kepadanya; 6 v menaruh kasih; kasih sayang; cinta: rasanya jarang ibu yg tidak -- kpd anaknya; 7 a cak mudah sekali ...; kerap kali ...: memang dia -- lupa; pensil semacam ini -- patah; -- duka perasaan senang dan sedih dl hati; -- tak -- 1 segan-segan; 2 tidak peduli; tidak acuh; 3 apa boleh buat; mau tidak mau; su·ka-su·ka adv cak 1 semau: - aku, mau pergi atau tidak; 2 kadang-kadang: - sopirnya berdasi dan tangan kirinya menyorongkan telepon ke telinga; ber·su·ka-su·ka v 1 berfoya-foya; 2 bergembira; beramai-ramai; bergembira ria; ber·su·ka-su·ka·an v 1 bersuka-suka; 2 bercinta-cintaan; berkendak;
Rin·du a 1 sangat ingin dan berharap benar thd sesuatu: ia -- akan kemerdekaan; 2 memiliki keinginan yg kuat untuk bertemu (hendak pulang ke kampung halaman) : ia -- benar kpd anak-istrinya; -- jadi batasnya maka manis tak jadi cuka, pb jangan terlalu mesra bergaul dng seseorang sebab pergaulan spt itu kerap kali menimbulkan dendam kesumat; -- dendam sangat berahi; menaruh cintakasih (kpd): -- dendam yg telah sekian lama terpendam dl hati; -- rawan rindu dendam; Me·rin·du v 1 menjadi rindu; menanggung rindu: kelakuannya spt orang sedang ~; 2 bernyanyi krn rindu; me·rin·du·kan v 1 sangat menginginkan dan mengharapkan (hendak bertemu): dia ~ kekasihnya; 2 menaruh cinta kpd; 3 membangkitkan rasa rindu: nyanyian yg merawankan dan ~ hati;

Lecah Lubai


Nama Desa Lecah “bahasa Lubai : Duson Lecah”

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang Subur, pada pendirian desa ini kondisi tanah yang berari atau berlumpur. Karena desa ini sesungguhnya merupakan pengembangan dari suatu tempat tinggal para petani Karet disini, yang berasal dari beberapa desa sipanjang aliran sungai Lubai.

Kata lecah artinya Basah menurut kamus bahasa Melayu. Lecak artinya lembek/cair lengket. Bahasa Lubai Licak adalah tanah yang mirip dengan lumpur, biasa tanah kering setelah ditimpa hujan akan menjadi Licak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Le·cah n tanah yg berair dan berlumpur; tempat becek; sawah; dr -- lari ke duri, pb menghindarkan diri dr kesukaran, mendapat yg lebih besar; ber·le·cah v bermain-main dng lecah; bekerja dl lecah; ter·le·cah v 1 terperosok ke dl lecah; 2 kena lumpur; 3 ki mendapat nama buruk.

Prabu Menang Lubai


Nama Desa Prabu Menang “bahasa Lubai : Duson Permenang”

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang selalu unggul atau selalu memproleh kemenangan. Dalam bahasa Jawa Prabu artinya : Raja. Prabu Menang artinya Raja Menang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia sebagai berikut :
Pra·bu kl n (sebutan) raja: sang -- , baginda; ke·pra·bu·an n tanda-tanda kebesaran (kerajaan)
Me·nang v 1 dapat mengalahkan (musuh, lawan, saingan); unggul: dl perang selalu ada yg kalah dan ada yg --; 2 meraih (mendapat) hasil (perolehan) krn dapat mengalahkan lawan (saingan): berapa rupiah kamu -- semalam?; 3 lulus (dl ujian): dl ujian susulan dia --; 4 mendapat hadiah (dl undian, sayembara, dsb): ia -- lotere; yg -- sayembara karang-mengarang mendapat piagam; 5 dapat melebihi; lebih dari: bukan krn -- pandai, tetapi memang nasib baik; ia bukan -- kaya melainkan -- pangkat; 6 dinyatakan benar (dl perkara): terdakwa itu -- perkara; alah main, -- sarak, pb biarpun kalah main asal kehormatan diri terpelihara; alah -- tak tahu, bersorak boleh, pb perihal seseorang yg tidak ikut campur dl dua pihak yg sedang berbantah, tetapi hanya ikut mengejek pihak yg telah tentu kalah; siapa lama tahan, -- , pb apabila bekerja dng tekun dan rajin, tidak tergesa-gesa, lama-kelamaan kerja yg sulit sekali pun akan selesai juga dng baik;

Karang Agung Lubai

Nama Desa Karang Agung “bahasa Lubai : Duson Karang Agong”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang mempunyai sifat keagungan. Kata karang dapat berarti rangkai, ataupun sebuah batu yang biasanya ada di Laut. Kata Agung artinya besar dan mulia. Karena pada kenyataan di Desa ini merupakan tempat tinggalnya Depati atau Pasirah yang menjadi kepala Pemerintahan Marga Lubai Suku II, sangat tepat jika Desa ini disebut Karang Agung.

Saat ini berdasarkan tinjauan dari beberapa aspek Desa Karang Agung dapat diusulkan menjadi ibukota Kabupaten Lubai Rambang. Tidak berlebihan kiranya penulis mengimpikan terbentuk nya sebuah Kabupaten baru di Sumatera Selatan, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten induk Muara Enim. Hal ini dapat saja terwujud sekiranya beberapa komponen yang terkait seperti Kepala Pemerintahan Kabupaten Muara Enim, Para Anggota Legistif Muara Enim, Camat Lubai, Camat Rambang, para tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh adat, tokoh pemuda, cerdik pandai dari kedua Kecamatan ini bersatu padu membentuk Panitia Pembentukan Kabupaten Lubai Rambang. Tidak ada yang tidak mungkin, jika niat pembentukan Kabupaten ini untuk kebaikan masyarakat semua.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia sebagai berikut :
Ka·rang n 1 batu kapur di laut yg terjadi dr zat yg dikeluarkan oleh binatang kecil jenis anthozoa (tidak bertulang punggung); batuan organik sbg tempat tinggal binatang karang; koral; 2 pulau (gunung, batu) di laut yg terjadi dr tumpukan karang yg sudah membatu; 3 tumbuhan laut yg menyerupai atau spt karang;
Ka·rang v, me·nga·rang v 1 menyusun, merangkai bunga dsb: ada perlombaan ~ bunga; 2 mencocokkan atau mengikat permata dan intan: pandai emas itu sedang ~ intan pd cincin; 3 menulis dan menyusun sebuah cerita, buku, sajak, dsb: ia sedang sibuk ~ buku cerita kanak-kanak; siapa yg ~ lagu dan syair yg berjudul “Damai tapi Gersang”?;
ka·rang, pe·ka·rang·an n 1 tanah sekitar rumah; halaman rumah: tiba-tiba kedengaran suara mobil berhenti di ~ rumah; 2 tanah yg disiapkan untuk tempat tinggal: kami sudah mempunyai ~ untuk mendirikan rumah
Agung a besar; mulia; luhur: kita kedatangan tamu -- dr negara tetangga; meng·a·gung·kan v memuliakan; meluhurkan: ~ Tuhan adalah kewajiban umat beragama; ~ diri memegahkan diri; membanggakan diri; ke·a·gung·an n kemuliaan; kebesaran: marilah kita memuji ~ Tuhan

Pagar Dewa Lubai

Nama Desa Pagar Dewa “bahasa Lubai : Duson Pagar Diwe”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang diliputi oleh sifat ke Dewa-an. Dengan harapan masyarakat yang berdomisili didesa ini mempunyai sifat baik dan santun, karena sifat para Dewa itu baik. Kata Dewa ini menggunakan bahasa sangsekerta atau bahasa melayu kuno, dalam ajaran islam kata Dewa tidak dikenal namun dikenal sebutan Malaikat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Pa·gar n yg digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dsb: -- bambu; -- kawat; -- makan tanaman, pb orang yg merusakkan barang yg diamanatkan (dititipkan) kepadanya; -- adat ketentuan (peraturan) adat; hukum adat; adat istiadat; -- ayu barisan penerima tamu yg terdiri atas wanita-wanita cantik; -- bambu pagar dr tanaman bambu (buluh); -- betis penjagaan yg ketat; -- bulan lingkungan (awan) yg tampak mengelilingi bulan; kandang bulan; -- buluh pagar bambu; -- desa pembantu penjaga keamanan desa (di Jawa Barat); -- duri pagar dr kawat berduri; -- hidup pagar dr pohon-pohonan yg rendah; -- lambung kubu; -- langkan tembok penutup lorong yg dibangun di sekeliling candi; -- negeri pelindung negeri; -- sua pagar sbg sekatan di antara kedua ekor kerbau yg akan diadu; ber·pa·gar v 1 memakai pagar; ada pagarnya; 2 dipagari: halaman rumahnya ~ besi; me·ma·gar v 1 memasang (membuat) pagar; 2 spt pagar; ~ diri bagai aur, pb hanya memikirkan diri sendiri; ~ diri menjaga diri;
De·wa /déwa/ kl n 1 roh yg dianggap atau dipercayai sbg manusia halus yg berkuasa atas alam dan manusia: Batara Surya ialah -- matahari; 2 ki orang atau sesuatu yg sangat dipuja; 3 Bl gelar kasta (golongan) Brahmana; men·de·wa·kan v menganggap (memuja) sbg dewa: pengikut aliran kepercayaan itu ~ pemimpinnya;

Aur Lubai

Nama Desa Aur “bahasa Lubai : Duson Aor”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah sebuah Desa di Lubai yang dekat Sungai, atau ketika pendiriannya desa ini banyak pohon Bambu. Aur dalam bahasa Sunda adalah sungai. Jika kata Aur ditambah huruf a menjadi Aura, maka menurut ilmu Fengshui adalah suatu energi yang tidak nampak dengan mata, namun ada dialam ini. Aura terdiri dari Aura Positif dan Aura Negatif. Jika kata Aur huruf u diganti menjadi i, maka akan dibaca menjadi Air.

Legenda mencatat bahwa di Desa Aur merupakan tempat terdamparnya salah seorang dari Tujuh bersaudara Puyang Serampu, yaitu dikenal dengan sebutan Puyang Terbang menggunakan Jubah, dengan legenda pohon Bunga Tanjung berbunga emas. Saat ini Jubah peninggalan Puyang Terbang Berjubah maseh dapat di lihat dengan mata, jika kita berkunjung di Desa Aur. Dan bagi hendak berziarah ke makam ini makam/kuburannya terletak dipinggir sungai Lubai, Desa Aur.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Aur n buluh; bambu; -- ditanam, betung tumbuh, pb mendapat untung (laba) banyak; -- ditarik sungsang, pb banyak sangkut-pautnya sehingga susah dilaksanakan; sbg -- dng rebung, pb sangat karib (tt persahabatan);
Aur, meng·a·ur v menyebarkan (benih, bunga, dsb); menabur

Beringin Lubai


Nama Desa Beringin “bahasa Lubai : Duson Beringen”.

Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di Lubai yang ketika awal pendiriannya banyak ditumbuhi pohon Beringin menjadi abadi, sehingga dikenang oleh cucunya. Saat ini pohon Beringin masih terdapat di Desa ini. Pohon Beringin merupakan tempat berteduh yang nyaman dan tempat para Burung-burung hinggap mencari makan. Sungguh tepat nenek moyang memberikan nama ini, karena Desa Beringin merupakan sebuah Desa yang akhirnya menjadi Ibukota kecamatan Lubai. Ibukota kecamatan dapat diartikan suatu tempat pusat pemerintah yang menaungi beberapa desa-desa Lubai disekitarnya.

Puyang terkenal di Desa ini adalah Puyang Serampu 7 (Tujoh) yang pada masa hidupnya mempunyai kesaktian atau digdaya. Puyang Serampu Tujuh terdiri dari 6 (enam) Saudar) laki-laki dan seorang prempuan. (Sumber informasi : Lamtoni Zainal Abidin, yang saat ini bermukim di Kota Bandar Lampung).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Be·ri·ngin n pohon besar yg tingginya mencapai 20—35 m, berakar tunggang, dr cabang-cabangnya keluar akar gantung, daunnya kecil berbentuk bulat telur yg meruncing ke ujung dan rimbun dng tajuk berbentuk payung, buahnya kecil, bulat, dng permukaan halus; Ficus benjamina; -- putih beringin yg daunnya berwarna putih bercak-bercak hijau kecil, pembiakannya dng biji atau cangkok; Ficus radicant vaiegata

Kota Baru Lubai


Nama Desa Kota Baru “bahasa Lubai : Duson Kute Anyar”.
Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di Lubai yang baru didirikan saat itu menjadi kotanya diantara desa-desa yang berada di sepanjan sungai Lubai. Nama Kota Baru ini bermakna bahwa walapun Kota Baru hanya sebuah Desa tapi masyarakat nya telah berinteraksi sosial gaya perkotaan. Saat ini dapat kita perhatikan cara berpakaian, cara komunikasi di Desa Kota Baru Lubai, mirip sekali dengan masyarakat yang berdomisili di perkotaan.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Ko·ta n 1 daerah permukiman yg terdiri atas bangunan rumah yg merupakan kesatuan tempat tinggal dr berbagai lapisan masyarakat; 2 Dem daerah pemusatan penduduk dng kepadatan tinggi serta fasilitas modern dan sebagian besar penduduknya bekerja di luar pertanian; 3 dinding (tembok) yg mengelilingi tempat pertahanan;
Ba·ru 1 a belum pernah ada (dilihat) sebelumnya: tidak jauh dr dusun itu terdapat sebuah pabrik--; 2 a belum pernah didengar (ada) sebelumnya: pd hari ini tidak ada berita -- mengenai perubahan kabinet; 3 a belum lama selesai (dibuat, diberikan): ia membeli rumah -- di kompleks perumahan itu; 4 a belum lama dibeli (dimiliki); belum pernah dipakai: pagi tadi ia memakai baju --; kemarin ia mengendarai sepeda -- hadiah dr orang tuanya; 5 a segar (belum lama dipetik atau ditangkap): buah-buahan ini masih --; ikan ini masih --; 6 a belum lama menikah: dua sejoli itu adalah pengantin --; 7 a belum lama bekerja: dia adalah pegawai -- di kantor ini; 8 a awal: selamat dan sejahteralah mulai tahun -- 2000 ini; 9 a modern: zaman --; sastra --; 10 adv belum lama antaranya: mereka berdua -- saja berada di sini; dia -- saja pergi; 11 adv kemudian; setelah itu: setelah diingatkan berkali-kali, -- ia sadar akan kesalahannya; sesudah dipukul -- ia mengaku; 12 adv cak sedang; lagi: ayah -- tidur; jangan ribut saja adikmu -- tidur;

Kamis, 06 Agustus 2009

Pagar Gunung Lubai


Nama Desa Pagar Gunung “bahasa Lubai : Duson Pagar Gunong”.
Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di Lubai yang satu ini mempunyai kekuatan pertahanan atau menjadi pagar bagi desa-desa di sepanjang sungai Lubai secara alami yaitu berupa Gunung. Walaupun secara kasat mata di desa ini tidak terlihat keberadaan Gunung, karena desa ini didirikan pada dataran rendah yang rata. Nama desa Pagar Gunung, menurut informasi dari sahabat penulis yang merupakan putera Lahat bahwa disana ada nama Desa yang sama. Bahkan sahabat penulis ini menyatakan bahwa asal usul orang baca Jeme Lubay adalah merupakan migrasi zaman dahulu kala dari orang baca Jeme Gumay Talang. Bahkan penulis diundang untuk berkunjung kesana dan berziarah kepada salah satu makam Puyang yang terletak di Gumay Talang tersebut. Bahkan dikatakan ciri -ciri dari keturunan Puyang itu antara lain tidak boleh makan sejenis sayuran mirip Labu. Wallahu aklam bi showab.
Saat ini pada Desa Pagar Gunung, terdapat Stasiun Kereta Api yang merupakan pintu gerbang masuk ke desa-desa Lubai lainnya. Suatu kebanggaan bagi masyarakat Lubai bahwa Nama Pagar Gunung telah dikenal dari zaman Kolonial Belanda dahulu dengan sebutan Pager Goenoeng.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indoensia sebagai berikut :
Pa·gar n yg digunakan untuk membatasi (mengelilingi, menyekat) pekarangan, tanah, rumah, kebun, dsb: -- bambu; -- kawat; -- makan tanaman, pb orang yg merusakkan barang yg diamanatkan (dititipkan) kepadanya; -- adat ketentuan (peraturan) adat; hukum adat; adat istiadat; -- ayu barisan penerima tamu yg terdiri atas wanita-wanita cantik; -- bambu pagar dr tanaman bambu (buluh); -- betis penjagaan yg ketat; -- bulan lingkungan (awan) yg tampak mengelilingi bulan; kandang bulan; -- buluh pagar bambu; -- desa pembantu penjaga keamanan desa (di Jawa Barat); -- duri pagar dr kawat berduri; -- hidup pagar dr pohon-pohonan yg rendah; -- lambung kubu; -- langkan tembok penutup lorong yg dibangun di sekeliling candi; -- negeri pelindung negeri; -- sua pagar sbg sekatan di antara kedua ekor kerbau yg akan diadu; ber·pa·gar v 1 memakai pagar; ada pagarnya; 2 dipagari: halaman rumahnya ~ besi; me·ma·gar v 1 memasang (membuat) pagar; 2 spt pagar; ~ diri bagai aur, pb hanya memikirkan diri sendiri; ~ diri menjaga diri;
Gu·nung n bukit yg sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dr 600 m); -- juga yg dilejang panas, pb 1 biasanya orang yg sudah kaya yg mendapat untung atau bertambah kaya; 2 orang yg telah berbuat kejahatan; ke -- tak dapat angin, pb akan mendapat keuntungan tetapi gagal; rendah -- tinggi harapan, pb harapan yg sangat besar; tak akan (takkan) lari -- dikejar, hilang kabut tampaklah dia, pb jangan tergesa-gesa dl mengerjakan (mencapai) sesuatu yg telah pasti;

Kurungan Jiwa Lubai


Nama Desa Kurungan Jiwa “bahasa Lubai : Duson Kurungan Jiwe”.
Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di Lubai yang satu ini, mempunyai kekuatan bela diri yang tinggi atau dapat melindungi Jiwa. Ini dapat dibuktikan bahwa masyarakat Kurungan Jiwa banyak yang mempunyai cerita atau legenda bahwa nenek moyangnya merupakan orang-orang yang sakti atau digdaya, mempunyai kekuatan bela diri yang mempuni dapat menunduk binatang buas seperti Harimau dan Ular. Dilampung terdapat nama desa yang mirip dengan nama Desa Kurungan Jiwa, yaitu Desa Kurungan Nyawa terletak di Kota Bandar Lampung.
Berdasarkan garis keturunan dari pihak Ayah penulis merupakan zuriyat dari Puyang yang terkenal di di Desa Kurungan Jiwa dengan sebutan Puyang Riamad bin Nata Kerti bergelar Lebi atau Lebai. Dalam kamus bahasa Indonesia kata Lebai berarti pendakwah agama islam. Beberapa benda peninggalan puyang Lebi yang saat ini masih dapat di lihat oleh anak keturunannya, sebatang pohon Bunga Tanjung yang buahnya enak dimakan, Tanah pekarangan Masjid di Desa Kurungan Jiwa. Puyang Lebi mempunyai saudara laki-laki yang Rentamad dan Desamad. Mereka tiga bersaudara ini merupakan anak dari Puyang Nata Kerti bergelar Gembeling Sakti yang mempunyai ayah Kencana Dewa bergelar Jaga Niti. Catatan : Kedua desa itu dimerger menjadi Jiwa Baru.
Berdasarkan garis keturunan dari Ibu penulis merupakan zuriyat dari Puyang Tande. Kakek ku Wakif bin Kenaraf... s.d. Puyang Tande.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Ku·rung·an n 1 tempat untuk mengurung; sangkar; kandang burung; 2 penjara: ia meringkuk dl ~ selama 12 tahun; 3 ruang yg diberi berdinding; bilik (di perahu): ~ di haluan kapal; 4 Ikn wadah pemiaraan ikan yg biasanya diletakkan di sungai (danau dsb)
Ji·wa n 1 roh manusia (yg ada di dl tubuh dan menyebabkan seseorang hidup); nyawa; 2 seluruh kehidupan batin manusia (yg terjadi dr perasaan, pikiran, angan-angan, dsb): ia berusaha menyelami -- istrinya; 3 sesuatu atau orang yg utama dan menjadi sumber tenaga dan semangat: beliau dipandang sbg -- pergerakan rakyat; 4 isi (maksud) yg sebenarnya; arti (maksud) yg tersirat (dl perkataan, perjanjian, dsb): tindakannya tidak sesuai dng -- undang-undang; 5 ki buah hati; kekasih; 6 orang (dl perhitungan penduduk): penduduk Jakarta telah melebihi 10 juta --; 7 daya hidup orang atau makhluk hidup lainnya; -- bergantung di ujung rambut, pb selalu gelisah krn tidak tentu nasibnya;

Baru Lubai


Nama Desa Baru Lubai “bahasa Lubai : Duson Anyar Lubai”.
Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di Lubai yang baru didirikan ini namanya abadi yakni suatu desa Baru di Lubai. Konon menurut cerita rakyat duson Baru Lubai bahwa dulu duson itu terletak diarah ulu dari duson Kurungan Jiwa. Namun karena dengan adanya beberapa hal kepentingan pada saat itu, maka Duson Baru dipindahkan kearah hilir dari duson Kurungan Jiwa. Desa ini merupakan tempat tinggal Depati Marga Lubai Suku I dengan sebutan Pangeran. Pangeran yang terakhir adalah Pangeran Kori. Depati atau Adipati berasal dari bahasa sansekerta yang berari raja yang agung.
Berdasarkan garis keturunan dari pihak Ayah bahwa nenek Sedunah anak Mahayah binti Renani bin Depati Subot. Nenek Sedunah merupakan cicit dari Depati Subot atau disebut dengan Puyang Depati Subot, beliau pernah menjadi kepala pemerintahan di Marga Lubai Suku I.
Dalam Kamus Besasr Bahasa Indonesia sebagai berikut :
Ba·ru 1 a belum pernah ada (dilihat) sebelumnya: tidak jauh dr dusun itu terdapat sebuah pabrik --; 2 a belum pernah didengar (ada) sebelumnya: pd hari ini tidak ada berita -- mengenai perubahan kabinet; 3 a belum lama selesai (dibuat, diberikan): ia membeli rumah -- di kompleks perumahan itu; 4 a belum lama dibeli (dimiliki); belum pernah dipakai: pagi tadi ia memakai baju --; kemarin ia mengendarai sepeda -- hadiah dr orang tuanya; 5 a segar (belum lama dipetik atau ditangkap): buah-buahan ini masih --; ikan ini masih --; 6 a belum lama menikah: dua sejoli itu adalah pengantin --; 7 a belum lama bekerja: dia adalah pegawai -- di kantor ini; 8 a awal: selamat dan sejahteralah mulai tahun -- 2000 ini; 9 a modern: zaman --; sastra --; 10 adv belum lama antaranya: mereka berdua -- saja berada di sini; dia -- saja pergi; 11 adv kemudian; setelah itu: setelah diingatkan berkali-kali, -- ia sadar akan kesalahannya; sesudah dipukul -- ia mengaku; 12 adv cak sedang; lagi: ayah -- tidur; jangan ribut saja adikmu -- tidur;
Ba·ru n pohon yg serat kulitnya dapat dibuat tali; Hisbiscus tiliaceus;
Lubai adalah lu pron cak kamu, ba·yi n anak yg belum lama lahir;

Gunung Raja Lubai

Nama Desa Gunung Raja “bahasa Lubai : Duson Gunong Raje”.
Nama ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di dekat aliran sungai Lubai ini menjadi tempat tinggal tertinggi para kepala Marga, seakan dia disamakan posisinya Raja. Gunung Raja dapat juga bermakna tempat yang dianggap terhormat pada zaman pemerintahan di Lubai menggunakan sistem marga. Dahulu marga Lubai Suku I dikepalai oleh Sarkowi berdomisili di Desa Gunung Raja.
Kata Gunung berarti suatu tanah yang menjulang tinggi dari dataran tanah lainnya. Raja berarti kepala pemerintahan dari suatu kerajaan yang system monarki. Suatu kerajaan yang roda pemerintahan menggunakan syariat Islam kepala pemerintahannya menggunakan sebutan Sulthon.
Berdasarkan garis keturunan dari pihak Ibu Nenek penulis adalah Mastinah anak keturunan Kerio/Kepala Duson Gunung Raja yaitu Puyang Rudin atau disebut dengan Puyang Kerieudin atau oleh cucunye disebut PuyangKerudin. Berdasarkan garis keturunan dari pihak Ayah Nenek penulis adalah Sedunah anak keturunan Puyang Abdurrahman dari Desa Gunung Raja.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Gu·nung
n bukit yg sangat besar dan tinggi (biasanya tingginya lebih dr 600 m);
-- juga yg dilejang panas, pb 1 biasanya orang yg sudah kaya yg mendapat untung atau bertambah kaya; 2 orang yg telah berbuat kejahatan; ke -- tak dapat angin, pb akan mendapat keuntungan tetapi gagal; rendah -- tinggi harapan, pb harapan yg sangat besar; tak akan (takkan) lari -- dikejar, hilang kabut tampaklah dia, pb jangan tergesa-gesa dl mengerjakan (mencapai) sesuatu yg telah pasti;

Ra·ja n 1 penguasa tertinggi pd suatu kerajaan (biasanya diperoleh sbg warisan); orang yg mengepalai dan memerintah suatu bangsa atau negara: negara kerajaan diperintah oleh seorang --; 2 kepala daerah istimewa; kepala suku; sultan; 3 sebutan untuk penguasa tertinggi dr suatu kerajaan; 4 orang yg besar kekuasaannya (pengaruhnya) dl suatu lingkungan (perusahaan): -- minyak; 5 orang yg mempunyai keistimewaan khusus (spt sifat, kepandaian, kelicikan): -- kumis; -- copet; 6 binatang (jin dsb) yg dianggap berkuasa thd sesamanya: -- buaya; -- jin; 7 buah catur yg terpenting; 8 kartu (truf) yg bergambar raja;
-- adil -- disembah, -- lalim -- disanggah, pb raja yg adil disayangi dan raja yg zalim dibenci; tiada -- menolak sembah, pb tidak ada orang yg tidak suka dihormati;

Tanjung Kemala Lubai

Nama Desa Tanjung Kemala “bahasa Lubai : Duson Tanjong Kemale”.

Nama desa ini dimaksudkan oleh nenek moyang yang mendirikannya adalah agar Desa di paling hilir sungai Lubai ini menjadi Kemale dari desa-desa di sepanjang aliran Sungai Lubai. Kemala dapat diartinya Mahkota Raja atau Ratu, ataupun sesuatu Desa yang menjadi kebanggaan para penduduknya dan Pemerintahannya. Tanjung Kemala dapat di artikan Mahkotanya desa-desa di sepanjang sungai Lubai. Terbukti di Desa ini merupakan tempat tinggal Pasirah Marga Lubai Suku I terakhir sebelum marga ditiadakan dan diganti dengan sebutan Desa.

Kamus Besar Bahasa Indonesia sebagai berikut :

Tanjung n tanah (ujung) atau pegunungan yg menganjur ke laut (ke danau); Tan·jung n 1 pohon yg bunganya berwarna putih kekuning-kuningan dan berbau harum, biasa dipakai untuk hiasan sanggul; Mimusops elengi; 2 bunga tanjung; Tan·jung n tumbuhan paku yg tumbuh di rawa-rawa; Diplazium esculentum; Tan·jung n bintang perak atau emas tanda pangkat (disematkan pd polet atau leher baju).

Kemala berarti batu yang indah dan bercahaya (berasal dr binatang), banyak khasiatnya dan mengandung kesaktian, contoh Golok Kemala Hijau, Naga Kemala Putih.

Selasa, 04 Agustus 2009

Kebon Balam di Lubai


Nenek Moyangku di Lubai membudidayakan Karet dalam bahasa Lubai Balam sejak berabad-abda silam. Mereka membudidayakan tanaman ini masih sangat sederhana belum ada sentuhan teknologi modern. Pada saat itu bibit langsung diambil dari buah biji karet tanpa melihat apakah itu bibit unggul yaitu yang banyak getahnya dan nenek moyangku belum menggenal istilah persemaian bibit. Cara penanaman Karet tidak menggunakan alat seperti Cangkul dan Tembilang, melainkan biji buah karet langsung ditanam dengan cara melubangi tanah menggunakan kayu yang telah dibuat runcing dalam bahasa Lubai Tugal.
Namun demikian aku merasa bangga kepada nenek moyangku, walaupun mereka belum mengenal teknologi modern tapi sikap prilaku mereka sangat terpuji. Nenek moyangku dulu membuat kesepakatan yang tidak tertulis yaitu tidak boleh mengambil/membuka lahan pertanian orang lain tanpa izin dari yang menguasai tanah tersebut. Cara membuka lahan pertanian dikenal dengan ladang berpindah, tapi mereka tidak merusak lingkungan alam sekitar. Mereka sangat faham bahwa ada generasi sesudah mereka yang akan hidup yang tergantung dengan alam sekitar tanah Lubai.
Kebanggaan yang lain terhadap nenek moyangku adalah mereka mampu mewariskan tanah kepada anak ketutunannya yang luasnya mencapai ribuan hektar. Seperti tanah Puyang Nata Kerti yang bergelar Gembeling Sakti menguasai tanah di Desa Kurungan Jiwa dan Baru Lubai "Jiwa Baru" mencapai ribuan hektar. Nenek moyangku mampu memberikan peninggalan kebon buah-buahan seperti : Cempedak, Durian. Ada lagi yang sangat terkesan ketika aku waktu kecil dan masih berada di Desa tempat kelahiranku yaitu adanya pohon buah tanaman Puyang yang dapat diambil siapapun dari generasi ketutunan puyang tersebut. Sebagai contoh adanya pohon Manggis dalam bahasa Lubai disebut Manggus yang ditanam oleh Puyang Riamad bergelar Lebi seorang tokoh agama islam, aku sebagai anak keturuannya dapat menggambil buahnya.
Kondisi saat ini di Desa Kurungan Jiwa dan Baru Lubai "Jiwa Baru" (penulis lebih senang desa ini dikembalikan kesemula karena ada historisnya) sangat jauh berbeda dengan kondisi sewaktu aku masih kecil.
Pohon buah peninggalan para nenek moyang saat ini, hampir dikatakan sudah tidak ada lagi. Tanah yang luasnya ribuan hektar telah berpindah tangan hak pengelola kepada investor. Sewaktu ketika masyarakat ditempat kelahiranku akan jadi penonton ditempat kelahirannya sendiri.
Dari perekonomian masyarakat tempat kelahiranku saat ini, memang mungking lebih baik daripada generasi sebelumnya. Akan tetapi sebagian masyarakat sudah berani mengambil alih hak pengelolaan tanah orang lain dengan alasan tanah tersebut sebagai lahan tidur. Tanah warisan dari Ibuku Nafisyah binti Wakif seluas 100 (seratus) hektar telah diambil alih oleh masyarakat tanpa izin lisan ataupun tertulis dari kami sebagai anak keturunannya. Saat ini didunia mungkin kami kalah, tapi ingat sesudah dunia ada akhirat. Di akhirat semua amal perbuatan akan dipertanggungjawabkan. Jika diasumsikan setiap hehtar menghasilkan 50 kg perhari maka tanah seluas itu akan menghasilkan getah karet sebanyak 50 x 100 = 5.000 kg. Jika masyarakat itu telah menikmati hasil dari tanah warisan ini puluhan tahun yang lalu berapa ton getah karet yang telah mereka dapatkan. Mungkin saja mereka lupa bahwa disamping diri mereka ada wakil Allah yaitu para Malaikat yang mencatat amal perbuatan mereka setiap hari yang akan melaporkan kepada Allah Azza wajalla. Bukankah Nabi Muhammad saw telah bersabda bahwa makanan yang didapat dari perbuataan haram, maka ganjarannya adalah neraka . Na'u zubilllah min zalik.
Pola Pertanian Karet sudah menggunakan teknologi modern, yaitu :
Persemaian Perkecambahan
- Benih disemai di bedengan dengan lebar 1-1,2 m, panjang sesuai tempat.
- Di atas bedengan dihamparkan pasir halus setebal 5-7 cm.
- Bedengan dinaungi jerami/daun-daun setinggi 1 m di sisi timur dan 80 cm di sisi Barat.
- Jarak tanam benih 1-2 cm.
- Siram benih secara teratur.

Persemaian Bibit
- Tanah dicangkul sedalam 60-75 cm, lalu dihaluskan dan diratakan.
- Buat bedengan setinggi 20 cm dan parit antar bedengan sedalam 50 cm.
- Benih yang berkecambah ditanam dengan jarak 40x40x60 cm
- Penyiraman dilakukan secara teratur
- Pemupukan :

Pembuatan Kebun Entres
- Cara penanaman dan pemeliharaan seperti menanam bibit okulasi.
- Bibit yang digunakan dapat berbentuk bibit stump atau bibit polybag.
- Jarak tanam 1,0 m x 1,0 m.
- Pemupukan :

Pengolahan Media Tanam
a. Tanah dibongkar dengan cangkul / traktor, dan bersihkan dari sisa akar.
b. Pembuatan teras untuk tanah dengan kemiringan > 10 derajat, lebar teras min 1,5
c. Pembuatan rorak (kotak kayu panjang) pada tanah landai.
d. Pembuatan saluran penguras dan saluran pinggiran jalan

Teknik Penanaman

Penentuan Pola Tanaman
0-3 th tumpangsari dengan padi gogo, jagung, kedele
> 3 th tumpangsari dengan jahe atau kapulogo

Pembuatan Lubang Tanam
Jarak tanam 7 x 3 m (476 bibit/ha)
- okulasi stump mini 60 x 60 x 60 cm
- okulasi stump tinggi 80 x 80 x 80 cm

Cara Penanaman
- Masukkan bibit dan plastiknya dalam lubang tanah dan biarkan 2-3 minggu.
- Buka kantong plastik, tebarkan pupuk


Bandar Lampung, 6 Agustus 2009
Amarmakruf Silahturrahim
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

Ape sebab padi melayang padi melayang kerene hampe Artinya  Apa sebab kami merantau karena di kampung Baru Lubai tidak berguna